Jangan lupa vote dan komentar nya, ya! makasi 💙
Seluruh maid menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tidak satu pun berani mengangkat wajah saat ini. Di hadapan mereka, Zavier-si sulung keluarga Moonstone-sedang mengamuk di ruang tengah. Suaranya menggema, penuh kemarahan, mempertanyakan siapa yang telah berani meletakkan minuman mengandung alkohol di dalam kulkas.
Minuman itulah yang menjadi penyebab adik bungsunya kini mabuk, dan Zavier sama sekali tidak bisa menerima kenyataan itu.
Aura intimidasi memancar tajam dari tubuh Zavier. Tatapan matanya menyapu setiap wajah maid yang tertunduk ketakutan. Tangannya terkepal sempurna, rahangnya mengeras, menahan emosi yang hampir meledak.
"Kenapa kalian semua terdiam? Bukankah aku sedang bertanya siapa orang yang sudah berani meletakkan botol ini di dalam kulkas?!" suara Zavier meninggi, membuat ruangan semakin sunyi. Namun, tak satu pun dari para maid berani membuka suara. Mereka tetap membisu, seperti membatu di tempat, membuat Zavier semakin geram.
Tak jauh dari posisi Zavier yang sedang meluapkan amarahnya, Atalaric, Shaka, Navarro, dan Carlos ikut memperhatikan situasi itu dengan sorot mata tajam. Mereka berdiri di sisi lain ruangan, memandangi bagaimana para maid tetap bungkam meskipun putra sulung Moonstone telah mengajukan pertanyaan dengan nada yang jelas tak bisa ditawar.
Melihat tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara, Atalaric akhirnya melangkah maju. Suaranya terdengar tenang, namun mengandung ancaman yang tak bisa diabaikan.
"Jawab pertanyaan putraku jika nyawa kalian ingin tetap aman."
Kalimat itu meluncur dari bibir Atalaric dengan nada datar namun dingin, cukup untuk membuat beberapa maid yang berdiri di sana menelan saliva dengan susah payah. Wajah-wajah mereka tampak semakin pucat, tubuh bergetar oleh tekanan suasana yang mencekam.
Beberapa maid akhirnya mulai menggeleng cepat, lalu dengan suara gemetar mencoba mengangkat suara mereka.
"Tuan, kami tidak tahu apa-apa mengenai botol minuman tersebut. Bukan kami pelakunya, tuan. Kami berani bersumpah!" ucap salah satu maid dengan nada ketakutan yang jelas terdengar di setiap kata.
Atalaric menatap mereka dengan pandangan tajam. "apakah kalian yakin?" tanyanya, dengan sorot mata yang seolah bisa menembus kebohongan. Seluruh maid mengangguk bersamaan, meyakinkan jawaban mereka.
Shaka yang sejak tadi diam, ikut mengamati gerak-gerik para maid dengan tatapan tajam namun tenang. Ia memperhatikan detail, mulai dari gerakan mata hingga bahasa tubuh mereka. Entah mengapa, firasatnya berkata bahwa memang bukan mereka pelakunya. Ada kejujuran yang ia tangkap di antara ketakutan para maid itu.
"Sepertinya memang bukan mereka pelakunya" ujar Shaka akhirnya, membuat semua pasang mata kini beralih memperhatikannya.
Para maid kompak mengangguk pelan, seolah membenarkan ucapan tuan muda mereka itu.
"Kalo bukan mereka, terus siapa lagi, kak?" tanya Navarro, mulai menerka-nerka siapa pelaku di balik kejadian ini.
Mendengar hal itu, Carlos ikut bersuara. "tuan muda, apakah perlu saya memanggil seluruh bodyguard juga untuk ditanyai?" usulnya, karena siapa tahu saja pelakunya adalah salah satu dari mereka. Kemungkinan itu masih terbuka.
Namun, sebelum ada yang sempat mengangguk ataupun memberi persetujuan, suara Zavier terdengar, tegas dan jelas memotong pembicaraan.
"Tidak perlu" ucap Zavier datar, namun mengandung tekanan.
Pernyataan itu membuat semua orang langsung memandang ke arahnya. Sorot mata Zavier tajam, ekspresi wajahnya serius.
"Sepertinya Zavier sudah tahu siapa dalang di balik ini semua" tambahnya, membuat seluruh ruangan terdiam dalam rasa terkejut sekaligus penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
