Semua orang di ruangan itu terdiam membisu setelah mendengar ucapan Kanza. Tidak ada satu pun yang menyangka kalau liontin itu ternyata begitu berharga baginya. Mereka tidak tahu bahwa benda kecil itu adalah pemberian terakhir dari bunda Kanza—satu-satunya kenangan yang masih tersisa. Suasana berubah sunyi, tak seorang pun berani bersuara. Mereka bingung harus bersikap seperti apa, tak tahu siapa yang harus dibela.
Jujur saja, kesalahan Arkan memang tidak bisa dibenarkan. Ia telah ceroboh menghilangkan milik orang lain dan lebih dari itu, sebuah benda yang sangat spesial dan bermakna. Tapi di sisi lain, tak satu pun dari mereka sanggup menyudutkan Arkan lebih jauh. Apalagi melihat Arkan yang kini berdiri gemetar ketakutan setelah dibentak oleh Kanza—seseorang yang selama ini selalu melindungi dan membelanya.
Arkan hanya bisa menunduk dalam diam, menelan rasa bersalah yang seolah tak ada habisnya. Andai saja tadi ia tidak membuka kotak merah itu. Andai saja ia tidak memasukkan liontin itu ke saku celananya—yang ternyata bolong. Maka semua ini mungkin takkan pernah terjadi. Dalam hatinya, Arkan menyesal… sangat menyesal. Tapi ia tahu, penyesalan dan air mata saja tidak cukup untuk memperbaiki semuanya. Tidak cukup untuk menghapus amarah di mata Kanza. Dan yang pasti, tidak cukup untuk membawa liontin itu kembali.
Namun di tengah keterpurukan itu, Arkan membuat keputusan.
Dengan napas berat dan tangan gemetar, ia menghapus air matanya yang terus mengalir. Lalu menatap Kanza dengan penuh tekad, mencoba menegakkan tubuhnya yang hampir roboh karena beban rasa bersalah. "Kanza, Arkan tau kalau Arkan udah buat kesalahan karena udah buat liontin Kanza ilang. Arkan minta maaf dan Arkan janji bakal temuin liontin itu lagi. Arkan bakal temuin liontin itu sekarang juga," ucapnya lantang.
Seketika itu juga, semua mata kini tertuju pada Arkan—anak yang selalu terlihat rapuh, tapi kini berani berdiri dan menebus kesalahannya, demi satu hal yang sangat berarti bagi saudara kembarnya.
"Arkan? Apakah kau yakin bisa menemukannya?" tanya Zavier pelan, memastikan, sembari menepuk lembut bahu adiknya yang masih sedikit gemetar. Arkan mengangguk, lalu tersenyum kecil, meski matanya masih tampak sembab.
"Arkan yakin, kak" jawabnya cepat, penuh keyakinan. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berbalik dan melangkah keluar dari kamar, menuju halaman belakang mansion yang luas—satu-satunya tempat yang ia curigai sebagai lokasi terakhir liontin itu jatuh.
Zavier memandangi punggung Arkan sejenak, lalu menghela napas dan berkata, "daddy, Vier akan membantu Arkan dulu." Atalaric hanya mengangguk tenang, tak berkata apa pun. Ia tahu Zavier tak akan membiarkan adiknya berjuang sendirian.
Zavier segera menyusul Arkan, diikuti oleh adik-adiknya yang lain.
"Kita ikut" sahut Navarro, mewakili suara mereka semua. Langkah-langkah cepat mulai terdengar menjauh dari koridor, menyiratkan bahwa mereka sepakat untuk turun tangan. Bukan hanya demi liontin itu, tapi demi meredakan pertengkaran antara si kembar. Mereka rindu melihat keduanya akur kembali seperti dulu.
Kini kamar itu hanya menyisakan dua orang: Kanza, yang masih berdiri dengan mata nanar dan napas belum stabil, serta Atalaric, yang berdiri tak jauh darinya.
Atalaric tahu betul—setiap kali ia mencoba mendekati Kanza, anak itu selalu menjaga jarak. Selalu menarik diri seolah ingin mengatakan: jangan terlalu dekat. Tapi kali ini, Atalaric tidak akan menyerah. Biarpun Kanza menolak untuk kesekian kalinya, ia akan tetap berusaha. Karena bagi Atalaric, menjadi ayah artinya tetap berdiri di samping anakmu… bahkan saat anakmu sendiri tidak mengizinkanmu masuk ke dalam dunianya.
Atalaric mendekat perlahan, menjaga nada suaranya tetap tenang. Ia tahu, mendekati Kanza saat seperti ini sama seperti berjalan di atas pecahan kaca.
"Kanza… daddy tahu kau sedang marah. Dan daddy tidak akan memintamu untuk berhenti marah sekarang, karena daddy mengerti bahwa perasaan seperti itu tidak mudah dikendalikan," ucap Atalaric perlahan. "namun izinkan daddy berada di sini. Setidaknya untuk menemanimu melewati perasaan itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
