Happy reading 💙
Pagi itu suasana di dalam Mansion Moonstone masih begitu tenang. Udara sejuk dari taman belakang menelusup masuk melalui jendela kamar Kanza, menggoyangkan tirai putih tipis yang menari lembut tertiup angin. Namun, ketenangan itu mendadak pecah hanya dalam hitungan detik ketika suara teriakan keras menggema dari lantai atas.
"MAMPUS, GUE TELAT!!"
Teriakan itu bergema begitu nyaring hingga membuat beberapa burung di balkon kamar sontak terbang kaget. Kanza langsung melompat dari tempat tidurnya dengan wajah panik. Detik berikutnya, bocah itu melotot melihat jam di meja samping tempat tidurnya yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Saking terkejutnya, seluruh tubuhnya refleks bergerak cepat, seolah seluruh nyawa yang sempat melayang selama tidur kini kembali terkumpul dalam sekejap.
Tanpa pikir panjang, Kanza bergegas mengambil seragam sekolah. Ia memakainya dengan tergesa-gesa—kancing yang salah lubang, dasi yang melilit miring, dan rambut yang berantakan. Ia sempat menatap pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi pasrah sebelum kemudian berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya sekadar agar tampak lebih segar.
Beberapa menit kemudian, bocah itu sudah muncul lagi sambil memakai sepatu hanya sebelah. Sepatu lainnya ia genggam di tangan, sementara tasnya disampirkan asal di bahu kiri. Ia berlari menuruni tangga besar mansion dengan langkah terburu-buru dan suara yang menggema di sepanjang koridor.
Begitu sampai di lantai bawah, Kanza langsung melihat sosok Carlos—asisten pribadi keluarga—yang baru saja berjalan masuk dari arah pintu utama. Tanpa berpikir panjang, Kanza langsung berteriak lantang, membuat pria dewasa itu sampai terhenti di tempat.
"OM!! OM CARLOS, AYOO BURUAN ANTERIN KANZA KE SEKOLAH!!"
Carlos menatap tuan mudanya dengan ekspresi terkejut dan bingung. "Tuan muda,—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Kanza yang tidak menggenggam sepatu langsung menarik-narik lengan Carlos kuat-kuat.
"ADOHHH, OM, NGOMONG NYA NANTI AJA!! SEKARANG AYO ANTERIN KANZA DULU KE SEKOLAH! KANZA UDAH TELAT TAU!" ocehnya panik, hampir menyeret Carlos keluar mansion.
Carlos hanya bisa menatap tak berdaya sambil melirik ke arah ruang makan, seolah meminta pertolongan. Dari sana, dua sosok sudah duduk memperhatikan—Atalaric dan Arkan. Keduanya menatap heran melihat kepanikan Kanza pagi itu.
Atalaric akhirnya membuka suara, nada berat dan tenangnya memecah suasana ricuh. "Kanza? Tenanglah, nak." ucapnya dengan lembut namun tegas.
Suara itu langsung menghentikan langkah Kanza. Bocah itu menoleh spontan, matanya membesar karena baru sadar ternyata ayah dan saudara kembarnya masih ada di meja makan.
"Eh? Daddy kok masih ada di sini? Arkan… lo juga?" tanyanya kaget, suaranya melambat. Ia spontan melepaskan tangan Carlos yang sudah hampir ditarik sampai ke depan pintu.
Arkan menatapnya sambil tersenyum lembut. "Kanza, sini!" panggilnya pelan.
Tanpa pikir panjang, Kanza pun melangkah mendekat. Ia duduk di kursi di sebelah Arkan dengan wajah masih setengah panik, setengah malu, sementara Carlos hanya bisa menghela napas lega di belakang mereka, menyadari bahwa pagi mansion itu baru saja berubah dari sunyi menjadi penuh kehebohan hanya karena satu sosok—Kanza Moonstone.
"Ar, lo ngapain masih ada di sini? Nggak pake seragam juga lagi. Gue pikir lo udah berangkat ke sekolah tadi" celetuk Kanza dengan nada penasaran, menatap kembarannya yang masih santai tanpa mengenakan seragam sekolah. Ia jelas kebingungan karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, tapi Arkan belum juga bersiap.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
