"Kalo gue lemah, gue bakal jadi beban. Dan gue gak bisa jadi beban, apalagi buat Arkan." suaranya mulai bergetar, namun matanya tetap tajam memandang dirinya sendiri di balik cermin. "Arkan itu tanggung jawab gue. Gue harus kuat… harus."
Tangannya mengepal di pinggir wastafel, tapi setelah beberapa detik menatap pantulan dirinya, Kanza menarik napas panjang. Ia membasuh wajahnya sekali lagi, menahan rasa mual yang masih tersisa di tenggorokan, lalu mengusap wajahnya perlahan hingga air menetes dari dagunya. Selesai dengan itu, ia membuka pintu kamar mandi perlahan, tapi tidak langsung keluar. Ia menunggu sejenak, memastikan dirinya cukup siap untuk kembali berhadapan dengan semua orang di luar sana—meskipun yang tersisa di kamar saat ini hanya Zavier dan Atalaric.
Di sisi lain, di dalam kamar, Zavier duduk di tepi ranjang, sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi. Wajahnya masih menyimpan kekhawatiran. Ia tahu betul adiknya itu keras kepala, dan sekarang Zavier hanya bisa berharap Kanza benar-benar baik-baik saja di dalam sana.
Sementara itu, Atalaric berdiri tak jauh dari Zavier. Pria itu juga menunggu dengan sabar, menatap kosong ke arah lantai, hingga tiba-tiba suara ponselnya berdering memecah keheningan.
Atalaric segera merogoh sakunya dan melihat layar ponsel. Ada panggilan masuk, dan ia tampak sedikit mengernyit saat melihat nama yang tertera di sana.
"Daddy harus angkat telepon dulu" ucap Atalaric singkat, suaranya tetap tenang seperti biasa.
Zavier hanya mengangguk kecil. "baik, daddy."
Tanpa berkata lebih banyak, Atalaric beranjak menuju pintu kamar, lalu membuka dan menutupnya dengan perlahan, meninggalkan Zavier sendirian di dalam ruangan itu.
Tak lama setelah Atalaric keluar, pintu kamar mandi pun ikut terbuka. Kanza melangkah keluar, wajahnya tampak lebih tenang dibanding sebelumnya. Tidak ada raut panik, tidak ada tatapan sakit—semua terlihat seperti biasa. Hanya saja, di balik ketenangan itu, sebenarnya ia sedang memaksakan diri untuk terlihat kuat.
Langkahnya tegap, seolah tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Padahal napasnya masih sedikit berat, perutnya masih terasa begah, dan tubuhnya belum sepenuhnya stabil. Tapi Kanza tidak peduli. Baginya, yang terpenting adalah jangan sampai orang lain—terutama Zavier—melihat kelemahannya lagi.
Zavier langsung berdiri dari duduknya. "Kanza, kau sudah selesai?"
Kanza mengangguk, bibirnya membentuk senyum tipis. "iya, udah."
Zavier menatap adiknya itu dengan sorot mata yang masih sama: khawatir. Tapi saat melihat Kanza yang tampak biasa saja, ia memilih untuk menahan diri dan tidak langsung melontarkan pertanyaan lanjutan.
"Kalau begitu, minum obatnya." ucap Zavier dengan nada lembut, sembari mengambil beberapa butir obat dari atas nampan. Ia meraih gelas air putih dengan tangan kiri, lalu mengulurkan tangan kanannya yang memegang obat ke arah Kanza.
Kanza menelan salivanya tanpa sadar. Tangannya bergerak sedikit ragu saat hendak menerima obat itu. Gerakan kecil itu tentu saja tidak luput dari pengamatan Zavier.
"Tidak perlu khawatir dan takut, obatnya tidak akan sepahit itu." ujar Zavier, diselingi senyum menenangkan. Ia sengaja berbicara selembut mungkin, berusaha agar Kanza mempercayai perkataannya.
Namun, Kanza malah mendengus samar. "Kanza nggak takut" sahutnya pelan, tapi tetap keras kepala seperti biasa.
Zavier menghela napas berat, menahan diri agar tidak mengomel. Ternyata memang ada orang yang lebih keras kepala dari dirinya, batinnya sambil menggeleng pelan.
Setelah itu, Zavier menyerahkan obat ke tangan Kanza. Namun saat bersamaan, Kanza langsung meraih gelas air putih yang ada di sampingnya—gerakan itu cepat, seakan tidak memberi kesempatan Zavier untuk membantu lebih jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
