ARKANZA || 32

1.2K 77 7
                                        

Happy reading ❤️

“Daddy!! Kakak!!”

Di saat Arkan masih sibuk memanggil keluarganya, Kanza terus memberontak dalam pelukan Arkan. Tubuhnya limbung, tapi tangannya tetap berusaha mendorong Arkan agar melepaskannya. Ia terus meracau, bibirnya mengulang-ulang kalimat yang sama dengan suara pelan tapi penuh keyakinan—bahwa ada yang sedang menunggunya. Kalimat itu membuat kepala Arkan semakin pening. Bagaimana bisa Kanza mengatakan ada yang menunggunya, padahal jelas-jelas di depan mereka tidak ada siapa pun?

"Kanza, stop bilang ada yang nungguin Kanza! Di sana nggak ada siapa-siapa!!" ucap Arkan, mencoba menyadarkan adiknya yang masih bergelayut di tangannya.

Namun Kanza tetap keras kepala. Dengan mata yang setengah terbuka, ia menatap Arkan dengan ekspresi kekanak-kanakan yang tak biasa.

"Ada, abang~" jawab Kanza dengan nada yang terdengar malas sekaligus manja, seolah ucapannya itu adalah sebuah kebenaran yang tak bisa dibantah.

Arkan menggeleng keras, menepis kalimat Kanza dengan wajah cemas. Ia mengguncang perlahan kedua bahu adiknya, mencoba membuat Kanza sadar. Sorot matanya berusaha menembus kabut di pandangan Kanza, seolah berharap bisa mengembalikan kesadaran adiknya itu.

"Liat Arkan, Kanza! Liat Arkan!!" pintanya tegas.

Perlahan, Kanza mengalihkan tatapannya ke wajah Arkan, meskipun matanya masih buram dan kurang fokus. Napasnya memburu, ada sisa tawa kecil yang keluar di sela-sela bibirnya, seakan masih berada di dunia yang berbeda.

"Dengerin Arkan baik-baik ya…" suara Arkan menurun menjadi lebih lembut, berusaha menenangkan, "di sana nggak ada orang. Jadi Arkan mohon, Kanza diem."

Ucapan itu membuat Kanza tersentak. Mata yang tadi buram tiba-tiba mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, dan wajahnya berubah menjadi ekspresi sedih seperti anak kecil yang baru saja dimarahi.

"Abang bentak Kanza?" lirih Kanza dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.

Arkan langsung panik. Ia buru-buru menggeleng keras.

"Enggak, Kanza. Arkan nggak bentak Kanza sama sekali. Arkan cuma mau—"

Belum sempat Arkan menyelesaikan kalimatnya, suara Kanza kembali terdengar, kali ini lebih pelan, tapi jelas.

"Bunda… Papa… abang Arkan bentak Kanza" gumamnya dengan suara bergetar, matanya menatap lurus ke depan seolah-olah ada dua sosok di sana—yang hanya bisa ia lihat sendiri.

Arkan terkejut. Tubuhnya menegang saat mendengar ucapan itu.

"Bunda? Papa?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar karena tenggorokannya tercekat.

Tapi Kanza? Ia justru tertawa kecil, lalu tiba-tiba menepuk keningnya sendiri dengan gerakan pelan dan tidak stabil.

"Eh? Kenapa Kanza ngadu, ya? Mereka kan nggak peduli sama Kanza. Haha, Kanza lupa…" ucapnya dengan suara seperti gumaman, ada nada getir yang terselip di sana, tapi juga ada senyum samar yang ganjil di bibirnya—senyum orang mabuk yang tidak tahu apa yang sebenarnya ia katakan.

Arkan mengerjapkan mata, napasnya tercekat. Apa yang barusan Kanza katakan? Mereka tidak peduli pada Kanza? Mereka?

Pikiran Arkan bergetar hebat. Dadanya sesak, seolah ucapan Kanza tadi baru saja melemparkan beban berat ke pundaknya.

"Kanza... kenapa ngomong kayak gitu?" batin Arkan, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Tangannya refleks menggenggam bahu Kanza lebih erat, matanya menatap adiknya itu dengan tatapan penuh tanya—seakan ingin memohon penjelasan. Arkan tidak tahu harus berkata apa. Di dalam pikirannya, ia ingin sekali membantah ucapan Kanza. Itu tidak benar. Kanza, mereka peduli… mereka sangat peduli.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang