ARKANZA || 61

633 61 7
                                        

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi kalian yang menjalankan 🤍 Jaga kesehatan, semoga Ramadhan ini membawa banyak hal baik.

•••

"Kalau... kita diam-diam melanggar perintah daddy, lalu memberitahu Kanza tentang kebenaran bahwa Arkan sudah siuman... menurutmu bagaimana, kak?"

Kalimat itu terucap pelan, namun cukup kuat untuk memecahkan kebekuan yang sejak tadi menggantung di antara mereka.

Meski demikian, Shaka tidak segera menjawab. Ia tetap terdiam, seolah menyadari bahwa setiap kata yang akan keluar dari bibirnya bukanlah perkara sederhana. Ada konsekuensi di baliknya—risiko yang tidak bisa dianggap ringan. Karena itu, ia memilih menahan diri, menimbang dengan hati-hati, memastikan tidak ada keputusan yang lahir dari kegelisahan semata.

Rahangnya sempat mengeras samar, menandakan pergulatan yang berlangsung di dalam dirinya. Napasnya tertahan sejenak, sebelum akhirnya ia menghembuskannya perlahan, seolah berusaha meredakan tekanan yang tak kasatmata.

"Entahlah."

Jawaban itu keluar rendah dan jujur.

Ia tidak menolak, namun juga tidak menyetujui. Tidak ada kepastian dalam nada suaranya—hanya kejujuran yang lahir dari kebingungan yang nyata. Untuk pertama kalinya, Shaka merasa tidak benar-benar mengetahui mana yang paling tepat. Ia takut keputusan yang tampak benar justru berakhir melukai, dan pilihan yang dianggap salah malah menjadi satu-satunya jalan yang seharusnya diambil.

Keraguan itu menahannya di tengah-tidak melangkah maju, namun juga tidak mundur.

Mendengar jawaban tersebut, Galen menghela napas berat. Tidak ada bantahan, tidak pula desakan lanjutan. Perlahan, pandangannya kembali bergeser menuju pintu kamar Kanza yang tertutup rapat-diam, sunyi, dan terasa begitu jauh, seolah menyimpan keadaan yang tak mampu mereka jangkau.

•••••🤎🤎🤎•••••

Tengah malam kembali turun, membawa sunyi yang lebih dalam dari sebelumnya. Waktu seakan berjalan lambat, menyeret keheningan panjang yang merambat pelan ke setiap ruang—tanpa suara, tanpa peringatan. Dunia terasa diam, namun di balik diam itu, perasaan yang tak terucap masih terus bergerak.

Di ruang rawat inap VIP, lampu temaram menyinari sosok Arkan yang terlelap di atas ranjang putih. Napasnya teratur, tenang, seolah tubuhnya akhirnya menemukan jeda setelah pertarungan panjang yang melelahkan. Wajahnya tampak damai, seakan beban yang selama ini menekan perlahan mulai terlepas, meski belum sepenuhnya hilang. Di balik kesadarannya yang baru kembali, tubuhnya memilih beristirahat, memulihkan diri dalam diam.

Namun, di tempat yang berbeda, malam tidak membawa ketenangan yang sama.

Di dalam kamar yang gelap dan sunyi, Kanza kembali terlelap di lantai dingin—bukan di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempatnya beristirahat. Tubuhnya meringkuk kecil. Tidak ada selimut yang benar-benar menenangkan, tidak ada kehangatan yang mampu meredakan dingin yang merayap pelan.

Napasnya terdengar tipis. Tidak teratur.

Seolah bahkan dalam tidur pun, hatinya belum benar-benar beristirahat.

Di luar, malam tetap diam—menyimpan dua keadaan yang begitu berbeda. Satu terlelap dalam pemulihan. Satu terperangkap dalam kelelahan yang belum menemukan pulang.

Dan keesokan harinya, cahaya fajar merambat perlahan melalui celah jendela, membawa rona lembut yang belum sepenuhnya hangat, namun cukup menandai bahwa malam telah benar-benar berlalu.

Di ruang inap VIP, sinar pagi jatuh tipis di sisi ranjang, menyentuh wajah Arkan yang masih terlelap, hingga beberapa saat kemudian kelopak matanya bergerak samar.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang