Happy reading 💙
.
.
.
"Apa yang kau lakukan di sini, Arkana Kenzie
Moonstone?" Navarro menoleh cepat ke arah pintu,
menghapus air matanya secara kasar begitu mendengar
suara si sulung. ia bangkit, segera melangkah ke luar.
Navarro celingak-celinguk mencari
keberadaan Zavier. perasaan ia mendengar
suara si sulung. tapi kenapa saat ia melangkah
ke luar dan membuka pintu, pemuda itu menghilang?
kenapa ia hanya melihat kehadiran Arkan saja?
"Perasaan tadi gue denger ada suaranya
kak Vier deh" gumam Navarro pelan. ia menatap
Arkan saat dirasa tangan adiknya itu terus saja menoel-noel
lengan nya.
"Kenapa dek?" tanya Navarro lembut.
Tangan Arkan yang memegang kotak P3K
nampak ia serahkan pada Navarro. "ini kak, Arkan
mau kasih kotak P3K ini buat kakak" ucap anak itu.
"Dari kak Vier" lanjut Arkan, mengejutkan
Navarro. kedua tangannya mengambil alih kotak
P3K tersebut menatap penuh penasaran ke adiknya.
"Dari kak Vier, dek?" tanya Navarro
memastikan. kalau ini benar dari Zavier, itu
artinya ia tidak salah dengar kalau tadi itu benar-benar
ada si sulung di depan kamar nya.
Arkan mengangguk. "iya kak, dari kak
Vier. awalnya Arkan bangun cuma mau buat
ngambil minum di dapur. tapi karena Arkan liat
dan denger kak Varo nangis, akhirnya Arkan ke sini.
pas ada di sini, tiba-tiba aja kak Vier dateng terus dia kasih
kotak P3K ini buat kak Varo" jawab Arkan jujur.
"Apa yang kau lakukan di sini, Arkana Kenzie
Moonstone?" tanya Zavier datar, memegang kotak
P3K di salah satu tangan besarnya.
"Kak Vier?" Arkan terbata, menatap takut
si sulung. belum sempat mengatakan apapun
lagi, dengan cepat Zavier memberikan kotak itu
di salah satu tangan Arkan yang menganggur.
"Tolong berikan ini kepada Navarro." tanpa
basa-basi, setelah mengatakan itu Zavier segera
meninggalkan depan kamar Navarro.
"Kak, kakak gak abis berantem kan sama
kak Vier sampai harus pukul-pukulan?" tanya
Arkan sedikit berhati-hati.
Navarro menggeleng, mengusap rambut
Arkan dengan senyuman hangat. "kamu ngomong
apa si dek? ya enggak lah, mana mungkin kakak sama
kak Vier itu berantem sampe pukul-pukulan" balas Navarro.
Arkan menundukkan kepalanya
sebentar hanya untuk meruntuki pertanyaan
bodoh nya itu. apa yang dibilang oleh Navarro
memang benar. mana mungkin mereka berkelahi
sampai harus melukai? lagipula mereka kan kakak
beradik. jadi mana mungkin? huh, Arkan ini memang
sangat bodoh.
"Iya, kak Varo bener. mana mungkin
kalian berantem" cicit Arkan. rasa bersalah
mulai menyelimuti diri Arkan karena telah berpikiran
yang tidak-tidak tentang hubungan Zavier dan Navarro.
"Hei, kamu kenapa jadi murung gini
hm? ada apa? cerita sama kakak" ujar Navarro,
siap menjadi pendengar yang baik bagi adiknya.
Arkan mendongak lalu menggeleng
kecil. "Arkan gapapa kak. oiya kak, kalau
kakak luka bukan karena kak Vier, terus itu
karena apa dong?" tanya Arkan penasaran.
"Sebenernya kakak habis tawuran. tapi sttt,
jangan bilang siapa-siapa, oke? ini rahasia kita
berdua aja" balas Navarro diakhiri kekehan kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
General FictionArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
