ARKANZA || 41

1K 53 2
                                        

Cahaya matahari pagi yang hangat perlahan menembus celah-celah tirai tipis, menyapa seorang anak yang sebelumnya masih terlelap. Matanya terbuka, dan pandangannya langsung menangkap sosok sang ayah. Sebuah senyum merekah sesaat di bibirnya, sebelum ia perlahan mengubah posisi menjadi duduk.

Semalam, untuk kedua kalinya, ia berhasil terbebas dari mimpi buruk yang kerap menghantui tidurnya. Bahkan, di dalam tidurnya semalam, ia merasakan mimpi yang begitu indah—menenangkan dan sekaligus menghangatkan hati. Begitu indahnya hingga ketika terbangun, Kanza benar-benar merasa tubuhnya pulih total, seakan tidak ada lagi sisa sakit ataupun kelemahan yang sebelumnya membebaninya. Tunggu… pulih total?

Kanza sontak membelalakkan mata, tak percaya sekaligus baru menyadari bahwa pagi ini tubuhnya terasa ringan, bebas dari rasa lelah yang menghinggapi sebelumnya. Tanpa menunggu lama, ia segera menyibakkan selimut dan berlari kecil menuju cermin untuk menatap wajahnya sendiri. Bocah itu ingin memastikan apakah wajahnya masih pucat atau tidak. Sesaat ia tertegun, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wajah yang kemarin tampak pucat dan lelah kini terlihat segar kembali. pipi yang semula pucat pasi kini bersemu sehat, dan matanya kembali bersinar.

"Gue… sembuh?" lirih Kanza, suaranya lembut, sebelum sedetik kemudian ia hendak berseru kegirangan. Namun begitu menyadari bahwa Atalaric masih tertidur di kamarnya, ia segera menahan pekikannya.

Ia menutup mulut dengan kedua tangan, lalu menggeleng perlahan, seolah memberi peringatan pada dirinya sendiri agar menahan kehebohannya. Setelah itu, ia melangkah menuju balkon, mendorong pintu kaca hingga terbuka lebar. Udara pagi yang segar menyambutnya, menelusup masuk ke paru-parunya, membuatnya merasa bebas. Tanpa ragu, ia mengangkat kedua tangan ke udara, bersorak penuh kegembiraan, melampiaskan rasa bahagia yang sulit dibendung.

"HOREYYY, GUE SEMBUH!!" serunya dengan penuh kegirangan. Meskipun kemarin-kemarin ia hanya mengalami demam biasa, entah mengapa perasaan senang ini begitu mendalam. Dengan tubuh yang kembali sehat, ia tak lagi harus terkurung di kamar sepanjang hari, dan tidak ada lagi yang akan melarangnya untuk ikut makan bersama di meja makan.

Setelah melampiaskan kegembiraannya, Kanza menarik napas panjang. Bibirnya masih tersenyum, kini lebih lembut. Perlahan ia memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak, membiarkan sinar matahari pagi menyentuh kulitnya. Hangat. Tenang. Nyaman. Seolah cahaya itu tengah menyambutnya dengan lembut.

Hening masih menyelimuti sekitarnya, sampai akhirnya terdengar sebuah suara bariton yang tegas namun hangat dari belakang. Suara itu begitu familiar, membuat Kanza tersentak kecil dan segera membuka matanya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Kanza?"

Kanza membalikkan tubuhnya dengan cepat, menatap Atalaric. Namun, bukannya menjawab pertanyaan sang ayah, anak itu justru mengucapkan hal lain dengan ekspresi riang, seolah ingin menyebarkan kebahagiaan yang sedang menggelora di hatinya.

"Daddy, Kanza sembuh!!" serunya, nada suaranya masih heboh dan penuh antusiasme. Pagi ini, suasana hati Kanza memang luar biasa baik, dan entah mengapa, ia merasakan kebahagiaan itu akan bertahan cukup lama.

Atalaric terdiam sesaat, menatap anaknya dengan seksama. Senyum hangat kemudian merekah di wajahnya, penuh rasa syukur. Perlahan, ia mengangkat tangan, menyentuh dahi Kanza untuk memastikan suhunya, dan benar—tubuh anak itu kini normal.

"Syukurlah," bisiknya lirih, nyaris seperti doa yang terucap tanpa sadar. Tak menunggu lama, Atalaric menarik Kanza ke dalam pelukan. Anak itu membalas dengan antusias, senyum lebar masih terpatri di bibirnya.

"Daddy, hari ini Kanza mau sarapan bareng sama kalian!" ucap Kanza, masih berada di dalam pelukan hangat sang ayah. Mendengar itu, Atalaric perlahan melepaskan pelukannya.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang