ARKANZA || 44

835 48 3
                                        

Ini double up nya yaa...
selamat membaca semuanya 🌺

Sekarang waktu istirahat telah tiba. Tanpa berpikir panjang, kedua saudara kembar itu segera bergegas menuju rooftop sekolah sambil membawa sepuluh pesawat kertas yang sejak tadi dibuat Kanza di kelas. Mereka melangkah diam-diam, berusaha agar tidak terlalu menarik perhatian, seolah rooftop tersebut adalah tempat rahasia yang hanya mereka berdua ketahui.

Begitu tiba di sana, keduanya berjalan mendekat ke pembatas rooftop. Wajah Kanza terlihat berbinar penuh semangat, jelas sekali betapa ia tidak sabar untuk segera menerbangkan hasil kreasinya. Arkan, yang sejak tadi memperhatikan tingkah kembarannya, hanya bisa tersenyum tipis melihat antusiasme itu.

"Ar, kebetulan banget anginnya lagi sepoi-sepoi!! Ayo kita terbangin sekarang!!" seru Kanza dengan penuh kegembiraan, hampir melompat kecil saking tak sabarnya.

"Iya, Kanza, iya. Kita terbangin sekarang pesawatnya" balas Arkan dengan nada lembut. Setelah itu, mereka berdua mulai bersiap-siap.

"Kanza siap? Arkan itung sampai tiga ya?!" ujar Arkan sambil mengangkat pesawat kertasnya.

"Okeyy, gue siapp, Arkan!!" jawab Kanza antusias, matanya berbinar penuh semangat.

Arkan pun mulai menghitung perlahan. Satu... dua... tiga! Serentak keduanya melontarkan pesawat kertas ke udara. Satu demi satu pesawat itu meluncur mengikuti arah angin. Karena jumlahnya sepuluh, Kanza membaginya rata: lima untuk dirinya sendiri dan lima lainnya ia serahkan kepada Arkan. Hingga akhirnya, tibalah giliran pesawat terakhir. Kali ini, mereka menghitung bersama-sama, lalu melontarkan pesawat itu secara bersamaan. Potongan kertas sederhana itu pun terbang tinggi, terbawa angin yang mengalir lembut, membuat keduanya bersorak senang.

"Arkannn, liat! Pesawat gue terbangnya lebih tinggi ketimbang punya lo!!" teriak Kanza dengan bangga, menatap lekat-lekat pesawatnya yang terhempas angin semakin jauh.

"Ihh, Kanza sombong" sahut Arkan pura-pura memasang ekspresi sinis, meskipun tak lama kemudian senyuman tipis kembali merekah di bibirnya.

Ketika pesawat-pesawat itu mulai menghilang terbawa angin, Arkan menghela napas panjang, seolah melepaskan segala beban bersama dengan kertas-kertas kecil itu. Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan semilir angin rooftop menyentuh wajahnya dengan lembut. Kanza, yang melihat kembarannya menikmati suasana, ikut-ikutan memejamkan mata, merasakan kesejukan udara yang menerpa tubuhnya.

"Ternyata gini ya rasanya bisa hidup bebas tanpa terbelenggu sama apa pun," ujar Kanza tiba-tiba, suaranya terdengar lebih dalam daripada biasanya. Ia tetap memejamkan mata, namun ucapannya mampu membuat Arkan spontan membuka mata dan menoleh ke arahnya.

"Jangan ngeliatin gue kaya gitu," tegur Kanza pelan, masih dengan mata terpejam. Tanpa perlu melihat pun, ia tahu kembarannya tengah menatapnya lekat-lekat. Arkan tersentak kecil, buru-buru memalingkan wajahnya agar tidak ketahuan lebih lama.

Ia lalu memilih mengalihkan pandangannya ke arah bawah, menatap halaman sekolah yang dipenuhi para siswa lain. Dari atas rooftop, Arkan bisa melihat dengan jelas bagaimana sekelompok murid bercanda, tertawa, dan saling mengobrol dengan riang. Pemandangan sederhana itu membuat bibir Arkan kembali melengkung dalam senyuman hangat.

"Lo nggak bosen selalu senyum terus, Ar?" tanya Kanza tiba-tiba sambil membuka matanya. Ia menatap Arkan penuh keheranan, seolah tak habis pikir bagaimana kembarannya bisa begitu mudah tersenyum hanya dengan melihat hal-hal kecil semacam itu.

Arkan menoleh sekilas lalu menggeleng pelan, senyumnya tetap bertahan.

"Kenapa?" tanya Kanza lagi, kali ini lebih penasaran, ingin tahu alasan di balik senyum sederhana yang seakan tak pernah habis dari wajah Arkan.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang