22. Please, stay with Naruto

3.4K 220 6
                                        

Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..

So, let's reading...

#................#

"Ayolah, kumohon makan, ya."

Naruto sedang membujuk Sasuke agar mengisi perutnya yang jelas kosong sejak kemarin, tapi dari awal Sasuke selalu menolak, bahkan dengan suara penuh emosi walau masih lirih.

"Kau, sudah aku bilang tidak! Biarkan saja aku mati! Lagi pula dengan aku mati, hidupmu akan lebih baik karena tidak perlu membiarkan penyesalan itu bertumpuk di pikiranmu!"

"Tu--tunggu, apa yang kau katakan?! Sasuke?!" kata Naruto mulai tak sabar, mencengkram bahu Sasuke yang duduk dengan punggung bersandar di kepala kasur.

"Sa--sakit, Naruto," Sasuke mengeluarkan ringisan.

"Ucapkan lagi!"

"Na--Naruto?"

"Sasuke, Apa kau juga mau meninggalkan ku? Kau juga mau mati seperti mereka?" Naruto menatap dengan pandangan terluka, ucapan singkat Sasuke membuka kembali semua luka kehilangan yang dia tahan mati-matian selama ini.

Dia--

Dia akan ditinggalkan lagi, ya? Sasuke bahkan ingin pergi darinya. Naruto tau, sadar sekali kalau perbuatan nya pada Sasuke tak dapat dibenarkan. Terlampau salah.

Naruto tetap bertahan dalam bayang-bayang Neji saat bersama Sasuke, jarang memberi perhatian yang seharusnya dia beri, hanya mendatangi di waktu-waktu yang singkat, lalu justru malah memperkosa pemuda itu, saat dia ingin memulai semua kembali dari nol.

Tapi, apa dia tidak akan bisa mendapat kesempatan kedua? Kali ini, Sasuke yang akan meninggalkan nya. Dan catat, lelaki itu ingin pergi dengan kesadaran penuhnya sendiri.

Apa--

Apa, dia, memang harus terus sendiri?

"Na--Naru," Sasuke berucap terbata.

Lalu cengkraman tangan Naruto terlepas, dia berdiri untuk kemudian berbalik badan tanpa bicara lagi, dia berjalan keluar dari kamar tersebut dengan tatapan Sasuke yang masih tak bisa percaya.

Sasuke tetap diam di tempat, tidak pernah tau kalau tumpahan air mata benar-benar mengalir dari si pemuda pirang sejak mereka tak lagi berhadapan.

~~

Hari telah malam, hewan-hewan nokturnal sudah berkeliaran sejak delapan jam lalu. Bulan purnama nampak bertahta dengan gagah di singgasana nya, dikelilingi ribuan bintang sebagai para punggawa dan jenderal pelindungnya.

Sejak pagi, Naruto belum juga kembali.

Sasuke tahu dengan jelas kalau lelaki pirang itu sangat kuat, tapi ada sedikit kekhawatiran yang dia rasa saat si pirang tak kunjung datang.

Juga entah kenapa, dia malah rindu.

Biasanya setiap menjelang tengah malam begini, Naruto akan datang ke kamarnya untuk menemani Sasuke, memastikan pemuda Uchiha itu baik-baik saja.

Sasuke meringkuk ke dalam selimut, ingatannya berkali-kali yang memutar memori tadi pagi, saat Naruto menatapnya dengan pandangan penuh kesedihan dan luka.

Apa yang sebenarnya diinginkan si putra Yondaime?? Bukankah kehadiran nya disini hanya membebani lelaki itu karena secara sadar tak sadar dipaksa melupakan sosok yang sempat menjadi kekasihnya? Bukankah akan lebih baik dia benar-benar menjauh dari hidup Naruto?

Tapi kenapa respon Naruto seperti itu?

Tatapan penuh kesedihan itu begitu mengganggu pikiran Sasuke.

Hingga keesokan harinya, Naruto tidak juga muncul.

Yang terlihat justru Sakura, membawakan sarapan sambil bertanya dimana Naruto, tentu saja hanya di jawab dengan sebuah gelengan pelan oleh Sasuke karena dia juga tidak tau.

Si gadis bersurai pink gulali mengerutkan kening. Dimana Naruto?? Dia mendapati selembar surat di depan rumahnya tadi pagi-pagi sekali, yang kertasnya telah lembab seperti disimpan cukup lama dan terbasahi oleh embun. Juga, tulisan di dalamnya jelas adalah hasil tangan Naruto, memintanya menjaga Sasuke. Tapi ke mana manusia kepala durian tersebut??

"Bisa kau ceritakan padaku detailnya, Sasuke-kun? Bagaimana mungkin Naruto akan pergi di saat begini? Aku sudah bilang pada si Baka itu agar menjagamu. Tapi kenapa dia malah memintaku melakukannya? Pasti ada yang terjadi diantara kalian, kan?" Sakura bertanya sambil berspekulasi.

Sasuke menatap si gadis ragu, tapi akhirnya dia bercerita walau hanya garis besar dan secara singkat.

"Lalu, apa yang terjadi sebelumnya sampai kau bisa sakit, Sasuke-kun? Tolong katakan padaku."

Setelah berkali-kali ditanya dengan nada semu memaksa, Sasuke baru menceritakan kejadian saat Naruto pulang sambil mabuk. Sakura jelas sekali terkejut, dia tidak menyangka hal tersebut lah yang terjadi pada keduanya.

Ingin sekali dia memukul kepala durian si pirang sekuat tenaga sampai mental ke bulan! Tapi lelaki itu entah kemana sekarang.

"Sasuke-kun," panggil Sakura lembut, tangannya menyentuh pelan pergelangan tangan si pemuda Uchiha, "aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, aku marah sekali saat mendengar penjelasan mu. Bocah pirang itu memang terlampau bodoh untuk memahami hatinya sendiri, dia terlalu terpaku pada masa lalu yang jelas tak akan bisa kembali lagi. Tapi bolehkah aku minta satu hal padamu?" tanyanya lirih.

Sasuke yang sudah akan menarik tangannya karena canggung dan tidak tahu harus apa, menatap Sakura bingung.

"Tolong, tetaplah bersama Naruto. Dia mungkin sudah menyakitimu. Tapi berada di posisi Naruto juga bukan hal yang mudah."

Semarah-marahnya Sakura pada putra Yondaime yang wajahnya adalah jiplakan sang ibu, Sakura yang paling tau dengan jelas semua kesedihan Naruto selama ini. Kecuali kan soal kekasih Naruto yang tak ada seorang pun tau. Karena permasalahan yang satu itu benar-benar ditutup rapat oleh si pirang.

"Ya, aku tau itu. Karena itulah, aku lebih ingin mati. Dengan begitu Naruto tidak harus menanggung--"

#.......#

Nah loh, doubdate Lin hari ini, huahahaha. Mana nulis nya sambil ditemenin si ayang item berbulu yang lagi asik jilat jilat kakiii di my dada..

Vote and comment please 💗

Please, Stay With Me Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang