ARKANZA || 64

425 47 17
                                        

Halo semuanya!!
aku kembali dengan membawakan part yang mungkin udah lama kalian tunggu-tunggu nih 🙌🏻

Tapi sebelum kalian baca, yok absen dulu siapa aja yang kangen sama Arkanza 👉🏻💬

Udah absennya? kalau udah, selamat membaca yaa untuk semuanya (≧▽≦) ♡♡

•••

Sekitar pukul sepuluh pagi, suasana di ruang kerja pribadi Atalaric tampak tenang dan nyaris tanpa suara. Tirai jendela dibuka sedikit, membiarkan cahaya matahari masuk secukupnya dan menciptakan semburat hangat yang jatuh di beberapa sudut ruangan. Aroma khas kayu dan kertas memenuhi udara, berpadu dengan keheningan yang terasa lebih berat daripada biasanya.

Di dalam ruangan itu, Arkan duduk di salah satu sofa panjang dengan tubuh sedikit membungkuk, sementara Atalaric berada di sofa single yang tak jauh dari sofa yang Arkan duduki. Beberapa saat yang lalu, keduanya sempat terlibat percakapan. Arkan sempat mengatakan sesuatu pada Atalaric. Namun sekarang, suasana berubah menjadi diam yang menggantung sebelum akhirnya Atalaric membuka suaranya untuk memulai kembali percakapan yang sempat padam.

"Jadi kau belum mengatakan apa pun pada Kanza soal rencana kita untuk membawanya ke psikolog?"

Nada bicara Atalaric terdengar tenang dan terukur, tanpa tekanan ataupun nada menyalahkan. Namun pertanyaan itu tetap membuat Arkan menundukkan pandangannya perlahan.

Kepalanya mengangguk kecil.

"Iya, daddy" jawabnya lirih dan jujur. "Arkan belum bilang apa-apa ke Kanza soal itu."

Beberapa detik ia terdiam sebelum kembali melanjutkan dengan suara yang semakin pelan.

"Arkan takut..."

Kalimat itu keluar nyaris seperti gumaman.

Malam sebelumnya, Arkan sudah berusaha memikirkan semuanya dengan serius-bahkan sampai membuatnya hampir tidak bisa tidur. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan, terutama tentang bagaimana perasaan Kanza jika mendengar usulan itu.

Ia terus menyusun berbagai kalimat di dalam pikirannya. Kalimat yang tidak terdengar memaksa, tidak menyinggung, dan tidak melukai perasaan kembarannya sendiri.

Butuh waktu lama sampai akhirnya Arkan berhasil meyakinkan dirinya bahwa semua ini memang harus dilakukan.

Semua demi Kanza.

Karena keyakinan itu, perlahan keberaniannya mulai terkumpul. Ia bahkan sempat membayangkan bagaimana percakapan itu akan dimulai keesokan pagi-pelan, hati-hati, dan tanpa tekanan.

Namun saat pagi benar-benar datang, semuanya justru berubah.

Keberanian yang semalaman ia bangun runtuh begitu saja. Keraguan kembali menyusup ke dalam pikirannya, disusul rasa takut yang datang tanpa bisa ia kendalikan.

Padahal suasana saat itu sebenarnya tenang.

Kanza juga tidak sedang sibuk.

Bahkan Arkan sudah sempat mengajak adiknya berbicara empat mata.

Tetapi begitu momen itu datang, lidahnya terasa kelu. Tidak ada satu pun kalimat yang berhasil keluar dari mulutnya.

Pada akhirnya, ia kembali mengurungkan niat untuk membahas soal psikolog.

Hal itu membuat Arkan semakin bingung pada dirinya sendiri. Yang ia sadari hanyalah satu-setiap kali menatap wajah Kanza, rasa percaya dirinya perlahan mengecil dengan sendirinya.

Padahal Kanza tidak melakukan apa pun.

Ekspresinya tetap sama seperti biasa. Datar, tenang, dan nyaris tanpa emosi.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang