ARKANZA || 23

1.4K 83 10
                                        

Happy reading 💙

.
.
.

Kanza tidak menjawab. Ia hanya membuang pandang sejenak, lalu mengalihkan perhatiannya ke arah keluarga mereka yang kini mulai mendekat. Zavier, Shaka, Galen, dan Navarro tampak berjalan santai di belakang Arkan, masing-masing dengan gaya khas mereka. Di antara mereka, Atalaric melangkah paling depan dengan tenang namun penuh wibawa, seperti biasa.

Meski terlihat tenang di luar, Kanza masih berusaha mempertahankan sikap santainya, meski kedua tangannya kini menggenggam erat paper bag yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tubuh. Sementara itu, Carlos berdiri sedikit lebih tegak di sisinya, seolah ikut bersiap kalau sewaktu-waktu harus turun tangan menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

"Akhirnya kalian ketemu juga" ucap Zavier, menatap Carlos dan Kanza bergantian. Kalimat itu menjadi pengantar dari perasaan lega sekaligus heran karena mereka semua sempat dibuat kebingungan mencari keberadaan dua orang ini yang tiba-tiba menghilang dari toko buku.

"Kalian dari mana saja? Kenapa tidak mengatakan apa pun kalau ingin pergi dari toko buku?" tanya Atalaric dengan nada tegas namun tetap tenang.

Carlos menunduk sedikit, memberi hormat. "mohon maaf, Tuan. Tadi tuan muda merasa bosan berada di sana. Maka dari itu saya berinisiatif untuk menemaninya, demi memastikan keamanannya. Hanya saja, saya lalai karena lupa meminta izin kepada anda terlebih dahulu."

Carlos berbohong, tapi bohongnya penuh kehati-hatian dan niat baik. Ia melindungi janji yang telah dibuat kepada Kanza.

Kanza menoleh ke arah pria itu dengan pandangan sedikit tak percaya. Tidak menyangka bahwa Carlos benar-benar menepati janjinya untuk tidak membuka mulut soal toko boneka-hal yang sebenarnya sangat mudah bagi Carlos untuk bocorkan, tapi nyatanya, tidak ia lakukan.

Atalaric menghela napas, kemudian mengangguk kecil. "Baiklah. Tidak apa-apa. Saya tidak akan marah."

Ucapan Atalaric barusan sedikit melegakan baik bagi Carlos maupun Kanza. Namun, meski suasana mulai mencair, Kanza masih tetap waspada. Ia terus menyembunyikan paper bag-nya dengan rapi di balik tubuh, memastikan tidak satu pun dari mereka mencurigai apa yang tengah ia bawa.

Namun, dari antara mereka, Galen tampak menyipitkan mata. Pandangannya tajam, penuh selidik. Ia seperti menangkap ada sesuatu yang janggal. Kecurigaan pun mulai tumbuh, dan bibirnya nyaris bergerak untuk bertanya.

"Kanza, apa-"

Namun suara Galen langsung terpotong cepat oleh Kanza.

"Yaudah, sekarang kita mau pergi ke mana lagi?" sela Kanza cepat sambil melirik sekilas ke arah Galen, mencoba mengalihkan perhatian sebelum pertanyaan itu sempat dilontarkan.

Galen terdiam, sedikit mendengus kecil tapi tak melanjutkan ucapannya.

"Ke timezone? Mau?" usul Navarro tiba-tiba dengan mata berbinar. Seperti biasa, kalau ke mall tapi tidak mampir ke tempat itu, rasanya ada yang kurang.

Di antara semuanya, Kanza justru yang paling cepat dan bersemangat menanggapi.

"Ke timezone? Ayo, bang! Kanza setuju!! Ayo kita ke sana sekarang!!" seru Kanza antusias sambil langsung menarik-narik lengan Navarro, seolah tak ingin memberi waktu siapa pun untuk menolak.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang