ARKANZA || 36

1.2K 88 18
                                        

Arkan membuka matanya perlahan, merasakan sedikit pergerakan di sampingnya. Ia menyadari bahwa seseorang yang berada di sebelahnya-Kanza-baru saja beranjak dari ranjang. Tak hanya itu, ia juga mendengar suara pintu yang tertutup, meskipun terdengar samar. Perlahan, Arkan mengambil posisi duduk. Ia menatap pintu kamar dengan raut bertanya-tanya.

"Kanza mau pergi ke mana malem-malem begini? Bukannya dia masih sakit?" gumam Arkan.

Karena diliputi rasa penasaran, Arkan akhirnya memutuskan untuk ikut keluar dari kamar. Ia mengikuti langkah Kanza dari kejauhan, sebab langkahnya sendiri begitu pelan dan penuh kehati-hatian. Sepanjang perjalanan, Arkan sibuk menatap sekeliling dengan pandangan waspada. Ada ketakutan yang tergambar jelas di wajahnya, seolah takut jika sewaktu-waktu makhluk halus muncul di sekitarnya. Ia bahkan beberapa kali bergidik ngeri sambil sesekali melirik kanan-kiri dengan tatapan takut.

"Kanza sebenernya mau ke mana sih? Kok dia berani banget keluar kamar gelap-gelapan begini?" gumam Arkan heran. Ia benar-benar tidak mengerti dari mana saudaranya itu mendapatkan keberanian, sebab Kanza terlihat begitu tenang dan santai saat melangkah melewati lorong mansion yang cukup gelap.

Langkah kaki Arkan terus bergerak hingga akhirnya berhenti di halaman belakang mansion. Posisinya tidak terlalu dekat dengan tempat Kanza berada, tetapi dari titik ia berdiri sekarang, Arkan bisa melihat dengan jelas sosok Kanza yang tengah duduk termenung, menatap langit dengan tatapan kosong. Arkan sempat melihat Kanza menyeka air matanya. Pemandangan itu membuatnya hendak menghampiri karena khawatir, tetapi langkahnya langsung terhenti begitu melihat kehadiran Carlos.

"Eh? Kanza kok nangis? Kan-"

"Tuan muda Kanza?" suara Carlos terdengar jelas di telinga Arkan, membuatnya buru-buru bersembunyi. Ia menyembunyikan tubuhnya, namun pandangannya tak pernah lepas dari Kanza dan Carlos. Selain itu, telinganya pun tetap aktif mendengarkan percakapan mereka.

Hingga akhirnya, Arkan mendapatkan satu fakta yang membuatnya terdiam tak percaya. Fakta bahwa selama ini Kanza sering menyendiri di halaman belakang mansion saat larut malam. Sesuatu yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Arkan bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mungkin ia bisa tidak menyadari kebiasaan itu? Ia merasa gagal menjadi seorang saudara. Masalah seperti ini seharusnya ia ketahui lebih dulu. Namun kini, setelah mendengarnya langsung, Arkan mulai mengerti mengapa setiap kali ia berkata bahwa ia sangat mengenal Kanza, Kanza selalu membantah dan mengatakan bahwa Arkan tidak tahu apa pun tentang dirinya. Dan ternyata, itu benar. Ia memang tidak tahu apa-apa.

Kesadaran itu membuat Arkan geram pada dirinya sendiri.

Ia terus mendengarkan percakapan mereka dengan ekspresi datar, tetapi pikirannya mulai berkecamuk. Tatapannya menjadi sulit diartikan. Ia menundukkan kepala, sementara kedua tangannya perlahan mengepal.

•••

"Tuan Atalaric, malam ini saya akan melakukan yang saya bisa untuk membantu tuan muda Kanza. Semoga tuan muda menemukan jalan keluar dari beban yang selama ini tuan muda pikul dalam diam." batin Carlos.

Carlos memperhatikan Kanza, seolah sedang mencari celah untuk membuka pembicaraan baru-obrolan yang mungkin bisa sedikit menggali masa lalu Kanza, namun tanpa terkesan memaksa. Beberapa detik kemudian, Carlos akhirnya membuka suara.

"Tuan muda, apakah itu liontin milik anda yang sempat menghilang?" tanyanya, menatap liontin yang kini tergenggam erat di tangan Kanza.

Kanza menunduk, menatap liontin itu. Perlahan, senyum tipis mengembang di wajahnya disertai anggukan kecil sebagai jawaban. Gerak halus itu tak luput dari perhatian Carlos.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang