ARKANZA || 31

1.1K 74 4
                                        

Happy reading 🍒

Sepulang sekolah tadi, baik Arkan maupun Kanza langsung memilih untuk mengunci diri di kamar masing-masing. Keduanya sama-sama bungkam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sejak insiden di koridor sekolah siang tadi, mereka sepakat untuk saling menjauh—atau mungkin lebih tepatnya, membiarkan jarak itu terbentuk begitu saja.

Arkan melempar tasnya sembarangan, lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur dengan mata yang kembali basah. Isakannya terdengar samar, terselip di antara bantal yang ia peluk erat. Dadanya terasa sesak, seperti ada beban berat yang menekan hingga membuatnya sulit bernapas. Sepertinya hanya dengan menangis ia bisa sedikit meredakan perasaannya.

Pikirannya kembali dipenuhi dengan ucapan dan peristiwa yang terjadi beberapa menit lalu. Ia masih tidak menyangka, bagaimana mungkin dirinya bisa membentak Kanza—padahal itu di luar kendalinya. Ia tidak pernah berniat melukai Kanza, apalagi dengan nada tinggi nya. Namun kenyataannya, ia melakukannya juga.

Arkan tahu, ledakan emosinya tadi bukan tanpa sebab. Ia sudah terlalu lama memendam rasa frustasi karena Kanza terus-menerus menolaknya. Setiap usaha yang ia lakukan, selalu berakhir dengan kegagalan. Setiap kali ia mencoba mendekat, Kanza semakin menjauh. Padahal, pagi tadi Arkan sempat merasa optimis—merasa ada celah kecil yang membuatnya yakin semuanya akan membaik. Namun kenyataannya, semua itu hanyalah harapan semu.

Hubungan mereka justru semakin runyam. Jarak di antara keduanya kian melebar, seperti jurang yang tak bisa dijembatani. Arkan bahkan sempat berkata pada Kanza, bahwa ia menyerah—bahwa ia tidak akan mengganggunya lagi. Kalimat itu keluar begitu saja, spontan, tanpa sempat ia pikirkan terlebih dahulu. Padahal sebelumnya, ia sama sekali tidak berniat mengatakan hal seperti itu.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Segalanya sudah terlanjur. Ia tahu, ia tidak bisa menarik kembali ucapannya.

Mungkin memang ini yang terbaik, pikir Arkan. Mungkin ia memang harus berhenti memaksa. Ia sadar, sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berujung baik. Ia tidak bisa memaksa Kanza untuk kembali jika memang adiknya itu sudah tidak ingin lagi bersamanya.

Tapi tetap saja—kenapa rasanya begitu menyesakkan?

Kenapa hatinya terasa lebih hancur ketika mencoba melepaskan?

Masih dalam kondisi menangis, perlahan Arkan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menyeka sisa air mata di pipinya dengan kasar, meskipun tangisnya belum sepenuhnya reda. Pandangannya menyapu seluruh sudut kamar dengan sorot mata yang mengandung kekesalan. Ia marah, meskipun tidak sepenuhnya tahu amarah itu ditujukan kepada siapa. Kepada Kanza? Kepada takdir? Atau justru kepada dirinya sendiri? Yang jelas, saat ini Arkan membutuhkan pelampiasan untuk menyalurkan rasa frustasi dan sesaknya.

"Kenapa semuanya jadi kayak gini, sih?! Kenapa?! Arkan pikir, hubungan Arkan sama Kanza bisa kayak dulu lagi. Tapi kenapa semuanya malah berubah?! Kenapa jarak Arkan sama Kanza semakin jauh?! Kenapa?!" luapnya, suaranya meninggi sembari melempar bantal ke sembarang arah.

Lemparan itu tak terarah, hanya sekedar mewakili amukan hati yang tak tahu lagi harus dikemanakan. Setelah itu, kepalanya refleks menoleh ke arah boneka beruang yang tergeletak di sudut ranjang. Tatapannya menempel pada benda itu, seolah boneka itu memiliki jawaban atas kekacauan yang sedang ia alami.

Namun, yang ada justru sebaliknya. Pandangannya pada boneka itu malah kembali membawa ingatan tentang kejadian di koridor sekolah tadi. Kenangan itu langsung menyesak di dada, membuat seluruh rasa sakitnya kembali mengalir tanpa permisi.

"Kanza?! Kenapa Kanza robek kertasnya?!" pekik Arkan tak percaya, menatap serpihan kertas itu jatuh perlahan ke lantai.

"Udah, stop!!" bentak Kanza. "berhenti kasih gue surat apapun, Arkan!"

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang