Hai semuanya!🌹
Akhirnya aku balik lagi!! Gak lama kan aku hiatus-nya
Hehehe 😄
Makasih banget buat kalian yang masih setia nungguin kelanjutan cerita ini, walaupun sempat terjeda sebentar. Rasanya kayak pulang ke rumah setelah jalan keluar sebentar buat cari angin... dan rumah itu—ya kalian semua.
Waktu jeda kemarin, selain buat ngumpulin napas dan nyusun alur, aku juga sempat fokus dulu ke urusan duniawi. Sekarang semuanya udah jauh lebih tenang, dan aku seneng banget bisa balik nulis lagi dengan hati yang lebih siap.
Karena cerita ini, terutama Arkanza, bukan cuma soal konflik dan air mata—tapi juga tentang proses pulang, memaafkan, dan tetap saling jaga walau saling luka. 🤍
Sekarang aku siap lanjut bareng kalian lagi. Yuk, kita pelan-pelan nikmatin kelanjutan perjalanan Arkan dan Kanza yang makin dalam dan gak pernah sederhana.
Terima kasih karena tetap ada.
Selamat datang kembali di cerita yang (semoga) masih bisa bikin kalian ngerasa pulang. 🌙✨
•••
Seorang anak kecil dengan rambut yang tertata rapi dan wajah penuh keriangan tampak sibuk memainkan mobil-mobilan merah kesayangannya—hadiah kecil yang belum lama ini diberikan oleh sang ayah. Suara kecil dari roda mainan yang berputar memenuhi ruangan, menyatu dengan tawa ringan yang sesekali keluar dari bibir mungilnya.
Tanpa sengaja, dorongan kecil dari tangannya membuat mobil itu meluncur lebih jauh ke depan, melewati batas ruang bermainnya. Mobil itu bergerak mulus, roda-rodanya berderit pelan sebelum akhirnya menghilang ke balik pintu sebuah ruangan lain. Refleks, si anak langsung berdiri dan mengejar mainannya yang menghilang dari pandangan.
Namun, begitu langkah kecilnya sampai di ambang pintu, ia justru terdiam.
Bukan hanya mobil merahnya yang ia temukan, tapi juga sosok yang sangat dikenalnya—kembarannya—duduk sendiri di depan jendela. Tubuh kecil itu memeluk kedua lututnya, menyandarkan dagu pada lutut yang ditekuk, dan memandangi dunia luar dengan tatapan kosong. Seolah, apa pun yang berada di balik jendela jauh lebih berarti dari ruangan tempatnya berada.
Kanza kecil tidak bergerak, tak menunjukkan reaksi apa pun. Wajahnya tenang, hampir seperti sedang menunggu sesuatu... atau mungkin tidak menunggu apa-apa. Tapi ketika ia menyadari ada benda kecil yang mendekat, perlahan ia menoleh.
Mobil merah itu kini berhenti tepat di sampingnya. Tatapannya kemudian bergeser ke arah pintu—dan di sanalah, Arkan kecil berdiri, memandangi dirinya dengan mata bulat polos yang berkedip beberapa kali.
Keduanya saling menatap. Diam-diam, air mata menggantung di ujung mata Kanza kecil. Ia tidak menangis keras, tapi bening itu cukup terlihat meski belum jatuh.
Dan baru beberapa saat setelah mereka saling beradu pandang, tiba-tiba saja...
Arkan terbangun.
Napasnya dalam, lalu pandangannya menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Tak ada air mata, tak ada suara. Tapi ada sesuatu yang berat di dadanya, seperti sisa dari mimpi yang belum sepenuhnya pergi.
Udara pagi menyusup pelan lewat celah jendela kamar. Cahaya masih malu-malu, langit pun belum sepenuhnya biru. Jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi, dan bukannya kembali terlelap, Arkan justru memilih duduk di atas ranjangnya. Diam. Tertunduk.
Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari… mimpi itu bukan sekedar bunga tidur. Itu adalah kenangan lama—potongan masa kecilnya bersama Kanza. Potongan yang sudah lama terkubur dan tak pernah ia pikirkan dalam-dalam. Tapi entah kenapa… justru muncul sekarang, setelah malam sebelumnya ia menulis surat penuh harapan untuk saudara kembarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
