ARKANZA || 45

995 51 3
                                        

Setibanya di perusahaan besar milik keluarga dominan Moonstone, si kembar langsung diajak keluar dari mobil dengan penuh antusias. Atalaric, yang sejak tadi menggenggam erat tangan kedua putra kembarnya, melangkah tenang membawa mereka masuk ke dalam gedung megah tersebut. Sementara itu, Carlos berjalan di depan mereka, menekan tombol lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh Atalaric, keluarga Moonstone, serta dirinya sebagai orang kepercayaan.

Begitu memasuki lift, mata Arkan dan Kanza berkeliling, menatap kagum ke arah interior yang mewah dan berkelas. Rasa takjub jelas terpancar dari wajah mereka. Sejak awal, mereka memang tidak menyangka perusahaan ayahnya sedemikian besar dan megah. Ini adalah kali pertama bagi mereka menginjakkan kaki di sebuah perusahaan besar, sehingga setiap detail terasa baru sekaligus menakjubkan.

Di tengah perjalanan itu, Arkan sempat berkomentar dengan polos bahwa ia kini mengerti mengapa ayah mereka bisa memiliki mansion yang luar biasa besar dan megah. Semua itu seakan terjawab ketika mereka melihat betapa kokoh dan luasnya perusahaan ini, seolah menjadi simbol nyata dari kekuasaan sekaligus kerja keras sang ayah.

Sementara itu, Atalaric tetap melangkah penuh wibawa, tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada si kembar. Kehadiran mereka bertiga sontak menjadi pusat perhatian. Banyak pasang mata para karyawan yang melirik. Namun, hampir semua menahan diri, tidak berani bersikap sembarangan. Kebanyakan dari mereka justru terpesona sekaligus merasa gemas melihat betapa menggemaskannya putra kembar tuan mereka.

Hal ini tidak lepas dari peringatan yang sudah diberikan Atalaric sebelumnya. Sebelum menjemput si kembar, ia telah mengabarkan pada seluruh karyawan bahwa kedua putranya akan datang. Mereka diwanti-wanti untuk tidak berbuat kesalahan sedikit pun. Bila ada yang berani bersikap tidak hormat atau membuat kedua anak itu merasa tidak nyaman, maka Atalaric tidak akan segan untuk memecatnya saat itu juga.

"Selamat datang, tuan muda" sapa para karyawan dengan ramah, menundukkan kepala hormat. Arkan dan Kanza membalas sapaan itu dengan senyum tulus, bahkan beberapa kali melambaikan tangan kecil mereka sebagai bentuk balasan. Aura keceriaan seakan menyebar hanya dengan kehadiran mereka berdua.

Tak lama, mereka akhirnya tiba di ruangan pribadi Atalaric. Ruangan itu tampak menawan, luas, dan elegan, dipenuhi dengan detail interior yang serba mewah namun tetap nyaman dipandang. Kedua anak itu sontak melangkah masuk dengan wajah berseri-seri.

"Wahhh, ini ruang kerjanya daddy?!" seru Kanza penuh kekaguman. Atalaric hanya mengangguk sambil tersenyum hangat, menikmati reaksi polos putranya.

"Ya, ternyata ruangan kerja di sini hampir nggak jauh beda ya sama yang ada di mansion? Sama-sama besar dan bagus! Arkan suka!" ujar Arkan dengan mata berbinar, memberikan pujian tulus pada ruangan sang ayah.

Mendengar itu, Atalaric menatap kedua anaknya dengan tatapan lembut. Dengan suara tenang penuh wibawa, ia menjawab, "kalau begitu, apakah kau ingin memilikinya? Kalau kau mau, daddy bisa memberikan ruangan serta perusahaan ini kepadamu."

Ucapan itu membuat Arkan terperanjat. Matanya membulat, wajahnya sontak berubah panik. Ia menggeleng cepat-cepat, menolak keras dengan suara riuh.

"Ihhh, nggak mau, daddy! Arkan ngomong kayak gitu bukan berarti Arkan mau perusahaan ini. Ini kan punya daddy!" tolak Arkan polos, membuat Atalaric terkekeh kecil menatap tingkah lugu anaknya.

"Milik daddy, milikmu juga, Arkan. Bukan hanya kau saja yang akan diberikan perusahaan kalau mau, tetapi Kanza juga" balas Atalaric tenang.

Kanza yang mendengar hal itu langsung menyahut dengan gaya ceplas-ceplosnya. "dih, daddy kalo ngomong santai amat kayak nggak ada beban. Ini perusahaan loh, dad, bukan ikan asin yang gampang dikasih ke orang" celetuk Kanza asal. Ucapannya membuat Atalaric terkekeh kecil, sementara Arkan sontak menoleh dengan wajah protes.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang