Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan
cara vote dan komen, makasii 💙
.
.
.
Remaja itu berhasil melawan tiga kakak kelas
Kanza hanya dalam sekejap, dengan keahlian bela
diri yang ia punya. melihat remaja itu berhasil memukul
ketiga orang itu, sontak saja Kanza bersorak heboh.
"Hahaha mampus lo bertiga kalah!!
huhu cemen!!" Kanza berteriak meremehkan,
memberikan ibu jarinya yang terbalik, tidak lupa
menunjukkan wajah setengil mungkin membuat ketiga
orang itu hanya bisa menahan amarah. sedangkan remaja
yang menyelamatkan Kanza nampak gemas dibuatnya.
Rahang Mahesa kian mengeras, tak terima
Kanza terus saja meledeknya. ia hendak berdiri
dan memberikan pelajaran pada anak laki-laki itu,
tapi Kanza sudah lebih cepat bersembunyi dibelakang
tubuh remaja asing itu dengan kedua tangan menggenggam
erat ujung pakaiannya.
"Huwaa tolongin gue!" heboh nya panik, berlindung
dibelakang tubuh remaja tinggi nan atletis itu. Mahesa
mengepalkan tangannya kuat-kuat, tidak berani saat dia
ditatap tajam oleh remaja tersebut sehingga ia memutuskan
untuk segera pergi dari sana, tak lupa mengajak temannya.
"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Mahesa.
"Tapi tuh bocah gimana, Sa?" tanya
Galang tidak terima melepaskan Kanza begitu saja.
"Kita bisa urus dia di sekolah nanti" setelahnya
mereka bertiga pergi, meninggalkan Kanza dan remaja
asing itu berdua, di jalanan yang sepi.
Kanza menghela napas lega. "huh, akhirnya
mereka pergi juga. btw thanks ya lo udah mau
bantuin gue" ucap Kanza.
"Sebenernya gue bisa aja ngelawan mereka
sendirian. tapi karena hari ini gue lagi gak mau
buang-buang tenaga, jadinya gue minta tolong sama
lo deh. jadi lo jangan salah paham ya! ntar lo mikirnya
gue gak bisa bela diri lagi" tambah Kanza.
Remaja itu tidak membalas ucapan Kanza.
hanya ada keheningan membuat Kanza sedikit
gugup. ia berdeham singkat, menggaruk-garuk tengkuk
nya yang tidak gatal sama sekali.
"Njir, ngomong sama tembok" gumam nya
merasa tidak dihargai ucapannya sama sekali
tidak ditanggapi oleh remaja itu.
"Navarro" remaja itu memperkenalkan dirinya.
"Ha?"
"Navarro" ulang Navarro datar.
"Navarro? oh, itu nama lo?" Navarro hanya
berdeham singkat, menanggapi pertanyaan Kanza.
"Gue--"
"Kanza" potong Navarro, mengejutkan Kanza.
Kanza membelalakkan matanya tak percaya, menatap
horor Navarro. sontak ia langsung menjaga jarak dengan
remaja itu.
"What?! lo tau nama gue?! ko bisa? apa
jangan-jangan lo dukun ya?! hayo, ngaku lo!"
tuduh Kanza, mengundang tatapan tak habis pikir dari
Navarro. bisa-bisanya orang setampan dia dibilang dukun!
"Gue bukan dukun" bantah Navarro.
"Bohong lo! kalo lo bukan dukun, terus
lo apa dong? ko lo bisa tau nama gue?" Kanza
memincing tajam dengan tatapan penuh intimidasi.
dan ini untuk pertama kalinya Navarro mendapatkan
tatapan intimidasi dari orang selain keluarganya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
General FictionArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
