ARKANZA || 65

216 27 3
                                        

"Daddy!!"

Begitu teriakan Arkan menggema hingga keluar kamar, derap langkah tergesa segera terdengar dari lorong lantai dua menuju kamar Kanza. Beberapa saat kemudian, Atalaric dan Zavier muncul di ambang pintu dengan wajah yang jelas memperlihatkan kepanikan.

"Arkan, ada apa?" tanya Atalaric. Namun, kalimatnya terputus begitu dirinya dan Zavier menangkap pemandangan di hadapan mereka. Keduanya sempat terdiam beberapa saat.

Di depan mereka, Arkan tampak memeluk Kanza dari belakang dengan kedua lengan yang melingkar erat di tubuh saudara kembarnya. Wajah Arkan masih basah oleh air mata, sementara napasnya memburu karena terus berusaha menahan tubuh Kanza yang sejak tadi meronta tanpa henti.

"Kanza... tolong... jangan kayak gini..." ucap Arkan dengan suara bergetar.

Namun, Kanza seolah sudah tidak lagi mampu mendengar apa pun.

"Lepasin gue!" bentaknya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Arkan.

Tubuhnya terus memberontak ke segala arah hingga beberapa kali membuat Arkan kehilangan keseimbangan. Di tengah usahanya menenangkan sang adik, Arkan akhirnya menyadari kehadiran Atalaric.

"Daddy...!" seru Arkan di sela tangisnya. "Tolongin Kanza..."

Tanpa membuang waktu, Atalaric dan Zavier sempat saling bertukar pandang, seolah berbagi pemahaman dalam diam, sebelum segera menghampiri kedua anak itu.

"Arkan, kau mundur dulu."

Suara Atalaric tetap terdengar tenang, meski sorot matanya menyimpan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.

Arkan menggeleng pelan.

"Tapi daddy—"

"Mundur."

Kali ini nada suaranya sedikit lebih tegas.

Arkan akhirnya menurut. Dengan berat hati, ia perlahan melepaskan pelukannya lalu mundur beberapa langkah. Dadanya masih naik turun, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari Kanza. Melihat keadaan itu, Zavier segera memeluk tubuh Arkan.

"Kanza akan baik-baik saja. Jangan khawatir."

Bisikan Zavier terdengar pelan sebagai upaya menenangkan Arkan sekaligus dirinya sendiri. Meski menyadari bahwa kata-kata itu mungkin tidak akan banyak mengubah keadaan, setidaknya itulah yang bisa ia lakukan saat ini, sementara tubuh Arkan masih gemetar di dalam pelukannya.

Di saat yang sama, begitu Arkan menjauh, Atalaric segera mengambil alih. Ayah enam anak itu menahan kedua lengan Kanza agar anaknya tidak kembali melukai diri sendiri dan bisa berhenti memberontak.

"Kanza," panggil Atalaric dengan suara rendah. "Daddy di sini." Tatapannya tertuju pada wajah Kanza dengan campuran rasa khawatir, keseriusan, dan kepanikan. Namun, panggilan itu sama sekali tidak membuat Kanza berhenti.

"Nak, tolong tenanglah. Jangan seperti ini. Kalau kau terus seperti ini, daddy khawatir kalau kau—"

Belum sempat Atalaric menyelesaikan kalimatnya, Kanza tiba-tiba berhasil melepaskan diri dari cengkeramannya.

"Kalian semua itu nggak ngerti apa-apa! Jadi jangan ikut campur!"

Bentakan itu menggema memenuhi kamar hingga urat-urat di lehernya tampak menonjol akibat emosi yang terus memuncak. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara kedua matanya menatap keluarganya dengan sorot penuh kepanikan yang bahkan sulit ia kendalikan sendiri.

Suasana kamar seketika berubah hening.

Sesaat setelah bentakan itu menggema, seluruh anggota keluarganya yang berada di sana langsung tersentak dan membisu. Bahkan, Zavier tanpa sadar melepaskan pelukannya dari Arkan.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang