ARKANZA || 57

655 55 9
                                        

Happy reading 🥀🩹

"Arkan..." lirih Kanza memanggil dengan mata yang masih terpejam erat. Tubuh itu terlelap dalam posisi duduk di atas kursi rumah sakit, kepalanya bersandar ke dinding dingin di belakangnya. Sejak beberapa saat lalu, tidurnya tampak gelisah. Meski raga Kanza terdiam, bibirnya terus menggumamkan satu nama yang sama, seolah ia tengah mengejar sosok yang hadir di dalam mimpinya. Dahi anak itu mengernyit halus, napasnya terdengar tidak teratur, menandakan alam tidurnya jauh dari kata tenang.

"Jangan tinggalin gue...gue mohon..." lirih Kanza lagi, masih dengan mata yang tertutup rapat. Nada suaranya terdengar rapuh, nyaris patah. Bersamaan dengan kalimat itu, setetes air mata mengalir dari salah satu sudut matanya, menyusuri pipi tanpa ia sadari. Melihat hal tersebut, Atalaric yang sejak tadi duduk tak jauh darinya langsung menoleh dengan raut wajah cemas. Ia segera mendekat, lalu membangunkan Kanza dengan sentuhan lembut dan penuh kehati-hatian.

"Nak, bangunlah" ujar Atalaric sembari menepuk pelan pipi sang anak beberapa kali. Usahanya akhirnya membuahkan hasil. Kanza membuka mata perlahan, meski tubuhnya sempat tersentak kecil, seolah ia baru saja ditarik kembali dari mimpi yang terlalu dalam.

Melihat reaksi Kanza, Atalaric langsung merasa panik. "maaf, daddy tidak bermaksud untuk mengejutkan mu, Kanza" ucapnya dengan nada penuh penyesalan. Ia lalu menambahkan dengan suara yang sarat kekhawatiran, "Kanza, apakah kau baik-baik saja? Karena sejak tadi daddy selalu mendengar mu selalu menyebut nama Arkan." Sambil berkata demikian, Atalaric mengusap air mata yang masih tersisa di wajah Kanza.

Sentuhan itu membuat Kanza sejenak mematung. Pandangannya terpaku, seolah ia baru menyadari apa yang baru saja terjadi. Beberapa detik kemudian, ia membuyarkan lamunannya dan mengangguk kecil.

"Kanza gapapa" jawabnya dengan suara serak, khas seseorang yang baru terbangun dari tidur. Setelah itu, Kanza memalingkan wajahnya dari Atalaric, berusaha menyembunyikan ekspresi yang sulit ia jelaskan. "daddy, Kanza ke toilet dulu" ucapnya singkat, lalu bangkit dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.

Kanza berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah pelan namun pasti. Kepalanya tertunduk, pandangannya kosong, seakan dunia di sekitarnya tak lagi memiliki arti. Ia tidak memedulikan siapa pun yang melintas hingga akhirnya masuk ke dalam toilet yang kebetulan sedang sepi. Di dalam ruangan itu, Kanza berdiri di depan wastafel dan membasuh wajahnya dengan gerakan yang sedikit tergesa. Air mengalir membasahi kulitnya, sementara dadanya naik turun menahan perasaan yang belum sepenuhnya mereda. Setelahnya, ia menghela napas panjang dan berat.

"Mimpi sialan" gumamnya pelan.

Tadi, ia bermimpi tentang Arkan—tentang sesuatu yang buruk, sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak seolah diremas kuat-kuat. Rasa itu masih tertinggal hingga kini, enggan pergi meski ia telah terbangun. Mimpi tersebut terasa begitu nyata, hingga air mata sempat jatuh tanpa ia sadari saat matanya masih terpejam. Dan justru karena mimpi itulah, kini ketakutan mulai menyusup ke dalam hati Kanza. Ia takut kehilangan. Takut mimpi itu bukan sekadar bunga tidur, melainkan pertanda akan sesuatu yang tak sanggup ia terima.

Dengan cepat, Kanza menggeleng tegas, seolah berusaha menepis pikiran-pikiran buruk yang mulai menguasai benaknya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah mimpi—tidak lebih, tidak kurang—meski jauh di dalam hatinya, rasa cemas itu belum sepenuhnya menghilang.

"Tenangin diri lo, Kanza. Nggak akan ada yang pergi kemana-mana. Mimpi itu cuma nakut-nakutin lo doang. Lo... nggak perlu mikir hal yang aneh-aneh, karena nggak ada yang berhak ambil Arkan dari lo...kecuali Tuhan...?" ucapan terakhirnya terasa mengganjal, seolah kata-kata itu melesat lebih cepat dari kesadarannya sendiri. Kanza pun menggeleng, menolak implikasi dari kalimat yang baru saja tercekat dari mulutnya sendiri.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang