ARKANZA || 43

834 53 5
                                        

Happy reading 💙

Perlahan namun pasti, matahari mulai menampakkan dirinya, menyibakkan tirai langit dengan pancaran sinar keemasan yang terasa malu-malu. Burung-burung berkicau merdu di ranting-ranting pohon, seolah ikut menyambut datangnya pagi yang hangat. Sementara itu, dedaunan dan rerumputan bergoyang lembut diterpa semilir angin, menebarkan kesegaran alami yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Pagi ini terasa begitu istimewa, terutama bagi para penghuni mansion Moonstone. Suasana yang hadir tidak sama seperti hari-hari sebelumnya; ada sesuatu yang berbeda, sebuah kehangatan baru yang kental terasa. Hari itu menjadi titik awal, di mana keluarga Moonstone bertekad memulai lembaran kehidupan baru yang penuh dengan kebahagiaan serta kekompakan. Maka tak heran, ketika mereka mulai terbangun dari tidur, senyuman langsung mengembang di wajah masing-masing, memancarkan semangat baru yang menular.

Salah satunya tampak jelas pada Arkan. Begitu membuka mata, bocah itu langsung sumringah, seolah cahaya mentari pagi telah membisikkan semangat baru ke dalam dirinya. Dengan langkah ringan, ia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju balkon untuk merenggangkan tubuh. Udara pagi yang sejuk segera menyapa kulitnya, membuatnya refleks menarik napas panjang dan dalam. Ia menutup matanya sejenak, merasakan ketenangan, sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.

Tak butuh waktu lama, hanya sekitar lima belas menit, Arkan sudah keluar dengan seragam sekolah melekat rapi di tubuhnya. Seperti kebiasaan yang tak pernah ia lewatkan, ia kembali berdiri di depan cermin, merapikan seragamnya, menyesuaikan lipatan-lipatan kecil, lalu dengan hati-hati mengenakan dasi. Setelah itu, ia menyempurnakan penampilannya dengan almamater yang ia kenakan dengan penuh keyakinan.

Merasa penampilannya hampir sempurna, Arkan mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya sedikit, memastikan tidak ada helai yang terlihat acak-acakan. Setelah puas, ia menenteng tas sekolahnya dan kembali menatap bayangan dirinya di depan cermin. Senyum tipis terlukis di wajahnya, sebuah senyum penuh kepuasan dan semangat. Namun, seketika pikirannya tertuju pada sosok kembarannya.

"Kira-kira Kanza udah bangun belum, ya? Hm, Arkan coba liat deh. Nanti kalau dia belum bangun, Arkan bakal langsung bangunin," gumam Arkan, meski jauh di lubuk hatinya ia sudah bisa menebak bahwa kembarannya itu kemungkinan besar masih terlelap dengan nyenyak.

Tanpa ingin membuang lebih banyak waktu, Arkan segera melangkahkan kakinya ke kamar sang kembaran. Namun, begitu pintu kamar itu terbuka, ia dibuat tertegun. Sosok yang semula ia bayangkan masih tertidur pulas di atas kasur, justru sudah berdiri di depan cermin. Kanza tampak sibuk membetulkan dasinya, dengan wajah yang jelas menunjukkan ekspresi kesal. Ia sudah hampir sepuluh menit berkutat dengan benda itu, namun hasilnya belum juga memuaskan dirinya.

Arkan sempat mengerjapkan matanya berkali-kali, seolah ingin memastikan apa yang dilihatnya benar adanya. Ia pun melangkah masuk dengan perasaan tak percaya.

"Eh? Kanza udah bangun? Tumben banget. Baru aja tadi Arkan mau bangunin" celetuknya pelan dengan nada heran.

Namun, adiknya itu sama sekali belum menyadari kehadiran Arkan. Kanza masih terus berusaha menyempurnakan dasinya dengan penuh ketelitian, hingga perlahan raut wajahnya berubah semakin tidak sabar. Beberapa detik kemudian, saat kesabarannya benar-benar habis, ia melepas dasi itu dengan kasar dan melemparkannya ke lantai. Gerakan mendadak penuh kekesalan itu sukses membuat Arkan terlonjak kaget di tempatnya.

"Ishhh, dasinya nyebelin banget sih! Dipikir gue nggak capek apa benerin lo terus?!" omel Kanza geram pada dasi yang kini sudah tergeletak di lantai. Bahkan saking kesalnya, anak itu sampai menginjak-injak benda tersebut, seakan melampiaskan seluruh amarahnya pada sepotong kain kecil yang tak kunjung mau ia atur dengan benar.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang