"Ketika satu kepingan ingatan kembali, rahasia yang selama ini dijaga pun mulai kehilangan tempat untuk bersembunyi."
....
"Kanza?"
Suara itu keluar hampir bersamaan dari beberapa orang yang memandangnya dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan. Selama beberapa saat, tidak ada seorang pun yang bergerak. Mereka hanya menatap Kanza dalam diam, seolah memastikan bahwa sosok yang kini berdiri di hadapan mereka benar-benar nyata dan bukan sekadar harapan yang sejak tadi mereka nantikan.
Sementara itu, Kanza tetap mempertahankan raut wajah datarnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mulai melangkah meninggalkan ambang pintu mansion. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, tetapi juga tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus mengarah ke depan, hingga akhirnya berhenti beberapa langkah di hadapan keluarganya.
Keheningan kembali menyelimuti halaman mansion.
Di balik keterkejutan yang masih membekas, kelegaan perlahan memenuhi hati masing-masing anggota keluarga Moonstone. Tidak sedikit dari mereka yang ingin menghampiri Kanza, menanyakan keadaannya, atau sekadar memastikan bahwa keputusan itu benar-benar datang dari keinginannya sendiri. Namun, tidak seorang pun mengambil langkah tersebut.
Mereka sama-sama memahami bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membanjirinya dengan pertanyaan ataupun perhatian yang berlebihan. Setelah tiga hari mengurung diri di dalam kamar, kemauan Kanza untuk keluar dan berdiri di hadapan mereka saja sudah merupakan sebuah kemajuan yang sangat berarti.
Arkan pun tidak berbeda.
Sorot matanya sejak tadi tidak pernah lepas dari wajah saudara kembarnya itu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan, tetapi pada akhirnya ia memilih menahannya. Ia tidak ingin tergesa-gesa, apalagi sampai membuat Kanza merasa tertekan setelah berhasil memberanikan diri melangkah sejauh ini.
Atalaric memandang putra bungsunya dengan tatapan yang lembut. Senyum tipis perlahan menghiasi wajahnya sebelum ia bertanya dengan suara yang tenang.
"Kau benar-benar yakin ingin ikut bersama kami, Kanza?"
Kanza membalas tatapan itu selama beberapa saat.
Kemudian, ia menganggukkan kepala pelan.
"...boleh, kan?"
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat senyum Atalaric semakin menghangat.
"Tentu saja boleh, nak."
Jawabannya terdengar tanpa sedikit pun keraguan.
Kanza hanya mengangguk pelan sebagai balasan.
Tanpa menambahkan apa pun lagi, ia melangkah menuju mobil yang telah dipersiapkan untuk keluarga Moonstone. Carlos segera membukakan pintu belakang dengan penuh hormat, memberi jalan agar Kanza dapat masuk terlebih dahulu.
Setelah memastikan putra bungsunya telah berada di dalam mobil, Atalaric perlahan mengalihkan pandangan kepada kelima putranya yang lain. Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun, tatapan singkat itu sudah cukup untuk menyampaikan maksudnya.
Kelima putranya saling bertukar pandang sebelum menganggukkan kepala kecil sebagai tanda mengerti.
Sebelum melangkah masuk, Zavier lebih dahulu mengisyaratkan kepada Arkan agar memasuki mobil terlebih dahulu. Arkan segera memahami maksud sang kakak. Tanpa berpikir panjang, ia mengangguk pelan, lalu melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di sisi Kanza.
Beberapa saat kemudian, Zavier, Shaka, Galen, dan Navarro menyusul memasuki kendaraan yang sama, sementara Atalaric baru masuk setelah memastikan seluruh putranya telah berada di tempat masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiction GénéraleArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
