ARKANZA || 34

1.4K 84 11
                                        

"Tak semua orang mudah menerima kasih sayang, terutama yang dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu kuat."

.
.
.

Tubuh Kanza kini telah terbaring di atas kasur. Suhu tubuhnya begitu tinggi, membuat seluruh anggota keluarga Moonstone dilanda kekhawatiran yang luar biasa. Itulah sebabnya sebuah plester penurun panas menempel di kening Kanza, sementara tubuhnya diselimuti kain tebal-menyisakan bagian wajahnya saja yang terlihat.

Beberapa menit lalu, si sulung juga sempat menghubungi dokter kepercayaan keluarga Moonstone untuk memeriksakan kondisi kesehatan Kanza. Setelah diperiksa, sang dokter mengatakan bahwa Kanza hanya mengalami demam biasa dan kemungkinan besar akan segera membaik dalam beberapa hari. Namun, apabila demam itu tak kunjung turun atau justru semakin parah, dokter meminta agar segera dihubungi kembali atau langsung membawanya ke rumah sakit.

Selain memeriksa kondisi Kanza, dokter juga sempat meminta salah satu dari mereka untuk membeli obat sebagai langkah awal penanganan. Oleh karena itu, Carlos pun ditugaskan membeli obat untuk si bungsu Moonstone sekaligus mengantar sang dokter pulang.

Terlepas dari itu semua, Arkan tetap setia mendampingi kembarannya yang tengah terbaring lemah dengan suhu panas yang tinggi. Napas Kanza terdengar berat, wajahnya pucat pasi, membuat Arkan diliputi rasa iba yang begitu dalam. Dalam hatinya, ia berulang kali bertanya-tidakkah sakit itu bisa dirinya saja yang merasakan?

Sungguh, pemandangan ini membuat Arkan tersiksa.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat Kanza tumbang sampai separah ini. Padahal dulu, ketika Kanza sakit, kondisinya tidak pernah sampai benar-benar drop seperti sekarang. Biasanya, Kanza tetap bisa mengatasi semuanya dengan tenang. Tapi kali ini berbeda. Dan justru karena itulah, Arkan semakin sedih.

Arkan menatap Kanza dengan raut penuh kesedihan. Lalu ia berbisik, "Kanza, ayo bangun. Liat, Arkan udah berhasil temuin liontinnya." suara itu lirih, penuh harap, seolah Arkan ingin Kanza bisa mendengar ucapannya dan segera sadar.

Setelah mengucapkan kalimat itu, pandangan Arkan jatuh kepada liontin yang masih ia genggam erat. Perlahan ia membuka kepalan tangan kanannya, memperlihatkan benda kecil yang selama ini ia cari dan akhirnya berhasil ditemukan. Namun, rasa heran tak bisa ia cegah. Kepalanya dipenuhi pertanyaan-kenapa liontin ini justru muncul di saat seperti tadi? Di saat Kanza sudah memaafkannya? Apakah ini sekadar kebetulan? Atau memang ada alasan lain di balik semua ini?

Pikiran Arkan tak berhenti di situ. Tanpa sadar, ia teringat pada ucapan Shaka waktu itu-sebuah percakapan yang sempat mengendap lama di kepalanya.

"Kau habis dari mana?"

Arkan yang sejak tadi menunduk, perlahan mendongak. "tadi Arkan abis dari halaman belakang, kak." jawabnya lirih. Nadanya terdengar lelah, napas nya masih belum sepenuhnya teratur.

"Mencari liontin?"

"Iya," angguk Arkan pelan. "tapi gak ketemu" tambahnya, kemudian kembali menunduk, tatapannya kosong menatap marmer di bawah kakinya.

Shaka menarik napas pendek, lalu ikut duduk di sofa. Ia mengangkat salah satu tangannya, menarik dasi yang melilit lehernya dan melonggarkannya sedikit, seolah ada rasa gerah yang ingin ia lepaskan. Wajahnya tetap datar, tapi sorot matanya tajam dan jernih.

"Memang biasanya begitu" ucapnya datar, namun penuh makna. Kalimatnya membuat Arkan menoleh lagi, menatap wajah kakaknya yang kini sibuk menggulung lengan kemejanya dengan tenang, setelah ia melepas jas nya.

"Semakin dicari, semakin tak ditemukan. Tapi saat tidak dicari, justru muncul dengan sendirinya."

Arkan terdiam mendengarnya. Kalimat itu terasa mengendap dalam benaknya. Ia menunduk sekali lagi, namun kali ini bukan karena kelelahan fisik-melainkan karena gelisah.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang