ARKANZA || 46

852 46 4
                                        

Happy reading 🌟

Seluruh karyawan di perusahaan milik Atalaric tampak terkejut ketika melihat Arkan menarik tangan kembarannya dengan tergesa. Dua bocah itu melangkah cepat tanpa henti hingga akhirnya tiba di ruang kerja sang ayah. Begitu memasuki ruangan, Arkan segera menyuruh Kanza untuk duduk di sofa. Tatapan matanya yang tegas seolah memberi peringatan keras pada saudara kembarnya itu.

"Ingat, Kanza nggak boleh kabur-kaburan lagi! Sekarang duduk anteng di sana! Jangan ke mana-mana!" ujar Arkan dengan nada garang, membuat Kanza mendengus kesal.

"Ck, iya, bawel!" sahut Kanza singkat. Meski begitu, ia tetap menurut tanpa membantah. Dengan santai, ia melanjutkan menikmati lollipop-nya, sementara Arkan hanya bisa menghela napas berat sebelum akhirnya duduk di samping kembarannya itu.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Arkan terus memperhatikan Kanza tanpa berkata apa pun hingga perlahan matanya terasa berat. Rasa kantuk mulai menyerang. Mungkin karena kelelahan mencari Kanza tadi, tenaganya terkuras dan tubuhnya pun terasa lemah. Tanpa disadari, Arkan mulai terlelap. Kepalanya sedikit miring ke kanan, namun tangan Kanza dengan sigap menahan dan mengubah arah kepala itu agar bersandar ke bahu kirinya.

Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan tidur Arkan. Ia tahu betul, kembarannya itu pasti sangat kelelahan. Dalam hati, Kanza menyadari bahwa tindakannya kabur diam-diam tadi adalah kesalahan besar. Ia menyesal dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi.

Kanza membiarkan kepala Arkan bersandar di pundaknya, sementara dirinya masih asyik menikmati manisnya lollipop. Namun seiring waktu, rasa kantuk pun ikut menyerangnya. Perlahan, matanya mulai terpejam, dan lollipop yang dipegangnya terlepas begitu saja dari genggaman.

Kini, kedua anak kembar identik itu telah tertidur pulas. Arkan bersandar di pundak Kanza, sementara Kanza menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Wajah mereka tampak damai, dan napas keduanya teratur, menciptakan pemandangan yang begitu menenangkan.

Tak lama kemudian, Atalaric dan Carlos memasuki ruangan. Keduanya langsung terhenti di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan senyum hangat.

"Lihatlah, kedua putra kembarku sedang tertidur," ucap Atalaric lirih sambil menatap Carlos.

"Mereka sangat menggemaskan, Tuan," balas Carlos lembut.

"Itu benar," timpal Atalaric cepat. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di benaknya. Ia perlahan mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kamera, lalu mengambil foto si kembar yang tertidur dengan damai. Setelah itu, ia segera mengirimkan foto tersebut kepada anak-anaknya yang lain.

Tak butuh waktu lama hingga ponsel Atalaric bergetar oleh pesan-pesan balasan dari para putranya. Reaksi mereka hampir serempak—penuh rasa sayang dan kekaguman pada dua bocah kecil itu. Senyum tipis terukir di wajah Atalaric. Hatinya terasa hangat melihat kedamaian yang kini menghiasi ruang kerjanya.

•••

Malam itu, setelah seluruh keluarga Moonstone menikmati makan malam bersama, suasana mansion terasa hangat dan damai. Mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga, tempat berbagai aktivitas kecil berlangsung dalam nuansa kebersamaan. Sang ayah duduk dengan tenang di sofa single, sementara anak-anaknya duduk di sofa panjang yang tampak nyaman untuk diduduki. Sebagian dari mereka terlibat dalam percakapan ringan namun tetap hangat dan akrab. Tawa kecil sesekali terdengar, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang nyaman.

Sementara itu, di sisi lain, si kembar sedang melakukan kegiatan yang bertolak belakang satu sama lain. Arkan terlihat serius menunduk di atas meja, sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan esok hari. Pulpen nya bergerak cepat di atas kertas, sementara alisnya sedikit berkerut menandakan konsentrasi tinggi. Sedangkan Kanza justru bersandar santai di sofa dengan posisi setengah rebah. Sebuah toples berisi camilan terletak di pangkuannya, dan tangannya bergerak santai mengambil isi toples tanpa henti. Matanya terpaku pada layar televisi yang menayangkan acara favoritnya, tanpa sedikit pun rasa khawatir soal tugas sekolah. Ia tampak benar-benar menikmati malam itu tanpa beban, seolah PR bukanlah hal penting dalam hidupnya.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang