Atalaric tetap memeluk Kanza dengan lembut, merasakan tubuh putranya yang mulai rileks di dalam dekapan. Mereka masih duduk di atas kasur, Atalaric sedikit menahan diri agar Kanza tetap nyaman. Perlahan, ia menyadari Kanza mulai terlelap di pelukannya, napasnya tenang dan beratnya tubuh yang mulai santai membuat Atalaric lebih berhati-hati.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Atalaric menyesuaikan posisi tubuh mereka di atas kasur. Ia membaringkan Kanza perlahan di atas kasur, memastikan kepala anak itu bersandar dengan aman di bantal. Posisi Atalaric kini tetap duduk di sisi Kanza, tubuhnya sedikit membungkuk ke depan untuk tetap berada dekat, menjaga agar putranya tetap aman dan hangat. Jejak air mata masih samar terlihat di pipi Kanza, tanda emosi yang baru saja ia lepaskan.
Atalaric menatap wajah Kanza sejenak, lalu dengan tangan yang hangat dan lembut, ia menghapus jejak air mata itu, tatapannya teduh dan penuh kasih. Setelah memastikan Kanza nyaman, Atalaric membenarkan selimutnya hingga menutupi tubuh anak itu sampai sebatas dagu, menjaga kehangatan tubuhnya.
Ia kemudian mengusap rambut Kanza perlahan, suaranya lembut dan menenangkan. "tidurlah yang nyenyak, Kanza. Semoga kau cepat sembuh" ucapnya dengan penuh kelembutan.
Sebagai penutup, Atalaric menundukkan wajahnya sedikit dan mencium kening Kanza dengan lembut, memastikan putranya merasakan rasa aman dan kasih sayang yang tulus. Dalam keheningan itu, kamar Kanza kini menjadi saksi momen hangat—sebuah pelukan yang menenangkan hati anak yang selama ini menanggung beban sendiri, dengan Atalaric tetap menjaga di sisi Kanza meski anak itu sudah tertidur pulas.
•••💐💐💐•••
Sejak pelajaran terakhir sebelum bel istirahat berbunyi, tenggorokan Arkan terasa kering. Ia menahan rasa haus itu sembari sesekali melirik pintu kelas, menunggu sosok Navarro muncul untuk menemaninya ke kantin. Namun hingga menit demi menit berlalu, kelas tetap sepi. Hanya ada dirinya di sana, ditemani deru angin dari jendela yang sedikit terbuka.
Akhirnya, dengan sedikit enggan, Arkan meraih tasnya. Ia mengeluarkan botol minum Tupperware berwarna biru—botol yang sejak tadi sudah ia incar untuk menghilangkan rasa haus. Tangannya menggenggam tutup botol itu, mencoba memutarnya perlahan. Namun seperti biasa, tutupnya terkunci rapat, membuat kening Arkan berkerut.
Saat jemarinya semakin lelah, pikirannya melayang. Andai Kanza ada di sini… Arkan nggak perlu repot-repot buka sendiri. Kanza pasti langsung nolongin, bahkan sebelum Arkan sempet minta. Bayangan itu begitu nyata hingga bibirnya hampir tergerak untuk memanggil nama sang adik.
Namun sedetik kemudian, Arkan menggeleng cepat. Nggak… Arkan nggak boleh nyusahin Kanza lagi. Nggak boleh ketergantungan terus. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meneguhkan hatinya. Kalau Arkan kayak gini terus, Kanza bisa aja mikir kalau Arkan belum mandiri. Dan nanti… Kanza malah anggap Arkan belum layak jadi kakak karena Arkan selalu gak bisa apa-apa sendiri.
Dengan tekad yang terkumpul, Arkan memutar tutup botol itu lebih kuat. Suara “klik” terdengar, tanda pengunci terbuka. Sayangnya, tenaga yang ia keluarkan terlalu besar. Botol berguncang, miring ke tepi meja, lalu jatuh ke lantai. Airnya tumpah, membentuk genangan yang cepat merambat di antara kaki meja.
Arkan mendesah pelan. Ia buru-buru jongkok, menarik beberapa lembar tisu dari tas, lalu mulai mengelap lantai dengan gerakan cepat.
Suara langkah kaki mendekat membuatnya menoleh sekilas. Navarro berdiri di ambang pintu, alisnya terangkat tipis. "dek, kamu ngapain?" tanyanya sambil masuk.
Arkan hanya tersenyum tipis, menyembunyikan rasa malu. "gak ngapa-ngapain, kak. Arkan cuma bersihin air minum yang nggak sengaja tumpah"
Mendengar hal itu, Navarro segera menghampiri Arkan. Ia menahan lembut tangan adiknya yang masih sibuk mengelap lantai kelas yang basah karena ulahnya sendiri. "ko bisa air minumnya sampai tumpah, dek?" tanyanya dengan nada tenang, menatap Arkan sambil ikut berjongkok dengan satu kaki menopang.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
