Tiga hari berlalu sejak kejadian itu.
Kediaman keluarga Moonstone perlahan kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Para penghuni mansion disibukkan oleh aktivitas masing-masing, sementara para pelayan tetap hilir mudik menjalankan tugas mereka sebagaimana hari-hari sebelumnya. Dari luar, semuanya tampak berjalan normal. Namun, di balik ketenangan yang menyelimuti rumah besar itu, kegelisahan masih diam-diam bertahan. Selama tiga hari terakhir, Kanza tidak pernah sekali pun keluar dari kamarnya. Pintu kamar itu hampir selalu tertutup rapat. Makanan dan minuman yang diantarkan tetap diterimanya, tetapi hanya setelah orang yang membawanya benar-benar meninggalkan depan pintu. Tidak ada sapaan, tidak ada balasan, bahkan sekadar suara dari balik kamar pun nyaris tidak pernah terdengar. Seolah-olah, Kanza sengaja mengasingkan dirinya dari dunia luar, bukan semata-mata karena masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, melainkan juga karena belum memiliki keberanian untuk kembali berhadapan dengan keluarganya setelah kejadian beberapa hari sebelumnya.
Di antara semua anggota keluarga, Arkan menjadi orang yang paling sering datang ke depan pintu kamar itu. Hampir setiap hari ia meluangkan waktu untuk duduk bersandar di depan pintu, mengetuk pelan, lalu mengajak Kanza berbicara meski tak pernah memperoleh jawaban. Terkadang ia hanya menanyakan keadaan adiknya, terkadang pula ia bercerita tentang hal-hal sederhana dengan harapan Kanza mau mendengarkan dari balik pintu. Arkan tidak pernah memaksa. Baginya, mengetahui bahwa makanan dan minuman yang diantarkan selalu diambil sudah cukup menjadi tanda bahwa Kanza masih dalam keadaan baik. Meski demikian, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya sejak malam itu, tentang kehangatan yang sempat menggenggam tangannya ketika ia tertidur. Sudah berkali-kali Arkan mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah bagian dari mimpi buruk yang bercampur dengan imajinasinya. Namun, setiap kali mengingat bagaimana kegelisahannya tiba-tiba mereda setelah sentuhan itu hadir, keyakinannya kembali goyah. Tanpa sadar, ia beberapa kali menatap tangan kanannya sendiri sembari bertanya dalam hati, apakah malam itu benar-benar ada seseorang yang menggenggam tangannya... atau semua itu hanyalah perasaannya semata.
Di sisi lain, rasa penasaran juga belum meninggalkan benak Shaka, Galen, dan Navarro. Sejak malam ketika Zavier meminta mereka untuk tidak memperkeruh keadaan, ketiganya memang tidak lagi berusaha memaksa Atalaric maupun Zavier memberikan penjelasan mengenai kondisi Kanza. Mereka memilih menghormati keputusan tersebut. Namun, bukan berarti rasa ingin tahu mereka ikut menghilang. Setiap kali melintasi lorong menuju kamar Kanza, pandangan mereka hampir selalu tanpa sadar berhenti pada pintu yang masih tertutup rapat itu. Mereka terus berharap suatu hari pintu tersebut kembali terbuka dan Kanza muncul seperti biasanya. Sayangnya, hingga tiga hari berlalu, harapan itu masih belum menjadi kenyataan.
Sementara itu, di balik pintu yang terus tertutup tersebut, Kanza tengah duduk di lantai dengan punggung bersandar pada sisi ranjang. Salah satu kakinya diselonjorkan lurus ke depan, sedangkan kaki yang lain ditekuk hingga menjadi tempat bertumpunya salah satu lengan. Di tangan itu, sebuah liontin kecil masih berada dalam genggamannya. Jemarinya sesekali mengusap permukaan benda kecil tersebut dengan gerakan pelan, seolah hanya benda itu yang mampu memberinya sedikit ketenangan di tengah kekacauan yang masih memenuhi pikirannya. Tatapannya lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun, sementara bibirnya perlahan bergerak mengucapkan kalimat yang sama berulang kali.
"...gue pasti bisa."
Gumaman itu terdengar lirih, nyaris tak bersuara.
"...gue harus bisa."
Kalimat itu kembali menghilang bersama keheningan kamar.
Kanza memejamkan mata selama beberapa saat, berusaha mengatur napasnya yang masih terasa berat. Tidak ada seorang pun yang mendengar gumaman tersebut. Hanya dirinya yang mengetahui bahwa gumaman itu terus ia ulang, seolah meyakinkan dirinya bahwa cepat atau lambat ia harus keluar dari kamar itu dan kembali menghadapi kenyataan.
Sementara itu, di bagian lain mansion, Atalaric berdiri tegap di dalam kamar pribadinya yang hanya diterangi semburat cahaya lampu tidur. Pencahayaan yang redup membuat ruangan itu dipenuhi ketenangan yang nyaris tanpa suara. Di hadapannya, sebuah foto berukuran besar terpajang rapi di dinding. Potret seorang wanita berparas lembut dengan senyum hangat seolah masih menyambut siapa pun yang memandangnya.
Wanita itu adalah Althea.
Tatapan Atalaric terus bertahan pada foto tersebut. Kedua tangannya berada di dalam saku celana, sementara raut wajahnya tetap tenang meski sorot matanya menyimpan kerinduan yang telah lama ia biasakan untuk dipendam seorang diri.
Sudah cukup lama ia berdiri di sana.
Menit demi menit berlalu tanpa satu patah kata pun keluar dari bibirnya. Tatapannya tetap tertuju pada senyum Althea di balik bingkai kaca yang membungkus foto itu dengan rapi, seolah waktu berhenti berputar setiap kali dirinya berdiri di hadapan wanita yang paling ia cintai.
Di tengah keheningan itu, pantulan samar seseorang perlahan muncul pada permukaan kaca bingkai foto tersebut.
Atalaric tidak langsung menoleh.
Sorot matanya tetap tertuju pada wajah Althea, sementara pantulan sosok yang berdiri di belakangnya terlihat semakin jelas.
Seseorang berdiri tenang di ambang pintu.
Tanpa perlu menoleh, Atalaric sudah mengetahui siapa pemilik bayangan tersebut.
"Masuklah, Vier."
Pintu kamar terbuka lebih lebar.
Zavier melangkah masuk dengan tenang sebelum berhenti beberapa langkah di belakang ayahnya.
"Semua persiapan untuk besok sudah selesai, daddy."
Suaranya terdengar pelan, seolah tidak ingin mengganggu keheningan yang sejak tadi memenuhi ruangan.
"Mobil sudah disiapkan, bunga juga sudah tiba. Semua kebutuhan untuk besok sudah dipastikan tidak ada yang terlewat."
Esok hari merupakan hari yang selalu memiliki arti khusus bagi keluarga Moonstone.
Hari peringatan kepergian Althea.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh persiapan telah dilakukan sejak jauh-jauh hari agar keluarga dapat berziarah bersama tanpa ada kekurangan sedikit pun. Sejak pagi, para pelayan menjalankan tugas mereka seperti biasa sembari memastikan seluruh keperluan telah tersedia, sedangkan para bodyguard telah menerima jadwal pengamanan untuk keberangkatan keluarga keesokan harinya. Tidak ada suasana yang berlebihan ataupun ramai. Semua dilakukan dalam keheningan yang tertata sebagai bentuk penghormatan kepada wanita yang semasa hidupnya begitu dicintai oleh seluruh penghuni mansion.
Mendengar laporan putra sulungnya, Atalaric hanya menganggukkan kepala pelan.
"Baik."
Jawabannya singkat.
Namun, Zavier mengetahui bahwa satu kata itu sudah cukup menjadi tanda bahwa ayahnya memahami seluruh persiapan yang telah dilakukan.
Setelah itu, keheningan kembali mengambil alih.
Tak satu pun dari mereka segera membuka percakapan baru.
Atalaric tetap memandangi foto mendiang istrinya, sementara Zavier berdiri tenang di tempatnya, seolah memahami bahwa ada kerinduan yang tidak dapat digantikan oleh kata-kata.
Hingga beberapa saat kemudian, suara Atalaric memecah kesunyian bersamaan dengan kepalanya yang sedikit menoleh ke arah Zavier.
"...Bagaimana dengan Kanza?"
Pertanyaan itu terdengar begitu pelan.
"Apakah dia masih belum mau keluar dari kamarnya?"
Zavier menundukkan pandangannya sejenak sebelum menggeleng kecil.
"Belum, daddy."
Jawaban singkat itu kembali menghadirkan keheningan.
Yang tampak pada wajah Atalaric bukanlah kemarahan ataupun kekecewaan. Sorot matanya hanya memperlihatkan kekhawatiran seorang ayah terhadap putranya. Bersamaan dengan itu, rasa bersalah dan penyesalan yang telah menghantuinya selama beberapa hari terakhir belum juga benar-benar memudar. Ia pun mengembuskan napas panjang sebelum kembali menganggukkan kepala pelan.
"...Tidak apa."
"Biarkan dia mengambil waktunya sendiri."
Kalimat itu keluar dengan tenang.
Zavier terdiam mendengar ucapan itu. Setiap kali mengingat kondisi Kanza, perasaan bersalah juga selalu kembali memenuhi benaknya. Tanpa sadar, jemarinya mengepal. Sesaat kemudian, ia berbalik dan melangkah keluar tanpa mengatakan apa pun kepada sang ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
