Sepanjang malam, Kanza terlelap dalam pelukan Atalaric. Awalnya, ia memang sempat merasa canggung dan gugup-hanya saja, anak itu berusaha sekuat tenaga untuk menutupi kegugupannya. Ia mencoba bersikap biasa, meskipun jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Keberaniannya untuk lebih dulu memeluk Atalaric menjadi titik awal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan ketika pelukan itu disambut hangat oleh sang ayah, perasaan Kanza perlahan luluh. Ada rasa nyaman yang menenangkan, seolah beban di dadanya ikut menguap.
Atalaric pun tidak hanya berdiam. Ia sempat membisikkan beberapa kata menenangkan-kata-kata sederhana, tapi mengandung kasih sayang yang begitu tulus. Kalimat itu berhasil menembus dinding hati Kanza, membuat anak bungsunya merasa benar-benar aman. Hingga akhirnya, Kanza pun tertidur dengan senyum tipis di wajahnya, masih dalam dekapan ayahnya. Atalaric yang merasakan kehangatan tubuh mungil putranya, ikut terhanyut. Ia pun tertidur di sisi Kanza, tetap menjaga pelukan itu seolah tidak ingin melepaskannya.
Sepanjang malam hingga menjelang fajar, ayah dan anak bungsunya saling berpelukan erat. Waktu terasa begitu singkat, hingga tak terasa cahaya pagi mulai menembus celah jendela, menyinari kamar dengan lembut.
Namun, sebelum Atalaric maupun Kanza benar-benar terbangun, pintu kamar itu perlahan bergerak. Celah kecil terbuka, menyingkap sosok yang diam-diam mengintip dari luar. Arkan.
Mata Arkan itu berbinar bahagia, senyum lebar terukir di wajahnya saat melihat pemandangan indah di depan mata. Hatinya terasa hangat, lega, bahkan bangga, karena rencananya semalam berhasil. "Arkan seneng deh bisa ngeliat mereka deket kayak gini" gumamnya lirih, bibirnya masih melengkung manis.
Namun kebahagiaan kecil itu mendadak terusik ketika sebuah suara muncul dari belakang. "ngapain, dek?"
Arkan sontak terlonjak. Suara itu jelas-Navarro. Arkan buru-buru menutup pintu kamar Kanza rapat-rapat, dadanya langsung berdegup kencang, nyaris meloncat keluar. Ia menoleh dengan wajah panik, seolah baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang terlarang.
"Eh, kak Varo? Kakak ada di sini? Dari kapan?" tanyanya terbata, menatap sang kakak keempat dengan sorot mata penuh gugup. Nada suaranya terdengar jelas menyimpan kepanikan samar, mirip anak kecil yang ketahuan mencuri permen.
Navarro mendekat, keningnya berkerut menampilkan ekspresi penuh tanya. "kakak baru aja dateng. Kenapa emangnya? Kamu kok gugup gitu?"
Arkan buru-buru menggeleng, gerakannya cepat dan ribut, seolah ingin menepis tuduhan itu. "enggak kok! Siapa bilang Arkan gugup? Hehe..." balasnya cepat, walau nada suaranya justru semakin memperjelas bahwa ucapan Navarro barusan benar adanya.
Navarro menatap adiknya itu dengan sorot mata menyipit penuh selidik. Bahkan ia sempat sedikit membungkuk, mencondongkan tubuh ke depan, seolah berusaha menyingkirkan jarak di antara mereka. Tatapan Navarro begitu dalam, seakan-akan hanya dengan menatapnya ia mampu menembus setiap kepura-puraan yang tengah Arkan coba sembunyikan.
"Arkan... kamu-" ucapnya, namun belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, suara Arkan sudah lebih dulu memotong, terdengar tergesa, seperti seseorang yang mencari alasan agar segera lolos dari situasi sulit.
"Ya ampun, Arkan lupa!" seru Arkan tiba-tiba sambil menepuk keningnya sendiri dengan drama yang jelas dibuat-buat.
Navarro sontak mengernyit, keningnya berlipat, ia kembali menegakkan tubuhnya dengan tatapan heran. "lupa apa?" tanyanya penasaran, nadanya datar tapi jelas menyiratkan kecurigaan.
"Arkan lupa kalau kita harus siap-siap buat berangkat ke sekolah!" jawab Arkan cepat, wajahnya dipenuhi senyum lebar seakan ingin menutupi kegugupannya. "kak, ayo sana cepet mandi terus pake seragam. Kalau enggak, nanti kita bisa terlambat."
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Ficção GeralArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
