- Happy reading 💙 -
Arkan meniup pelan luka Kanza setelah
ia selesai membersihkan darahnya. sejak tadi
raut wajah Arkan tidak berubah. serius, namun
raut khawatir itu masih ada terselip dan itu tidak
pernah luput dari pengamatan Kanza.
Tidak pernah sedetikpun kedua mata indah
Kanza lepas dari wajah Arkan. tatapan nya begitu
dalam dan penuh hangat. bahkan anak itu sampai tak
sadar kalau salah satu ujung bibirnya sedikit tertarik ke
atas.
"Kalo gue gak terikat sama janji itu, apa
mungkin gue bisa dapet peran sebagai seorang
adek yang layak dari lo bang? peran adek yang manja.
bukan yang kaya gini" batin Kanza lirih, menatap teduh
Arkan.
"Selesai!" Arkan baru saja selesai mengobati
luka Kanza. ia telah menutupi lukanya menggunakan
sedikit perban yang dililitkan ke jari telunjuk.
Kanza masih melamun. ia tidak sadar
kalau Arkan sudah selesai mengobati nya
membuat Arkan menatap heran sang kembaran.
"Kanza ko ngelamun? Kanza, Arkan udah
selesai ngobatin luka Kanza" beritahu Arkan
sekali lagi, tapi kali ini sambil menoel-noel lengan
Kanza yang pada akhirnya menyadarkan anak itu.
Kanza mengerjapkan matanya beberapa
kali. "ha? apa? oh, lo udah selesai ngobatin
luka nya ya? thanks" gugup Kanza merubah
posisinya menjadi berdiri.
"Oiya Ar, tadi katanya lo laper kan? tuh
di meja makan udah ada lauk sama nasi. semuanya
gue yang bikin, lo pasti suka. ayo buruan ke meja makan
sebelum lauknya dingin!" tambah Kanza meninggalkan sang
kembaran seorang diri di ruang tengah.
Arkan menatap heran punggung Kanza
yang mulai menjauh. ia sedikit memiringkan
kepalanya, menerka-nerka apa yang sedang terjadi
dengan kembaran nya itu. "Kanza kenapa si? ko dia gak
kaya biasanya. terus tadi kalau Arkan gak salah liat, mata
Kanza juga sedikit berkaca-kaca" gumam Arkan penasaran.
"ARKAN, BURUAN MAKAN SEBELUM GUE
ABISIN SEMUANYA!!" teriak Kanza dari meja
makan, mengundang kepanikan Arkan.
"I-iya Kanza!" Arkan gelagapan, berlarian
ke meja makan takut kena omel dari sang kembaran
lagi. anak itu duduk dengan nyaman di samping Kanza
yang sibuk mengambilkan nasi dan juga lauk.
"Buat Arkan?" tanya Arkan melihat Kanza
meletakkan piring itu dihadapannya. Kanza
hanya mengangguk singkat tanpa ada niatan membuka
suara.
"Makasih Kanza! Kanza baik banget deh!
Arkan beruntung banget punya kembaran
kaya Kanza. oiya, piring Kanza ko masih kosong?
mau Arkan ambilin nasi sama lauknya?" tanya Arkan
baru sadar kalau piring Kanza belum ada nasi serta lauk,
berbeda dengan dirinya.
Kanza menggeleng kecil. "gak perlu, gue
gak jadi makan soalnya"
"Loh, kenapa? bukannya tadi Kanza bilang
kalau Kanza juga laper ya?" heran Arkan tidak
habis pikir.
"Gak usah banyak nanya. udah lo makan
aja duluan, gue bisa nyusul nanti" balas Kanza
merasa sudah kenyang saat ia membuat makanan
untuk Arkan.
"Kanza serius? Kanza, kalau kaya gini
Arkan jadi gak enak tau. masa Arkan cuma
makan sendirian doang si? Kanza, Kanza makan
juga ya? biar gak sakit" bujuk Arkan masih kekeh ingin
kembaran nya itu ikut makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Ficción GeneralArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
