ARKANZA || 24

1.3K 70 5
                                        

Happy reading 💙

.
.
.

Pukul 01.17

Shaka merenggangkan otot-ototnya sebentar, setelah ia menyelesaikan pekerjaan nya di ruang kerja pribadi. Kepala serta punggungnya bersandar pada kursi kerja, memejamkan matanya sejenak.

"Untukmu" ujar Zavier, mengulurkan buku itu dengan tenang pada sosok yang berdiri diam di antara rak-rak, Shaka.

Shaka, yang sejak tadi tenggelam dalam memilih buku pilihannya sendiri, mendongak tanpa banyak ekspresi. Tatapannya datar, khas dirinya. "apa itu?" tanyanya tanpa bergerak sedikit pun, bahkan tangannya tetap di tempat.

"Coba ambil dan baca judul buku yang telah aku pilih khusus untuk dirimu," balas Zavier dengan senyum penuh arti.

"Kau itu tidak pernah mau mendengarkan nasihat dariku. Jadi sudah kuputuskan, aku harus memberimu buku spesial ini. Mungkin dengan membaca buku ini, kau bisa berubah."

Zavier menatap adiknya dengan serius, penuh harap. "sudah kukatakan sebelumnya, kau tidak perlu menjadi pendiam dan dingin saat ada di sekitar keluargamu. Ingatlah, mereka keluargamu, bukan musuhmu. Kalau kau terus seperti ini, kau bisa menyesal saat mereka sudah tidak ada di sisimu lagi. Setidaknya, kau harus memiliki kenangan manis bersama mereka."

Shaka mendengus samar. "kau tidak perlu repot-repot memberiku nasihat. Ambil kembali bukumu itu. Aku sama sekali tidak membutuhkannya."

"Kau membutuhkannya. Jadi ambil," jawab Zavier cepat, nada suaranya tidak meninggi, tapi mantap-mengundang tatapan tajam dari Shaka.

"Tidak."

"Kau membutuhkannya, Shaka."

Kedua mata Shaka kembali terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Pikirannya perlahan kembali pada obrolannya dengan Zavier di toko buku tadi siang. Ia mendengus samar, lalu melirik ke arah buku pemberian si sulung yang ternyata masih tersimpan rapih di dalam paper bag, di atas meja dekat sofa ruang kerjanya.

"Tidak, aku tidak tertarik dengan buku itu. Aku tidak akan pernah membacanya" gumam Shaka datar, memalingkan pandangan dari paper bag itu. Seolah benda itu tengah mencoba memanggilnya diam-diam, mengusik ketenangannya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Shaka tetap duduk di tempatnya, bersandar tanpa ekspresi. Tapi entah karena bosan atau kesal dengan pikirannya sendiri, ia akhirnya berdecak pelan, lalu berdiri dengan gerakan enggan. Dengan langkah malas, ia berjalan mendekat dan meraih paper bag tersebut. Tangannya terulur mengeluarkan buku di dalamnya-sebuah buku dengan judul yang langsung membuat alisnya terangkat sebelah. Judulnya terdengar terlalu kekanak-kanakan, bahkan cenderung konyol menurut standar Shaka.

Ia duduk di sofa, kali ini dengan buku itu di tangan. Pandangannya terhenti sejenak di bagian sampul sebelum ia membuka halaman pertama. Ekspresinya tetap datar, dingin tanpa kesan antusias. Namun, matanya terus mengikuti tiap baris tulisan. Satu halaman berlalu, lalu satu lagi.

"Cih, menjijikkan" gumamnya sinis, meski tak menghentikan aktivitasnya. Justru sebaliknya, matanya masih terus membaca, nyaris tanpa berkedip. Seolah kata-kata barusan hanya reaksi spontan yang tak benar-benar mencerminkan pikirannya. Tidak ada satu huruf pun yang ia lewatkan.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang