ARKANZA || 18

1.6K 81 6
                                        

- Ayo semuanya ramaikan cerita
Arkanza dengan vote dan komen kalian 💙 -

.
.
.

Sudah dua hari berlalu sejak malam itu.

Malam yang tidak dibicarakan siapa pun, tapi diam-diam mengubah sesuatu di dalam diri Kanza.

Tak ada yang tahu, bahkan Arkan
sekalipun—bahwa sejak malam itu, setiap
orang di mansion sudah tertidur, Kanza diam-diam
membuka buku belajar nya dengan kepingan rasa percaya
yang perlahan mulai tumbuh.

Ia tak mau ada yang tahu.

Bukan karena ingin memberi kejutan.
Bukan juga karena ingin membuktikan sesuatu.
Tapi karena ia belum siap. Belum cukup kuat untuk
memperlihatkan bahwa di balik gengsinya... ada niat
sungguhan untuk mencoba.

Lampu meja yang redup, setumpuk kertas coretan, dan jam dinding yang terus berdetak jadi teman malamnya.

Kalau ada yang tanya, mungkin Kanza pun tidak bisa menjelaskan kenapa ia melakukannya.

Mungkin karena ucapannya Arkan dan Shaka masih membekas terlalu dalam.

"Arkan cuma mau Kanza bangga sama dirinya sendiri…"

"Kalau kau takut gagal, itu wajar... tapi
jangan biarkan rasa takut itu menghentikan
langkahmu. Belajarlah lebih keras, bukan untuk
jadi sempurna, tapi supaya suatu hari nanti kau bisa
bilang ke dirimu sendiri bahwa kau pernah berjuang tanpa
menyerah, bahkan saat dunia meragukanmu."

Kanza memutar pensil di antara jari-jari,
matanya melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan
pukul 02.50. Ia menguap, tapi tidak berhenti menggoreskan
jawaban nya di atas kertas.

Semua soal yang dikerjakan, Kanza
sesuaikan dengan bagaimana cara Arkan
mengajarkan nya selama ini. Ya, meskipun
selama ini Kanza terlihat cuek dan tidak peduli
dengan semua penjelasan yang Arkan berikan, tapi
setidaknya ada sedikit-sedikit rumus yang ia ingat. Apalagi
Kanza sudah selesai mencatat semua rumus-rumus di buku
tulisnya. Jadi itu sangat membantu.

Salah satu soal ia kerjakan ulang tiga kali.
Salah. Ulangi lagi. Salah lagi. Tapi kali ini, ia tidak
mengeluarkan kata-kata mutiara nya. Tidak merobek
kertas, tidak melempar pensil.

Ia hanya menarik napas dalam, dan mencoba lagi. Kali ini
dengan kepala sedikit tertunduk... dan hati yang diam-diam
berbisik:

"Gue harus bisa."

-🦊-

Sekitar pukul setengah enam pagi, alarm berbunyi,
membangunkan seseorang yang tengah tertidur nyenyak
di balik selimut tebal yang menutupi hampir sebagian tubuh
kurus nya.

Arkan beranjak dari kasur tepat setelah
ia merenggangkan otot-ototnya. Lalu, berjalan
menuju kamar mandi, bersiap untuk berangkat ke
sekolah. Hampir lima belas menit di kamar mandi, ia
pun keluar dengan seragam sekolah yang sudah melekat di
tubuhnya.

Seperti biasa, sebelum keluar dari kamar,
Arkan selalu menyempatkan diri untuk bercermin.
Hanya sekedar memastikan apakah penampilan nya sudah
rapih atau belum. Di rasa sudah rapih, barulah ia membawa
kedua kakinya keluar dari kamar.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang