Happy reading 🩹❤️
Sepeninggalan Kanza, Zavier, dan Navarro, Atalaric memilih kembali masuk ke dalam ruang ICU. Pria itu terduduk di kursi dekat brankar Arkan. Matanya terfokus pada wajah Arkan, sebelum tangannya mulai menggenggam tangan anak itu dengan penuh kehati-hatian, seolah takut sentuhannya justru akan menambah luka yang tak terlihat.
Begitu tangan Arkan sudah ia genggam, Atalaric mulai memanggil namanya dengan nada getir.
"Arkan…" ucapnya pelan.
Suara itu rendah, berat, dan sarat dengan kelelahan yang tak diucapkan. Ada rindu di sana, juga ketakutan yang sejak tiga hari terakhir ia simpan rapat-rapat.
"Ini sudah hari ketiga sejak kau terbaring di tempat ini, nak" lanjutnya lirih. "Apakah kau tidak ada niatan untuk membuka matamu… meski hanya sedikit?"
Ruangan tetap diam. Tidak ada perubahan, tidak ada respons. Hanya ritme alat-alat medis yang terus berjalan, tak terpengaruh oleh harapan yang menggantung di udara.
Atalaric menunduk sesaat. Napasnya tertahan, dan air mata yang sejak tadi ia paksa bertahan akhirnya jatuh juga dari sudut matanya, meluncur tanpa suara. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap punggung tangan Arkan yang dingin—gerakan kecil, penuh kehati-hatian, seolah sentuhan itu adalah satu-satunya cara ia bisa memastikan bahwa anaknya masih ada.
"Daddy merindukanmu, Arkan" ucapnya, nyaris berbisik. "Sangat."
Ia menarik napas dalam, panjang, seakan sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang masih ia miliki.
"Daddy rindu senyummu" lanjutnya lirih. "Rindu caramu tertawa, rindu caramu bicara—bahkan suara langkah kakimu di lorong mansion itu pun daddy rindukan."
Matanya kembali menelusuri wajah Arkan, mencari tanda sekecil apa pun—gerakan, perubahan napas, atau mungkin keajaiban yang selama ini ia tunggu.
"Mansion terasa terlalu sunyi tanpamu, nak" katanya pelan. "Tidak ada yang benar-benar baik-baik saja selama kau masih terbaring di sini… terutama Kanza."
Pandangan Atalaric kosong sejenak, pikirannya melayang pada sosok anak yang selama tiga hari terakhir nyaris melupakan dirinya sendiri.
"Arkan" panggilnya lagi, suaranya kini lebih berat. "Apakah kau tahu?"
Ia menghela napas panjang, seolah setiap tarikan udara membawa serta rasa bersalah yang tak kunjung pergi.
"Kanza… adikmu… tidak pernah memikirkan kondisinya sendiri" ucap Atalaric. "Ia tidak makan dengan benar. Tidurnya selalu terputus. Dan setiap kali daddy menatap matanya, yang daddy lihat hanyalah ketakutan kehilanganmu."
Suara Atalaric bergetar, namun ia menahannya. Ia tidak ingin tangisnya terdengar lebih keras daripada harapannya sendiri.
"Kau adalah pusat dunianya" lanjutnya. "Selama ini mungkin kau tidak menyadarinya. Tetapi baginya, dunia terasa aman hanya ketika kau ada."
Ia menggeleng kecil. Senyum pahit terukir di wajahnya—senyum seseorang yang baru menyadari betapa besar peran anaknya dalam hidup yang lain.
"Karena itu daddy memohon" ucapnya. "Bukan untuk daddy."
Genggamannya mengencang sedikit, seolah ingin menyalurkan seluruh doanya lewat sentuhan itu.
"Daddy bisa menunggu" lanjutnya. "Selama apa pun itu. Daddy adalah orang dewasa. Daddy tahu bagaimana caranya bertahan."
Namun suaranya melemah pada kalimat berikutnya, nyaris runtuh oleh kejujuran yang terlalu menyakitkan.
"Namun ada satu anak lain… yang tidak tahu bagaimana caranya bertahan tanpamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
