Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..
So, let's reading...
#…………….#
"Sudah Sasu, biar aku yang kerjakan."
Sasuke yang hendak berdiri di depan wastafel dihalangi oleh Naruto.
"Naru!! Menyingkir dariku! Aku mau cuci piring," seru Sasuke kesal, netra kelamnya menatap Naruto dengan tatapan tajam.
Baru mau mengomel lagi, dia malah dibungkam. Wajah yang putih itu nampak dengan mudah berubah warna. Tipis, tapi tetap kentara.
"Hmph," Mata Sasuke terpejam.
Naruto menekan tengkuk si suami kecil, dan dalam ciuman tersebut tentu saja dominasi adalah miliknya. Lutut Sasuke terasa lemas, wajahnya semakin panas, pinggangnya agak ngilu karena bersandar ke pinggiran wastafel. Ia mencengkeram baju Naruto di bagian dada.
Naruto melepas ciumannya, mengangkat Sasuke yang terengah kehabisan nafas ke dalam gendongan ala bayi koala.
Dua belas kloning muncul.
"Kalian tau, kan."
"Ha'ik bos!"
"Nah, lihat kan, ada yang mengerjakan. Jadi sudah, kamu harus istirahat, tau!"
"Cih, pirang menjengkelkan!" Sasuke mendengus kesal.
"Aku tau aku tampan," Naruto berseru percaya diri, tersenyum tampan pada Sasuke.
Sasuke tadinya ingin berkata tidak, tapi dia jadinya hanya diam. Memang sih, si pirang betulan tampan. Tapi ingat ya, MASIH LEBIH TAMPAN SASUKE!!
Naruto akan berjalan pergi, tapi salah satu pirang menghentikannya, "taichou," serunya memelas pada aslinya.
"Apa?"
"Oh ayolah, kau mengerti."
Naruto memutar bola matanya dengan malas, "cepat!"
"Hehe, sankyu taichou!" seru para Bunshin kompak, tersenyum lebar. Satu persatu dari mereka mencium pipi Sasuke yang mendelikkan mata.
"Aw! Kenapa kau menggigit pipiku, Baka pirang?!"
Bunshin terakhir Naruto hanya nyengir, "gomen, habis pipimu kenyal seperti mochi, sih!" serunya semangat.
"Hoi! Kau curang!" teriak ke sebelas Bunshin bersamaan. Yang diteriaki tetap saja cengar-cengir.
"Haish, cepat kerjakan tugas kalian!" Naruto berseru kesal.
"Ha'ik boss!!" sahut mereka kompak, lagi.
"Yoshh! Ayo kerja!!"
Ke dua belas Bunshin Naruto berseru semangat, masing-masing berpencar. Ada yang langsung berkutat pada cucian piring, cucian baju, sapu, alat pel dan yang lain.
Sementara Naruto melanjutkan langkah yang tadi sempat terhenti. Tujuannya adalah pohon apel di taman belakang.
Pohon rindang itu nampak bercahaya, seberkas sinar lembut matahari pagi yang terasa hangat di kulit menerobos salah satu celah dedaunan.
Pada satu petak tanah yang sebelumnya penuh rerumputan, kini di atasnya tertanam bunga kecil cantik berbentuk kepingan salju. Sementara beberapa petak lain terlihat rapi dan telah disiangi.
Bayang-bayang daun pohon apel yang rindang menjadi tempat keduanya berlindung dari sinar ultraviolet yang semakin waktu meninggi pasti akan semakin terik.
Si pirang mengeluarkan tikar tipis dan futon yang lalu ia gelar di bawah pohon. Keduanya duduk nyaman dengan Naruto yang bersandar ke batang pohon dan Sasuke bertumpu pada Naruto. Tangan si pirang masuk menyusup ke dalam baju Sasuke, dan mengusap perut si raven yang terasa kencang.
"Uh Naru, geli," protes Sasuke.
Naruto hanya tertawa.
"Kenapa tertawa?!" Sasuke mendongak, melotot pada Naruto.
Bukannya takut, wajah Sasuke malah terlihat gemas. Naruto yang tidak mau suami kecilnya ngambek, mencium Sasuke yang masih melotot, tapi lama-kelamaan matanya menyayu. Sebelum ia kehabisan nafas, Naruto telah melepas tautan mereka dan membersihkan tetesan saliva disudut bibirnya. Saat itulah seberkas cahaya kemerahan keluar dari perut Naruto.
"Mau apa kau, Kuu?" tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangan.
"Ya apa lagi? Tentu saja aku mau apel!" seru Kurama mungil lalu loncat ke dahan yang dipenuhi apel-apel merah ranum. Mata bulat rubah mungil itu bersinar cerah. Apel-apel tersebut sangat menggoda iman!!
Dengan cepat dan mudah, dia memetik buah bertekstur lembut tersebut. Setiap ekornya menampung tiga buah apel, belum lagi kedua tangan mungilnya juga memeluk erat enam butir buah manis itu.
Naruto sih tidak terlalu peduli seberapa banyak yang diambil rubah kesayangannya, toh berapapun yang diambil, si maniak apel akan selalu menghabiskannya. Dia lebih fokus pada kekasih manisnya, sebab ia sedang mentransfer chakra pada Sasuke yang bersandar nyaman sambil melukis-lukis abstrak di dadanya.
"Bagaimana?"
"Heum, badanku terasa lebih ringan."
Naruto mengangguk, senyuman lebar juga terpatri di bibirnya. Keduanya sama-sama hanyut pada tatapan dalam yang mereka bagi, seolah menenggelamkan keduanya ke dalam perasaan bahagia tiada tara.
"Tatap-tatapan terus, kalian kira dunia ini milik berdua dan aku hanya ngontrak?!" ketus Kurama menghancurkan suasana.
Tatapan penuh cinta dua orang yang dulu adalah rival abadi itu membuat Kurama bergidik.
"Cih, dasar bola bulu pengganggu!" Naruto mendelik kepada si mungil.
Sasuke sendiri hanya berdehem, memalingkan wajah dari godaan datar si rubah mini, tentu dengan wajah merah matang nya.
Kurama hanya mengedikkan bahu sekilas dengan acuh, "salah sendiri aku dianggurkan," cueknya. "Untung Kurama-sama ini adalah makhluk berhati lembut dan rajin mengambil apel, jadi kau tidak ku sleding. Makanya kalau mau mesra-mesraan itu lihat situasi, ada orang lain ini."
"Loh, kau kan bukan orang," celetuk Sasuke.
"Lah, iya juga ya," kepala oranye si rubah naik turun mengiyakan. Betul juga, dia kan bukan orang.
Dengan santai dia loncat kembali, mendarat tepat di rambut jabrik Naruto.
#......#
Vote and comment please 💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Stay With Me
FanficSelepas perang dunia Shinobi yang keempat selesai, Naruto kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Hyuuga Neji. Tidak ada yang mengetahui, kalau sebenarnya dia dan Neji memiliki sebuah hubungan yang lebih tinggi dari sekadar teman belaka...
