ARKANZA || 47

867 53 13
                                        

"Kenapa kalian berdua malah diem dan saling liat-liatan? Ayo segera kumpulkan buku kalian di depan, Arkanza" suara tegas sang guru kembali terdengar, menatap tajam ke arah si kembar yang masih belum juga bergerak dari tempat duduk mereka.

Nada mendesak dalam suara sang guru membuat Kanza menghela napas berat, seolah seluruh tenaganya tersedot habis hanya untuk menerima kenyataan. Sepertinya memang tidak ada jalan keluar lagi untuk dirinya kali ini. Ia tahu, cepat atau lambat, hukuman itu akan datang juga. Kanza hanya bisa pasrah pada nasibnya. Ah, sial, rutuknya dalam hati. Kalau tahu ujung-ujungnya akan dihukum juga, lalu untuk apa dirinya semalam repot-repot mengerjakan PR itu? Ia sudah lelah, sudah bersusah payah menyelesaikannya meskipun tubuhnya terasa berat karena kantuk. Tapi sekarang, semua usahanya terasa sia-sia hanya karena satu kesalahan konyol yang ia perbuat sendiri. Rasa kesal dan kecewa bercampur jadi satu di dadanya. Rasanya Kanza ingin menjedotkan kepalanya ke meja saking frustrasinya atas kebodohan yang baru saja ia sadari.

Ketika Kanza hendak berdiri dari kursinya untuk mengaku, tiba-tiba saja suara Arkan terdengar lebih dulu, memecah keheningan kelas.

"Maaf, bu, tapi Arkan lupa bawa bukunya" ucap Arkan dengan tenang, menatap sang guru tanpa ragu sedikit pun.

Ucapan itu sontak membuat Kanza mendongak cepat, menatap kembarannya dengan mata membulat tak percaya. Begitu pula seluruh murid di kelas yang langsung menoleh ke arah Arkan dengan tatapan heran. Semua tahu betul, Arkan bukan tipe siswa yang teledor atau lupa membawa tugas. Maka ketika Arkan berkata demikian, reaksi kaget dari seluruh kelas pun tak terhindarkan.

Kanza refleks menarik-narik ujung seragam Arkan sambil berbisik dengan nada protes.

"Lo ngapain ngomong kayak gitu, Ar? Lo udah nggak waras, ya?" ujarnya pelan tapi tajam, jelas menunjukkan ketidaksetujuannya.

"Arkan masih waras, Kanza" balas Arkan dengan nada yang sama pelannya, sedikit tersinggung karena dibilang tidak waras oleh kembarannya sendiri. Ia menatap sekilas ke arah Kanza, lalu kembali menatap guru di depan kelas ketika suara sang guru kembali terdengar, kini dengan nada curiga.

"Kalau kamu lupa, terus buku yang ada di atas meja kamu itu punya siapa, Arkan?" tanya sang guru, pandangannya terarah pada buku yang tergeletak di atas meja Arkan.

Tanpa ragu, Arkan segera menggeser buku itu ke arah Kanza. "ini bukunya Kanza, bu" jawab Arkan masih dengan suara tenang, meski jantungnya berdebar kencang tak karuan.

Sebenarnya, di dalam hati ia sangat gugup. Ia tahu betul bahwa apa yang ia lakukan ini adalah kebohongan. Arkan bukan tipe anak yang suka melanggar aturan, apalagi sampai berani membohongi guru. Tapi kali ini berbeda — ia tidak ingin melihat Kanza dimarahi atau dihukum. Karena itu, ia harus tetap terlihat tenang dan meyakinkan seolah ucapan barusan adalah kebenaran mutlak.

Mendengar ucapan Arkan, Kanza semakin heran dan tak habis pikir dengan jalan pikiran kembarannya itu. Ia tahu memang tadi sempat meminta pertolongan pada Arkan, tapi jelas bukan seperti ini yang ia maksud. Ia tidak pernah menginginkan Arkan sampai mengorbankan dirinya demi menolongnya. Ia bahkan belum sempat membuka mulut untuk menegur Arkan lagi ketika suara sang guru kembali terdengar, kali ini lebih tegas dan berwibawa, membuat mulut Kanza langsung terkatup rapat.

"Arkan, karena kamu sudah melakukan kesalahan, maka ibu harus memberikan hukuman kepada kamu" ucap sang guru dengan nada tegas. Arkan mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan ketenangan seolah dirinya telah siap menerima konsekuensi dari perbuatannya.

"Sekarang kamu keluar dari kelas ibu dan berdiri di tengah-tengah lapangan. Kamu hormat di sana sampai jam pelajaran ibu selesai. Apakah kamu mengerti?" lanjut sang guru menjelaskan bentuk hukumannya.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang