Sebuah mobil mewah terparkir dengan tenang di halaman utama mansion Moonstone. Kilap bodinya memantulkan cahaya sore, mencerminkan kesan rapi dan berkelas dari pemiliknya. Tak lama, pintu mobil terbuka, dan seorang pemuda bertubuh tinggi keluar dengan pakaian formal yang tampak tegas namun elegan. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, namun setiap langkahnya menunjukkan wibawa yang sulit diabaikan. Suara sepatu kulitnya menggema ringan menyusuri lantai marmer yang mengilap saat ia melangkah masuk ke dalam mansion.
Begitu memasuki ruang tengah, pandangannya langsung tertuju pada sosok Arkan yang baru saja duduk sembari menyandar di sofa panjang. Napas adiknya itu tampak memburu, dan pelipisnya basah oleh keringat. Seolah baru saja kembali dari sebuah usaha yang cukup menguras tenaga. Shaka tidak langsung bertanya. Ia hanya berdiri sejenak, mengamati.
Lalu, suaranya terdengar rendah namun jelas, memecah keheningan ruangan yang lengang.
"Kau habis dari mana?"
Arkan yang sejak tadi menunduk, perlahan
mendongak. "tadi Arkan abis dari halaman belakang, kak." jawabnya lirih. Nadanya terdengar lelah, napas nya masih
belum sepenuhnya teratur.
"Mencari liontin?"
"Iya," angguk Arkan pelan. "tapi gak ketemu" tambahnya, kemudian kembali menunduk, tatapannya kosong menatap marmer di bawah kakinya.
Shaka menarik napas pendek, lalu ikut duduk di sofa. Ia mengangkat salah satu tangannya, menarik dasi yang melilit lehernya dan melonggarkannya sedikit, seolah ada rasa gerah yang ingin ia lepaskan. Wajahnya tetap datar, tapi sorot matanya tajam dan jernih.
"Memang biasanya begitu" ucapnya datar, namun penuh makna. Kalimatnya membuat Arkan menoleh lagi, menatap wajah kakaknya yang kini sibuk menggulung lengan kemejanya dengan tenang, setelah ia melepas jas nya.
"Semakin dicari, semakin tak ditemukan. Tapi saat tidak dicari, justru muncul dengan sendirinya."
Arkan terdiam mendengarnya. Kalimat itu terasa mengendap dalam benaknya. Ia menunduk sekali lagi, namun kali ini bukan karena kelelahan fisik—melainkan karena gelisah.
"Terus… Arkan harus apa, kak?" tanyanya pelan. "kalau liontin itu gak ketemu juga… Arkan gak akan pernah dimaafin sama Kanza."
Nada suaranya melemah, seolah nyaris pecah. Ia menatap lurus ke depan, namun pikirannya tertinggal jauh di belakang. Bayangan wajah Kanza yang menjauh, yang menatapnya dingin dan penuh luka, terus membayangi pikirannya. Setiap jarak yang diciptakan Kanza, terasa seperti pisau perlahan yang mengiris perasaan bersalah di hatinya.
Shaka hanya menoleh sedikit, sekilas, tanpa banyak ekspresi. Tapi nadanya tetap tegas dan jernih.
"Kalau kau menggantungkan semuanya pada liontin itu, kau hanya akan mempersulit dirimu sendiri."
Lalu, tanpa memberi jeda, ia melanjutkan—
"Ada banyak cara lain yang bisa kau lakukan untuk menunjukkan niat baikmu. Jadi jangan terlalu berpatokan pada liontin itu. Jika memang waktunya tepat, benda itu akan muncul sendiri."
Setelah mengatakan itu, Shaka berdiri dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Tubuhnya tegap saat memasuki lift menuju lantai atas, membiarkan Arkan duduk sendiri dalam keheningan yang kembali menyelimuti ruang tengah.
Arkan tak bergerak. Tatapannya kosong, pikirannya mulai berkecamuk.
"Cara lain...? Emangnya bisa, ya? …Kanza bahkan udah gak mau liat Arkan lagi." suara Arkan lirih, nyaris tertelan keheningan ruangan. Ia menunduk dalam, kedua sikunya bertumpu pada lutut, dan jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan—tegang, seperti sedang menahan sesuatu yang tak ingin runtuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
