Navarro kembali dari kantin rumah sakit dengan langkah yang semula ringan. Namun begitu memasuki ruang rawat inap VIP, ia segera menangkap perubahan suasana yang tak biasa. Pandangannya tertumbuk pada Arkan yang duduk di atas ranjang dengan bahu bergetar pelan. Wajah itu tertunduk, dan air mata jatuh tanpa upaya untuk diseka.
"Arkan? Kamu kenapa? Kok nangis?" tanya Navarro panik begitu melangkah masuk.
Kekhawatiran membuatnya mengabaikan barang yang dibawanya. Kantong plastik dari kantin langsung ia letakkan di atas meja tanpa diperiksa lagi isinya. Ia menghampiri ranjang dan duduk di tepiannya dengan tergesa.
Tatapannya tertuju pada wajah Arkan yang basah oleh air mata. Rasa cemas perlahan memenuhi dadanya. Satu tangan diletakkan di pundak sang adik, memberi sentuhan yang menenangkan, sementara tangan lainnya mengusap pipi Arkan dengan hati-hati.
"Jawab kakak, Arkan. Kamu kenapa? Jangan buat kakak khawatir" ucapnya lagi. Nada suaranya tertahan, tetapi kegelisahan di matanya terlihat jelas.
Arkan tidak menjawab. Isaknya teredam, napasnya tersendat. Matanya yang memerah hanya menatap kosong ke arah selimut di pangkuannya.
"Ada yang sakit? Iya?" suara Navarro meninggi oleh cemas. "Kakak panggilin dokter, ya?"
Tanpa menunggu respons, ia berdiri dan melangkah menuju pintu. Dalam benaknya terlintas berbagai kemungkinan—kondisi Arkan yang kembali memburuk, atau rasa sakit yang tak sanggup diungkapkan.
Namun saat tangannya menyentuh gagang pintu, langkahnya terhenti.
"Kenapa kalian ngelakuin ini ke Arkan?"
Suara itu terdengar lirih, terputus oleh sesenggukan.
Navarro membeku. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, sementara tubuhnya perlahan berbalik. Keningnya mengernyit, tak segera memahami arah pertanyaan itu.
Arkan menatapnya dengan mata yang sarat air. Ada kekecewaan yang nyata di sana, sesuatu yang tak berkaitan dengan rasa sakit fisik.
Pada saat yang sama, pintu kamar mandi terbuka.
Zavier keluar sambil mengeringkan tangannya dengan tisu. Ia berhenti sejenak ketika menangkap ketegangan yang memenuhi ruangan. Pandangannya bergantian antara Navarro dan Arkan.
"Maksud kamu apa, Arkan? Kakak nggak ngerti" tanya Navarro pelan, kini berdiri kembali di dekat ranjang.
Ia menatap adiknya, menunggu penjelasan yang tak kunjung terucap. Zavier tetap diam, tetapi firasatnya perlahan berubah ketika menyadari bahwa tangisan itu bukan sekadar reaksi atas rasa sakit.
Keheningan mengisi ruang rawat. Udara terasa berat, seolah menekan percakapan yang belum selesai.
Arkan menelan ludah dengan susah payah. Dadanya naik turun tidak teratur.
"Kalian bilang Kanza baik-baik aja" ucapnya serak. "Kalian juga bilang, nggak ada yang perlu dikhawatirin lagi… tapi itu nggak bener, kan?"
Navarro hendak menjawab, tetapi suaranya tak keluar. Ia memahami bahwa pertanyaan itu menuntut kejujuran, sementara situasi yang mereka ciptakan tak memberi ruang untuk jawaban sederhana.
Arkan mengangkat wajahnya. Rahangnya mengeras, matanya memerah oleh tangis yang belum usai.
"Kenapa kak Navarro diem?" suaranya meninggi, retak oleh emosi. "Jawab, kak. Jawab! Arkan butuh penjelasan sekarang."
Nada itu bukan sekadar protes. Ada rasa terluka dan dikhianati yang tersirat di dalamnya—kemarahan yang tertahan, bukan ledakan.
Navarro menunduk. Ia mencari kata yang tepat, tetapi tak menemukannya. Setiap kemungkinan penjelasan terasa tidak memadai.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Ficção GeralArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
