Pagi itu, sinar matahari yang menyusup lembut lewat sela tirai kamar hanya mampu menyentuh permukaan. Tidak sampai masuk ke dalam hati Arkan yang masih tertinggal di malam sebelumnya.
Matanya terbuka perlahan, terasa berat. Kelopak yang sedikit bengkak menjadi bukti diam-diam dari tangisan yang mengalir tanpa suara malam tadi. Nafasnya tertahan sesaat, seperti berusaha menekan kembali gelombang emosi yang belum tuntas. Tapi ia hanya diam, menatap langit-langit kamar, kosong.
Bibirnya mencoba tersenyum tipis, meski hatinya belum benar-benar pulih. Arkan tahu, pagi tetap datang dan ia harus bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Ia bangkit, melangkah dengan tubuh sedikit lemas menuju kamar mandi, menyibak dingin yang membalut tubuhnya. Wajahnya disiram air, berkali-kali, seolah berharap luka semalam ikut hanyut bersamanya.
Setelah selesai mengenakan seragam sekolahnya, Arkan berdiri sejenak di depan kaca. Tangannya merapikan rambut, menatap bayangannya sendiri. Senyumnya mulai dibentuk. Tipis. Rapi. Palsu tapi penuh usaha.
Lalu ia turun ke bawah.
Langkahnya ringan tapi ada beban yang menggantung di matanya. Saat tiba di ujung anak tangga, ia berhenti. Di bawah sana, keluarga Moonstone sudah berkumpul di meja makan. Minus Kanza. Kursi anak itu masih kosong dan Arkan tidak kaget akan hal itu.
Saudara kembarnya itu memang selalu datang terakhir ketika sarapan. Ia tahu betul, Kanza memang paling sulit dibangunkan pagi-pagi-seolah anak itu selalu bergadang semalaman sehingga membuat dirinya sulit dibangunkan dan selalu tidur di kelas.
Arkan menghela napas pelan, lalu berjalan ke arah meja makan, menyapa satu per satu keluarga nya dengan senyum tulus yang berusaha ia bangun sejak membuka mata pagi tadi.
Semuanya menatap Arkan seperti biasa, tidak merasa ada yang aneh maupun janggal. Namun tidak dengan Atalaric yang terlihat menyadari sesuatu yang aneh dan salah di dalam diri Arkan. Ia merasa senyuman yang ditunjukkan oleh anaknya itu hanya sebuah topeng untuk menutupi kesedihan yang Atalaric sendiri pun tidak tahu alasan dibalik kesedihannya itu. Tapi, untuk saat ini Atalaric akan memilih diam-tak ingin melemparkan pertanyaan apapun karena takut merusak suasana. Jadi, ia pun memilih untuk mengusap lembut rambut anaknya itu dengan tatapan hangat nan tulus seolah-olah ia tengah berbicara lewat tindakannya barusan kalau, semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir.
Arkan tersentak kaget meski hanya sedikit. Tatapan nya ia arahkan pada Atalaric. Meskipun ia tidak tahu alasan mengapa ayahnya itu tiba-tiba saja mengusapnya penuh kelembutan, namun ia bisa merasakan kasih sayang yang sedang diberikan oleh daddy nya itu. Arkan bisa merasakan ketulusan dari Atalaric membuat nya mengangguk, meski tak tahu pasti alasan dibalik tindakan itu.
Tapi satu hal yang pasti, tindakan itu mampu membuat perasaan Arkan menghangat dan sedikit membaik dari yang sebelumnya.
Langkah kaki Kanza terdengar menuruni anak tangga, sedikit lamban namun tetap dengan gaya khasnya yang malas-malasan. Setibanya di area ruang makan, semua kepala sempat menoleh menyambut kedatangannya.
Navarro menjadi yang pertama bersuara, dengan senyum lembut seperti biasa. "selamat pagi, Kanza" sapanya.
Belum sempat menyahut, suara Galen pun terdengar membuat Kanza meliriknya. "akhirnya bangun juga" celetuk Galen diakhiri kekehan kecil.
Atalaric hanya menatap dengan senyum tipis dari ujung meja, cukup memperhatikan interaksi anak-anaknya. Dan Arkan? Ia pun juga sama dengan reaksi Atalaric-diam dan menunjukkan senyuman.
Zavier menambahkan dengan suara beratnya, "Sudah kubilang kau akan terlambat kalau tidur terlalu larut."
Kanza menjawab seadanya sambil menarik kursi. "Iya, iya. Yang penting Kanza udah bangun, kan." Nada suaranya terdengar datar, meski tak sepenuhnya malas. Namun, matanya sempat melirik ke arah Shaka-yang sejak tadi tidak menoleh apalagi membuka suara. Ia mendengus samar, memutar bola matanya malas ketika mengingat kejadian tadi malam, dimana Shaka mengusirnya dari ruang kerja pemuda itu. Sungguh, Kanza masih kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Genel KurguArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
