"Arkan!!" seru Kanza dengan riang dari jarak yang tidak terlalu dekat, namun cukup untuk membuat suaranya terdengar jelas. Anak itu melepaskan genggamannya pada Shaka, lalu melambaikan tangan dengan penuh semangat ke arah kembarannya. Arkan dan Zavier menoleh serentak, tersenyum melihat Kanza kembali riang.
"Arkan, liat, gue beli apa!!" teriak Kanza, suaranya sedikit meninggi agar bisa terdengar oleh Arkan. Setelah itu, Kanza yang sempat berhenti sejenak saat melambaikan tangan, kini mulai berlari kecil ke arah kembarannya. Arkan pun ikut berlari, membawa es krim rasa vanilla. Sementara Shaka berada di belakang Kanza dan Zavier mengikuti di belakang Arkan, keduanya berjalan dengan santai dan tenang, menyusul langkah anak-anak itu.
"Wihhh, Kanza beli permen kapas?!" seru Arkan begitu mereka sudah berhadapan.
Kanza mengangguk cepat, lalu menambahkan, "iya. Tadi bang Shaka ngajakin gue buat beli permen kapas. Tapi lo liat deh bentuknya!" kata-kata itu membuat Arkan memperhatikan lebih seksama dan baru menyadari bahwa permen kapas itu berbentuk kepala kelinci.
"Ini bentuknya kok kayak kepala kelinci, Kanza?" tanya Arkan dengan mata berbinar.
"Iya, ini emang bentuk kepala kelinci, Arkan! Gue sengaja milih bentuk ini karena lo kan suka hewan ini," balas Kanza cepat, membuat Arkan semakin sumringah karena tidak menyangka Kanza tahu hal itu.
"Nanti kita makan bareng-bareng, ya," ucap Kanza, diikuti anggukan mantap dari Arkan. Anak itu kemudian menunjukkan es krimnya kepada sang adik, memamerkan rasa vanilla—pilihan Kanza yang sebelumnya sempat dilarang oleh kakak sulungnya.
"Kanza, sekarang liat es krim Arkan!" ucap Arkan dengan ceria. "Ini es krimnya rasa vanilla, rasa kesukaan Kanza," tambahnya, membuat Kanza terkejut, senang, namun juga sedikit heran.
"Ko lo malah beli rasa kesukaan gue? Gue kan dilarang makan es krim sama bang Vier" ucap Kanza, meskipun matanya tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Ia jelas sangat ingin segera menyantap es krim itu.
"Stttt, Arkan tau. Tapi kan Kanza bisa cicipin sedikit. Kalau Kanza cuma cicip satu atau dua sendok tanpa sepengetahuan yang lain, Kanza nggak bakal dimarahin" ujar Arkan, niatnya hanya ingin adiknya bisa menikmati sedikit es krim karena tak tega melihat wajah Kanza yang tampak sangat ingin.
"Tapi gimana caranya biar gue nggak ketauan?" tanya Kanza, membuat Arkan tampak berpikir sejenak. Ia menoleh ke arah Shaka yang sedang melangkah mendekat, hampir sejajar dengan mereka, lalu menengok ke belakang dan menyadari jarak Zavier juga tidak terlalu jauh. Situasinya terasa semakin sulit, seakan mereka terjebak dalam pengawasan kakak-kakak mereka.
"Eumm…" Arkan masih berpikir keras ketika Zavier dan Shaka tiba di dekat mereka. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya si sulung, menatap kedua anak kembar itu bergantian.
Arkan dan Kanza sama-sama menggeleng. "Bukan apa-apa, kak/bang!" jawab keduanya serentak.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita cari Navarro dan Galen. Sejak tadi mereka belum kelihatan" ujar Zavier, membuat Shaka mengernyit penuh tanda tanya.
"Memangnya mereka sempat pergi ke mana?" tanya Shaka, matanya menatap Zavier penasaran.
"Mencari makanan dan minuman. Tetapi aku tidak tahu pasti di mana mereka membelinya." Shaka mengangguk memahami, lalu mereka mulai melangkah perlahan. Si kembar berada di depan, sementara Zavier dan Shaka menempati posisi di belakang, mengawasi setiap gerak-gerik anak-anak itu.
Di tengah perjalanan, ketika keempatnya sedang menelusuri jalan setapak sambil mencari keberadaan Navarro dan Galen, si kembar terus saja berbisik-bisik, seolah sedang merancang sebuah rencana rahasia. "Ar, gimana ini? Mereka selalu ada di belakang kita," bisik Kanza, matanya sesekali menatap ke arah kakak-kakaknya dengan sedikit cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Ficção GeralArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
