ARKANZA || 68

239 29 14
                                        

Hayooo, siapa nih yang kemarin minta Arkanza update lebih cepat?? 👀❤️ Nih, akhirnya aku kabulin juga yaa!

Semoga kalian bisa enjoy bacanya sampai akhir. Dan kalau berkenan, nanti setelah selesai baca Part 68, boleh banget ceritain perasaan kalian setelah baca bab ini. Aku pengen tau reaksi kalian juga hehe 🥹❤️

•••🕊️🕊️🕊️•••

Di lantai satu mansion, Atalaric tampak membawa secangkir teh hangat yang baru saja dibuatkan oleh salah seorang maid. Minuman itu sebenarnya bukan untuk dirinya, melainkan untuk Kanza yang sedang beristirahat di kamar. Tadi, putra bungsunya itu mengatakan bahwa dirinya merasa lelah dan membutuhkan istirahat. Karena itu, Atalaric berpikir bahwa memberikan minuman hangat dapat membuat Kanza merasa sedikit lebih nyaman selama beristirahat.

Namun, baru beberapa langkah berjalan, Atalaric justru berpapasan dengan Arkan.

"Daddy" panggil Arkan sambil berhenti tepat di hadapan Atalaric. Begitu pula dengan sang ayah yang menghentikan langkahnya.

"Ya, Arkan?" sahut Atalaric.

Arkan melirik secangkir teh hangat yang dibawa sang ayah sekilas sebelum kembali menatap wajahnya. "Teh itu buat siapa, dad?" tanyanya penasaran.

"Untuk adikmu, Kanza." jawab Atalaric.

"Kanza?" ulang Arkan untuk memastikan. Atalaric hanya mengangguk kecil. Anak itu kemudian berdeham singkat sebelum kembali berkata, "eumm... kalau gitu boleh Arkan aja nggak yang ngasih?" tanyanya meminta izin. Mungkin, dengan membawa teh itu, ia bisa memiliki alasan untuk mengajak Kanza berbicara.

Mendengar permintaan tersebut, Atalaric terkekeh pelan. Ia sama sekali tidak keberatan dan segera mengangguk. "Tentu, nak. Ini, daddy serahkan teh hangatnya kepada mu."

Atalaric menyerahkan secangkir teh itu kepada Arkan dengan hati-hati agar tidak sampai tumpah. Arkan menerimanya dengan senang hati, disertai senyum tipis yang terukir di wajahnya.

Setelah teh hangat itu berpindah ke tangannya, Arkan tidak lupa mengucapkan terima kasih sekaligus berpamitan. "Makasih, daddy! Kalau gitu Arkan ke kamarnya Kanza dulu, ya!" ucapnya.

"Baiklah, Arkan." Atalaric kemudian menambahkan dengan lembut, "hati-hati, ya, nak. Jangan sampai terjatuh."

Arkan mengangguk cepat. "Oke, daddy! Siap!"

Setelah itu, Arkan mulai melangkah menuju lift. Tujuannya jelas, yakni lantai dua, tempat kamar kembarannya berada.

Tidak membutuhkan waktu lama hingga pintu lift akhirnya terbuka. Arkan segera melangkah keluar dan berjalan menuju kamar Kanza dengan hati-hati. Sebagian besar perhatiannya kini tertuju pada cangkir teh hangat yang berada di kedua tangannya. Ia benar-benar berusaha menjaga agar minuman itu tidak tumpah. Bahkan sesekali ia melambat karena khawatir langkahnya yang terlalu terburu-buru justru membuat cangkir tersebut terlepas dari genggamannya.

Namun, baru beberapa langkah, langkah Arkan mulai melambat. Bukan karena jarak menuju kamar Kanza sudah semakin dekat, melainkan karena sosok yang hendak ditemuinya justru terlihat berjalan ke arahnya. Ketika jarak mereka semakin dekat, Arkan akhirnya menghentikan langkahnya.

Meski rasa gugup perlahan mulai menyelimuti hatinya, ia tetap berusaha terlihat setenang mungkin. Bahkan, sebuah senyum tipis yang tampak sedikit canggung sengaja ia tampilkan untuk mencairkan suasana. "Kebetulan kita ketemu di sini, Kanza" ucap Arkan sambil menatap wajah kembarannya. "Padahal Arkan tadi mau ke kamarnya Kanza, loh, buat ngasih teh hangat ini"

Untuk beberapa saat, Kanza tidak memberikan jawaban.

Ia hanya berdiri diam sambil memandang Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan itu begitu tenang, tetapi cukup lama hingga perlahan membuat senyum di wajah Arkan mulai memudar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang