Hai, aku update nih!
jangan lupa vote dan komennya ya :)
"Udah abis" ucap Kanza setelah menuntaskan suapan terakhirnya. Piring di hadapannya kini bersih tak bersisa, seakan semua masakan yang Arkan buat telah benar-benar ia nikmati.
Arkan sontak tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Ada rasa bangga yang hangat menjalari dadanya, seolah usahanya tidak sia-sia. Bahkan tanpa sadar, ia bertepuk tangan kecil penuh semangat lalu meraih pipi Kanza, menariknya ke kanan dan ke kiri dengan gemas.
"Yeay, Kanza hebat! Makanannya dihabisin! Arkan seneng banget liatnya," ucap Arkan dengan suara riang. Baginya, bukan sekedar soal masakan yang ia buat. Lebih dari itu, ia bahagia karena Kanza benar-benar menghargai dan tidak menyia-nyiakan apa yang sudah ia sajikan.
Setelah puas mengekspresikan kegembiraannya, Arkan pun mengingatkan sang adik akan pesan dari ayah mereka. "karena sekarang Kanza udah selesai makan… ayo kita balik ke kamar. Kanza kan masih perlu banyak istirahat," ajak Arkan lembut, seraya bersiap berdiri dari kursinya.
Namun yang ia dapat justru gelengan kepala pelan dari Kanza. Anak itu tidak bergerak dari kursinya, bahkan menatap Arkan dengan sorot mata menolak.
"Gue nggak mau ke kamar." ucap Kanza singkat.
Arkan sontak mengernyitkan dahi. Ia kembali duduk di samping Kanza, bingung dengan sikap adiknya. "loh, kenapa nggak mau? Tadi kan daddy udah bilang, abis selesai makan Kanza harus ke kamar buat istirahat," tanyanya lembut, penuh kebingungan.
Kanza tidak segera menjawab. Hening sejenak menyelimuti, membuat Arkan refleks mengangkat tangannya untuk mengusap lembut rambut sang adik. Wajahnya kini terselip kekhawatiran yang jelas.
"Kanza kenapa? Kok diem aja? Kanza pusing? Atau apa? Coba ngomong sama Arkan," ucapnya dengan suara pelan, menatap lekat-lekat kedua mata kembarannya itu.
Kanza akhirnya mengembuskan napas perlahan. Ia menyingkirkan tangan Arkan dari rambutnya dengan gerakan halus, lalu menjawab lirih, "gue nggak kenapa-napa. Gue… cuma bosen. Bosen selalu ada di dalem kamar."
Ada nada jenuh yang jelas dalam ucapannya. Bagi Kanza, kamar yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru terasa pengap, sempit, dan membatasi ruang geraknya. Ia butuh suasana berbeda. Ia butuh udara segar.
"Ar… gue mau ke halaman. Boleh nggak?" tanyanya kemudian, kali ini dengan tatapan mata yang sedikit berbinar. Ada harapan kecil di sana, membuat Arkan sempat tertegun.
"Ha? Umm… itu…" Arkan mendadak kehilangan kata. Ucapannya menggantung, seolah ia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Hatinya ingin menolak mentah-mentah—karena ia terlalu takut Kanza drop jika terlalu banyak beraktivitas. Namun di sisi lain, ia pun tidak tega menyakiti perasaan adiknya dengan menolak permintaan sederhana itu. Apalagi, wajah Kanza kini tampak begitu memelas, seolah benar-benar memohon.
Arkan menggigit bibir bawahnya, gelisah. Dilema itu menekan dadanya kuat-kuat.
"Ar, lo kok bengong? Gue nanya, boleh nggak kalo gue ke sana? Sebentar aja kok, nggak lama. Gue janji. Gue cuma mau cari udara seger," bujuk Kanza sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut, berusaha meyakinkan kembarannya.
Arkan akhirnya menarik napas berat, pasrah. Ia menatap Kanza dalam-dalam sebelum mengangguk pelan. "iya deh… boleh. Arkan izinin Kanza ke halaman. Tapi jangan lama-lama ya," ujarnya tegas namun tetap penuh kelembutan.
Mendengar persetujuan itu, wajah Kanza seketika berubah sumringah. Senyum kecil muncul di bibirnya, dan ia mengangguk cepat dengan mata berbinar.
Arkan ikut tersenyum lebar ketika melihat binar kebahagiaan terpancar dari wajah Kanza seolah pemandangan itu terasa begitu berharga. Akhirnya, kedua bocah kembar itu melangkah bersamaan menuju halaman belakang mansion.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
