ARKANZA || 60

729 59 12
                                        

Happy reading 🙌🏻

Di koridor lantai dua mansion, Atalaric melangkah tenang menuju kamar anak bungsunya. Di kedua tangannya, ia membawa sepiring makanan kesukaan Kanza dan segelas air putih—sebuah harapan sederhana yang ia jaga dengan sungguh-sungguh. Setibanya di ambang pintu yang terbuka, langkahnya sempat terhenti. Ia memperhatikan Kanza yang telah terjaga, meski tubuhnya masih terbaring di lantai. Senyum hangat terbit di wajah Atalaric—bukan semata karena putranya telah bangun, melainkan karena ia melihat perban di tangan Kanza masih terpasang rapi. Perban yang semalam ia balut dengan tangannya sendiri… masih terjaga tanpa tersentuh.

Kehangatan halus merambat di dada Atalaric. Ia sempat mengira Kanza akan melepasnya setelah sadar, namun kenyataannya tidak demikian. Dari hal kecil itu, Atalaric menyadari sesuatu—bahwa putranya belum sepenuhnya menutup diri. Masih ada celah kecil yang tersisa, meski samar dan rapuh.

"Rupanya anak daddy sudah bangun" ucap Atalaric lembut dan tenang.

Kanza tersentak kecil, seolah baru menyadari kehadiran ayahnya. Dengan tenaga yang lemah dan wajah sedikit pucat, ia mengubah posisi menjadi duduk. Seperti sebelumnya, ia kembali ke sudut ruangan—lutut tertekuk, kedua tangan memeluk kaki, dan pandangan tertunduk pada lantai.

Masih dengan senyum yang sama, Atalaric melangkah mendekat, namun tetap menyisakan jarak. Ia berjongkok dengan satu lutut, lalu memperlihatkan makanan dan minuman yang ia bawa.

"Kanza, coba lihat apa yang sudah daddy bawakan untukmu" ujarnya ringan, lembut, penuh bujukan seorang ayah. "Ini makanan kesukaanmu. Masih hangat… dan aromanya begitu harum. Daddy yakin kau akan menyukainya."

Namun tidak ada reaksi. Kanza tidak menoleh, bahkan tidak melirik.

Atalaric menarik napas perlahan. Tanpa tergesa, ia ikut duduk di lantai. Punggungnya bersandar pada dinding, sementara piring dan gelas ia letakkan di antara mereka—tepat di tengah, seperti batas yang tidak memaksa namun tetap menghadirkan harapan. Kini mereka duduk berdampingan, terpisah oleh jarak yang sunyi.

Atalaric menekuk satu kakinya, meluruskan yang lain, dan menatap lurus ke depan. Ia tidak memandang Kanza, namun suaranya kembali terdengar, pelan dan hangat.

"Kanza… apakah kau tahu?" ucapnya perlahan. "Dulu, ketika daddy seusiamu, pernah ada masa di mana daddy kehilangan nafsu makan. Bukan karena lapar tidak datang… tetapi karena hati terasa terlalu berat untuk menerima apa pun."

Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-katanya.

"Pada saat itu, ayah daddy berkata— ‘Jangan biarkan luka di hatimu membuat tubuhmu ikut runtuh. Kesedihan boleh tinggal, tetapi kesehatan tidak boleh kau abaikan.’"

Nada suaranya tetap datar, namun lembut.

"Dulu… daddy tidak mengerti. Daddy juga tidak memedulikannya. Daddy pikir, menahan lapar bukanlah sesuatu yang berarti."

Hening.

"Namun ketika tubuh daddy benar-benar jatuh sakit… saat itulah daddy mulai memahami. Apa yang beliau katakan… adalah kebenaran."

Atalaric menarik napas pelan.

"Kita boleh merasa sedih, marah, kecewa, ataupun tertekan. Itu semua adalah bagian dari menjadi manusia. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita abaikan, Kanza."

Suaranya melembut.

"Yaitu kesehatan."

Ia melanjutkan, tetap tenang, tanpa tekanan.

"Kesehatan adalah anugerah yang tidak semua orang miliki. Banyak orang di luar sana yang ingin berada dalam keadaan sekuat kita… namun tidak mampu, karena tubuh mereka sedang berjuang melawan sakit."

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang