Happy New Year, semuanya! Semoga 2026 membawa kebahagiaan, kesuksesan, dan banyak momen berkesan
yaa 🤍✨
Happy reading ❤️🩹
Beberapa menit sebelumnya…
"Semoga saja daddy bisa menemukan keberadaan Kanza" ucap Galen dengan nada penuh harap. Pandangannya menyapu lorong rumah sakit yang panjang, seolah berharap sosok adiknya muncul dari salah satu sudut.
Ucapan itu segera disambut anggukan dari yang lain. Mereka semua memiliki keinginan yang sama—tidak ingin kehilangan siapa pun lagi, tidak ingin melihat satu anggota keluarga pun terluka.
"Ya, semoga saja. Karena aku benar-benar tidak bisa membayangkan kalau sampai Kanza terluka juga, sama seperti Arkan" ujar Zavier lirih. Nada suaranya terdengar tertahan, seolah ia berusaha keras menjaga emosinya agar tidak meluap.
Kalimat itu justru membuat Navarro kembali menundukkan kepala. Perasaan bersalah yang sejak tadi ia pendam kembali menyeruak, menekan dadanya hingga sulit bernapas. Ia mengepalkan kedua tangannya sebelum akhirnya memberanikan diri bersuara.
"Sekali lagi maafin Navarro, kak. Ini semuanya gara-gara Navarro" ucapnya dengan suara pelan, penuh penyesalan. Sikapnya yang merunduk membuat kakak-kakaknya menoleh hampir bersamaan.
Permintaan maaf itu segera ditanggapi Galen. Tanpa nada keras, namun dengan ketegasan yang jelas, ia berkata, "berhentilah meminta maaf. Apa yang sudah terjadi, maka biarlah. Sekarang kita hanya perlu mendoakan kesembuhan serta keselamatan untuk Arkan."
Belum sempat suasana benar-benar mereda setelah kalimat itu, pintu IGD tiba-tiba terbuka. Sosok seorang dokter keluar dari dalam ruangan, dan Shaka menjadi orang pertama yang menyadarinya. Tanpa ragu, ia segera melangkah mendekat, didorong oleh kecemasan yang sejak tadi menyesakkan dadanya.
"Dokter, bagaimana keadaan Arkan? Semuanya sudah baik-baik saja kan sekarang?" tanya Shaka cepat. Tatapannya terpaku pada wajah sang dokter, sementara saudara-saudaranya yang baru menyadari kehadiran itu segera ikut menghampiri.
Dokter tersebut menatap satu per satu wajah di hadapannya—wajah-wajah yang dipenuhi harap, takut, dan kecemasan yang nyaris tak tersamar. Ia menarik napas singkat sebelum akhirnya membuka suara, menyampaikan informasi yang telah dipersiapkannya.
"Untuk pasien atas nama Arkan, kondisinya saat ini masih dalam keadaan kritis. Setelah ini, ia akan segera kami pindahkan ke ruang ICU untuk pemantauan intensif."
Ucapan itu jatuh begitu saja di tengah lorong IGD, namun dampaknya terasa jauh lebih keras daripada yang terdengar. Wajah-wajah yang sejak tadi tegang kini membeku seketika. Keheningan singkat menyusul, seolah masing-masing dari mereka membutuhkan waktu untuk mencerna makna dari kata kritis yang baru saja diucapkan.
Reaksi itu tentu tidak luput dari pengamatan sang dokter. Dengan pengalaman yang cukup panjang menghadapi keluarga pasien, ia memahami bahwa informasi tersebut tidak mudah diterima begitu saja. Karena itu, sebelum salah satu dari mereka melontarkan pertanyaan atau protes dengan emosi yang belum terkendali, ia kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang sedikit lebih berat.
"Dan untuk tingkat kesadarannya" lanjut dokter itu, berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, "saat ini kami belum dapat memastikan. Kami akan terus melakukan observasi dan penanganan sesuai prosedur yang berlaku."
Setelah itu, ia terdiam. Bukan karena kehabisan kata, melainkan sengaja memberi ruang—ruang bagi keluarga untuk bereaksi, bertanya, atau meluapkan kebingungan yang wajar mereka rasakan.
Namun keheningan itu tidak berlangsung lama.
"Informasi apa yang kau sampaikan itu, dokter?!" suara Zavier tiba-tiba meninggi, jelas terdorong oleh keterkejutan dan kepanikan yang tidak sempat ia saring. "bukankah Arkan sudah mendapatkan donor darah? Lalu mengapa sekarang kondisinya masih tetap kritis?! Apakah kau sedang mencoba menipu kami?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Ficção GeralArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
