ARKANZA || 58

742 66 23
                                        

Tidak ada detak yang dapat ia rasakan, tidak ada terang maupun gelap yang dapat ia bedakan, dan tidak pula ada dingin atau hangat yang mampu ia kenali. Arkan berada di sebuah ruang yang tak dapat ia beri nama—tempat yang tidak mengenal waktu, tidak mengenal jarak, dan tak menyediakan penanda apa pun tentang keberadaan. Kesadarannya hadir tanpa tubuh yang utuh, tanpa pijakan, tanpa rangkaian ingatan yang lengkap. Segalanya terbungkus dalam kesunyian yang menggantung, bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang terasa seolah semesta sendiri sedang menahan napasnya.

Ia tidak mengetahui sudah berapa lama berada di dalam kekosongan itu. Atau mungkin, pertanyaan tentang durasi memang tidak pernah memiliki makna di sana. Tidak ada pergantian siang dan malam, tidak ada alur yang bergerak maju. Yang ada hanyalah kesadaran yang melayang, terombang-ambing di antara ada dan tiada, tanpa arah dan tanpa tujuan.

Kemudian, tanpa isyarat apa pun, kehampaan itu runtuh.

Arkan membuka matanya.

Cahaya sore menyambut pandangannya dengan lembut. Langit-langit rumah yang rapi dan terawat membentang di atasnya—kayu cokelat hangat dengan permukaan halus, memantulkan sinar matahari yang condong ke barat. Cahaya itu masuk melalui jendela samping, tidak menyilaukan, justru menghadirkan ketenangan yang asing namun terasa nyata. Napas Arkan tertahan sesaat. Dengan gerakan refleks, ia mengangkat tubuhnya setengah duduk, jantungnya berdegup lebih cepat, bukan semata karena takut, melainkan karena keterkejutan yang sulit ia pahami. Pandangannya bergerak perlahan, menyapu ruangan di sekelilingnya, seakan memastikan bahwa apa yang ia lihat bukan sekadar bayangan rapuh dalam pikirannya.

Ini… rumah.

Rumah lamanya.

Rumah yang selama ini hanya hadir sebagai serpihan ingatan, bukan sebagai tempat yang dapat ia datangi kembali.

Aroma kayu bersih bercampur wangi samar yang menenangkan menyusup ke inderanya, terasa begitu nyata hingga membuat kepalanya sedikit terasa ringan. Cahaya sore jatuh miring ke lantai yang bersih dan terawat, menciptakan bayangan panjang yang diam. Sofa di ruang tengah masih tampak kokoh, meja kecil berdiri rapi tanpa cela, dan tirai tipis bergoyang pelan tersentuh angin. Segalanya terlihat utuh, seolah rumah itu terpelihara di satu titik waktu—tidak menua, tidak berubah, dan tidak menunjukkan jejak tahun-tahun yang telah berlalu.

Kaget.

Itulah perasaan pertama yang benar-benar dapat ia kenali.

"Kenapa Arkan di sini…?" gumamnya lirih. Ia tidak yakin apakah suara itu benar-benar terucap, atau hanya bergaung di dalam kesadarannya sendiri.

Ia tidak mengingat apa pun sebelum momen ini. Tidak ada peristiwa yang dapat ia rangkai, tidak ada sebab yang mampu ia hubungkan dengan keadaan sekarang. Yang ia ketahui hanyalah, sebelumnya—jika konsep sebelumnya masih dapat diterapkan—ia berada dalam kehampaan tanpa bentuk. Kini, tanpa transisi dan tanpa penjelasan, kesadarannya berada di sebuah ruang yang seharusnya hanya hidup di masa lalu.

Arkan menurunkan kakinya ke lantai. Kehangatan yang menyentuh telapak kakinya terasa nyata, terlalu solid untuk dianggap ilusi. Tangannya bergetar ketika menyentuh dinding di sampingnya, merasakan permukaan cat yang halus dan terawat. Sensasi itu menekan dadanya, menghadirkan rasa sesak yang datang tanpa peringatan. Ingatan-ingatan lama berdesakan di kepalanya, muncul samar dan saling tumpang tindih, namun selalu berhenti tepat sebelum dapat ia genggam dengan jelas.

Ia tidak mengetahui hari apa ini. Tidak mengetahui pukul berapa. Bahkan, kata “sekarang” pun terasa rapuh maknanya.

Arkan tetap terduduk di sana, menggantung di dalam sore yang diam—di antara kesadaran akan kehadirannya dan ketidaktahuan akan alasan di baliknya.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang