- Selamat membaca -
"Kanza!"
"Kanza, berhenti!"
"Kanza!!" dengan amat terpaksa Arkan menarik
salah satu telinga Kanza karena menurutnya itu adalah
cara yang tepat untuk menghentikan langkah adiknya yang
selalu ingin menghindari nya.
Dan benar saja, begitu telinga Kanza ditarik
anak itu langsung menghentikan langkahnya tanpa
ada niatan kabur lagi dari Arkan. atau lebih tepatnya
kabur dari ocehan dan omelan Arkan karena kejadian
di kelas tadi.
"Adohh sakit Ar!" Kanza meringis merasakan
telinganya yang sedikit sakit. ia melotot dengan
tatapan protes meminta dilepaskan.
Arkan melepaskan tarikannya, menatap penuh
serius ke arah Kanza. "makanya kalau Arkan suruh
berhenti itu nurut. sekarang Arkan mau nanya sama
Kanza, kenapa nilai ujian harian matematika Kanza bisa
jelek kaya gitu?" Kanza berdehem singkat, menghindar dari
tatapan Arkan yang begitu serius. tidak seperti biasanya.
"Ya mana gue tau. mungkin takdir" celetuk Kanza asal.
"Takdir apanya? gak usah ngaco. Kanza tau
gak? ini semua gara-gara Kanza yang gak mau
belajar makanya nilai ujian Kanza bisa jelek. udah
berapa kali Arkan bilang jangan anggap remeh nilai
pelajaran apapun itu tapi Kanza selalu aja gak pernah
mau dengerin Arkan, sekarang malah jadi kaya gini kan?
udah dapet nilai jelek terus Kanza harus ngulang ujiannya
lagi minggu depan." omel Arkan demi kebaikan saudaranya
sendiri.
Kanza kembali meringis. namun kali ini
bukan karena Arkan menarik telinga nya melainkan
karena ia mendengar ucapan Arkan yang sedikit menohok
hati.
"Bjir, kit ati gue." batin Kanza mendengar
Arkan yang terus menjelekkan nilainya. memang
nilai nya jelek si, tapi please lah jangan terlalu diperjelas
kan Kanza jadi malu.
Beberapa saat yang lalu..
Hasil ujian harian matematika baru saja
dibagikan kepada masing-masing murid. sebagian
dari mereka ada yang merasa puas dan adapula yang
tidak. berbagai macam raut wajah terlihat jelas dan itu
dapat mengukur seberapa puasnya mereka pada nilai yang
didapat dari hasil pengerjaan soal kemarin.
Sang guru matematika tersenyum
menatap para murid-muridnya. "anak-anak
ayo kita berikan tepuk tangan untuk Arkan yang
telah berhasil mendapatkan nilai yang sempurna sekaligus nilai yang paling tertinggi di kelas ini."
Semua murid di sana memberikan tepuk
tangan untuk Arkan membuat anak itu tersipu
malu. sedangkan Kanza melongo saat mengetahui
kalau Arkan berhasil mendapatkan nilai seratus. itu
sangat berbanding terbalik dengan nilai nya yang jauh
dari kata bagus. bisa dibilang nilai Kanza sangat anjlok
dan jelek.
Tapi tak dapat dipungkiri Kanza juga turut
senang sekaligus bangga pada Arkan tanpa ada
rasa iri sedikitpun karena Kanza tau kalau kembaran
nya itu memang cerdas, tidak seperti dirinya. dan Kanza
akui itu. kalau masalah nilai ataupun prestasi, Arkan selalu
menjadi dominan.
"Arkan, selamat ya kamu berhasil mendapatkan
nilai yang sempurna. ibu bener-bener bangga sama
kamu. dan ya, ibu juga bangga sama kalian yang sudah
berhasil mendapatkan nilai yang bagus meskipun masih
ada beberapa murid yang gagal dalam ujian harian ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
General FictionArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
