Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..
So, let's reading...
#…………….#
Beruntung sekali Naruto tidak perlu mencari kedai terlalu jauh. Karena ternyata ada kedai baru dekat jalan menuju rumah Sakura yang katanya baru dibuka seminggu yang lalu. Kedai yang terlalu rajin karena bahkan sudah dibuka sejak ayam belum berkokok. Kedai itu menjual beberapa macam makanan ringan dan berat, membuat Naruto bisa memilih varian tanpa harus pergi dari satu toko ke toko yang lain.
Naruto keluar dari kedai tersebut dengan tangan membawa empat bungkusan di tangan. Yang satu berisi tempura ikan dan daging. Yang lain berisi karaage, ayam goreng yang dibalut dengan tepung renyah. Satu lagi terdapat shabu-shabu, yang berisi irisan daging gurita, tahu, jamur, dan sayuran, dengan kaldu kara miso. Dan yang terakhir adalah gyoza, yang berbentuk seperti pangsit.
Bukan shabu-shabu narkoboy, ya😫
Beberapa blok jaraknya dari kedai tersebut, rumah Sakura sudah terpampang.
Naruto mengetuk pintu depan rumah bernuansa kehijauan itu. Taman kecil di samping rumah membuat suasana asri terasa tenang, apalagi di pagi hari yang masih sangat damai seperti sekarang ini.
Satu-satunya gadis di team 7 itu muncul dari balik pintu dengan piyama pink yang masih terpasang di badan, tapi nampak jelas kalau si gadis tidak berwajah sayu seperti baru bangun tidur.
"Naruto?!" Sakura terkejut mendapati lelaki pirang yang sudah mendekam dalam rumah nya tanpa keluar sedikitpun itu, kini berdiri dihadapan nya dengan tangan penuh barang belanjaan.
"Apa aku bermimpi?" Sakura yang masih keheranan, mengucek matanya, berfikir bayangan pemuda itu akan segera hilang.
"Apa sangat aneh melihatku lagi, Sakura Nara??"
"Ck, marga ku masih Haruno, bodoh! Jangan asal mengganti nya!" Sakura berseru ketus, dia bergerak membuka pintu semakin lebar, tanpa kata meminta pemuda itu agar masuk ke dalam rumah nya.
"Tidak usah, aku tidak akan lama. Aku hanya mau minta agar kau ke rumah ku sebelum ke rumah sakit."
"Ada apa? Kau sakit?"
"Bukan, tapi Sasuke terlihat aneh."
"Sasuke? Aneh kenapa?"
"Setiap kali ku tanya, dia tidak menjawab."
Sakura diam mendengar nya, kening nya berkerut heran, "mungkin dia hanya sedang malas bicara, kaget karena tiba-tiba menikah? Lagian kan, kau tau sendiri kalau pemuda itu memang tidak banyak omong?"
"Ini berbeda, Pinky. Dia tidak pernah bicara sejak kemarin. Bahkan saat membuka mulut saja, tidak ada suara yang keluar."
"Kenapa tidak kau bawa kemarin langsung ke rumah sakit?"
"Ck, kalau bisa sudah ku lakukan. Tapi tetua desa yang minta dibunuh itu mengultimatum."
"Ya sudah, aku akan datang. Tapi nanti dulu, aku sedang masak kau tau. Sebentar lagi waktunya sarapan, dan si pemalas itu akan segera datang."
Naruto hanya mengangguk, langsung berbalik tanpa bicara apapun lagi. Tapi sebelum dia melanjutkan langkah, suara tanya Sakura membuatnya mematung sebentar.
"Tebak lah, dia sudah tiada. Dan memang kepergian nya yang membuat ku berubah."
'Siapa yang dimaksud Shika, Naruto?'
~~
"Aku tidak mengerti, ini terlalu rumit."
Sakura berseru bingung, cahaya kehijauan yang keluar dari tangan nya telah menghilang setelah dia memeriksa kondisi pita suara Sasuke.
Sasuke sendiri masih terbaring di atas ranjang, tapi tatapan mata nya mengikuti setiap gerakan tangan Sakura yang mengeluarkan chakra medis. Hingga begitu selesai, dia mengalihkan pandangan ke arah langit-langit kamar.
"Apa?" Naruto bertanya dengan alis terangkat, kalau si iryo-nin terbaik setelah Tsunade itu juga bingung, bagiamana dengan nya yang hanya belajar medis sedikit??
"Bagaimana menjelaskan nya, ya?" Dia bingung sendiri, "intinya, memang benar ada yang salah dari pita suara nya. Seperti nya pita suara Sasuke rusak. Itu lah kenapa dia tidak mengeluarkan suara, karena memang dia tidak bisa. Tapi aku bisa mendeteksi bekas racun mematikan disana. Hanya saja racunnya seperti sudah menyerap menjadi satu dengan si alat bicara itu. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk itu. Salah-salah yang ada Sasuke betulan tidak akan bisa bicara lagi selama nya."
Terdengar desahan frustasi dari Sakura, "aku bahkan tidak yakin Tsunade-sama bisa mengatasi nya. Ini benar-benar terlalu rumit."
Naruto, yang sedang mendekap bahu Sasuke, terdiam mendengar nya. Hal itu bukan sesuatu yang ingin dia dengar. Bagaimana bisa pemuda sekuat Sasuke mengalami hal seperti itu? Pita suara rusak? Racun? Jelas-jelas Sasuke kebal dari racun, lelaki itu sendiri yang dulu memberitahu nya.
"Dan Nar, kau tau? Bukan hanya pita suara nya saja yang rusak. Tapi aliran chakra nya juga. Bukan tersendat atau terputus, tapi benar-benar rusak. Tadi aku sempat mengalirkan chakra medis kesana, tapi chakra ku malah ditolak."
Mata Naruto membelalak terkejut, bagaimana bisa?!
"Lalu bagaimana?" tanya Naruto tanpa ekspresi yang jelas, tapi dia sungguh khawatir.
"Kau ingat saat kau menyembuhkan mata Sensei yang hilang?"
Pertanyaan Sakura mengingatkan Naruto pada perang. Ya, dia ingat itu.
"Lalu?"
"Mungkin kau bisa coba dengan chakra mu, Nar. Karena seperti nya kerusakan yang terjadi pada suara dan chakra Sasuke cukup berat. Dan aku tidak bisa melakukan nya. Kalau itu kau, mungkin bisa."
Naruto tidak menjawab, dia justru mengalihkan pandangan nya pada pemuda yang sejak tadi hanya mengedipkan mata itu.
"Aku sebenarnya ingin tinggal lebih lama, tapi tidak bisa, giliran shift ku sudah akan datang. Kau tau, aku selalu dilarang untuk mengunjungi Sasuke dalam penjara. Makanya aku berharap kau segera keluar rumah. Tapi ternyata kau juga sedang sibuk sendiri."
Naruto hanya mengangguk.
Tak lama kemudian, gadis pemilik rambut merah muda itu sudah pergi dari rumah Naruto, ke rumah sakit untuk kembali bekerja.
#.......#
Vote and comment please 💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Stay With Me
FanfictionSelepas perang dunia Shinobi yang keempat selesai, Naruto kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Hyuuga Neji. Tidak ada yang mengetahui, kalau sebenarnya dia dan Neji memiliki sebuah hubungan yang lebih tinggi dari sekadar teman belaka...
