ARKANZA || 27

1.2K 83 9
                                        

Keesokan paginya, cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar Arkan, menyapa lembut wajah anak itu. Sinar yang perlahan menari di pelupuk matanya membuat Arkan menggeliat kecil, merasa sedikit terganggu. Matanya masih terpejam, tapi tubuhnya bergerak perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan pagi yang mulai hadir.

Di tengah kantuk yang belum sepenuhnya hilang, terdengar sapaan lembut yang amat familiar menyapa telinganya—suara yang sangat ia kenal, suara yang bisa membuatnya merasa aman hanya dengan satu kata.

"Ayo bangun Arkan, udah pagi."

Kedua kelopak mata Arkan perlahan terbuka, meski belum sepenuhnya sadar. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum hangat yang tulus, seolah suara itu membawa kelegaan mendalam.

"Kanza" panggilnya lirih, sedikit serak, namun penuh kerinduan. Pandangannya masih samar, tapi ia bisa melihat sosok Kanza berdiri di hadapannya. Sosok itu tersenyum, berdiri tepat di antara dirinya dan cahaya matahari, seolah sengaja melindunginya dari gangguan sinar yang menyilaukan.

"Iya, ini gue. Bangun yuk, ini udah pagi. Yang lain udah pada nungguin tuh di bawah" ujar Kanza, masih dengan suara lembut yang tidak biasa, menenangkan hati Arkan seketika.

"Kanza udah gak marah sama Arkan?" tanya Arkan pelan, masih dalam posisi setengah duduk, seolah takut pertanyaan itu mengusik suasana damai yang baru ia rasakan.

Kanza menggeleng pelan.

"Enggak, gue udah gak marah sama lo. Gue udah maafin kesalahan lo. Sekarang ayo bangun." Suara itu begitu tenang, dan kini tangan Kanza terulur ke arahnya, mengajak Arkan untuk bangkit dari tempat tidur.

Senyum Arkan makin mengembang, senyum penuh rasa lega. Ia mengangguk cepat dan langsung mengulurkan tangannya, ingin meraih tangan Kanza. Namun sesaat sebelum ia menyentuhnya, sosok itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangannya.

Sejurus kemudian, Arkan tersentak. Ia terkejut, panik, langsung bangkit dan menatap sekeliling kamar dengan bingung.

"Iya, Kan—Kanza? Kanza di mana? Kok Kanza ilang?" gumamnya, terus memanggil-manggil nama sang kembaran, harap-harap cemas. Tapi tak ada siapa-siapa. Kamar itu sunyi. Tak ada Kanza.

Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya Arkan terdiam. Ia menyadari semuanya. Hanya halusinasi. Hanya bayangannya sendiri.

Senyuman yang semula mengembang pun perlahan memudar. Wajahnya kembali redup, dan kesedihan yang berusaha ia lupakan semalaman, muncul lagi tanpa permisi. Tapi Arkan mencoba kuat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri meski hatinya belum tenang.

Ia menggeleng kecil, menasihati dirinya sendiri.

"Enggak, Arkan gak boleh kebanyakan nangis. Daripada Arkan nangis, mendingan Arkan mandi. Iya, itu jauh lebih baik!" ucapnya pelan, mencoba memotivasi diri sendiri, lalu segera beranjak ke kamar mandi.

Tak butuh waktu lama, Arkan selesai bersiap. Ia keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang sudah rapi melekat di tubuhnya. Sekilas, ia tampak siap menghadapi hari seperti biasa. Tapi sorot matanya belum bisa berbohong—masih sembap, masih menyisakan jejak malam yang penuh tangis.

Arkan melangkah menuju tangga untuk turun ke ruang makan, namun seperti ada sesuatu yang menahan langkahnya. Lagi dan lagi, ia berhenti tepat di depan kamar Kanza. Tatapannya jatuh pada piring dan gelas yang masih tergeletak utuh di depan pintu. Tidak tersentuh sedikit pun. Tidak ada bekas makan ataupun minum. Itu berarti Kanza benar-benar tidak menyentuh makanan semalam.

Arkan menghela napas pelan. Tangannya sempat terangkat, berniat mengetuk pintu, tapi niat itu segera ia urungkan. Ia mengatupkan jemarinya kembali, menunduk sebentar, lalu memutuskan untuk berjalan menuju ruang makan.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang