Happy reading 🧡
Beberapa suara derap langkah kaki terdengar tergesa-gesa dan terburu-buru di sepanjang koridor rumah sakit. Wajah-wajah yang melintas menunjukkan kecemasan yang begitu jelas; ada yang menahan napas karena panik, ada pula yang bahkan tampak pucat sejak pertama kali mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa saudara kembarnya.
Beberapa menit sebelumnya, ketika Zavier menyampaikan informasi mengenai kecelakaan Arkan, seluruh keluarga seketika terdiam, terpaku, seolah dunia runtuh dalam sekejap. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap menerima kabar itu. Raut wajah mereka dipenuhi keterkejutan yang begitu dalam, beberapa masih terlihat tidak percaya, dan hampir seluruhnya diselimuti rasa sesak, gelisah, serta kekhawatiran yang menusuk hingga ke dada.
Awalnya, mereka bahkan sepakat untuk tidak langsung memberi tahu Kanza, khawatir si bungsu akan kehilangan kendali jika mendengar kabar seburuk itu. Namun keputusan tersebut tidak sempat terlaksana, karena Kanza telah mendengarnya lebih dulu. Sesaat setelah kabar itu mencapai telinganya, Kanza sempat mematung di tempat. Ia berusaha mencerna perkataan itu perlahan, berharap—meski berharapnya terasa sia-sia—bahwa apa yang ia dengar hanyalah ilusi, sekadar salah paham, atau setidaknya berita yang tidak benar-benar terjadi. Namun kenyataan terlalu jelas, terlalu nyata, dan terlalu menohok untuk ia tolak.
Tak butuh waktu lama bagi Kanza untuk benar-benar tersadar. Dengan suara bergetar namun tegas, ia langsung meminta keluarganya untuk segera mengantarkan dirinya ke rumah sakit tempat Arkan dirawat. Mereka pun bergegas menempuh perjalanan dengan hati yang sama-sama dicekam ketakutan. Dan setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, keluarga Moonstone akhirnya tiba di rumah sakit tempat Navarro membawa Arkan.
"Navarro!!" suara berat Atalaric menggema di koridor, membuat Navarro—yang sejak tadi duduk di lantai rumah sakit yang dingin—mendongak perlahan. Kedua matanya sembab, jelas menunjukkan ia baru saja menangis cukup lama.
"Daddy?" gumam Navarro pelan sebelum ia berdiri dan buru-buru menyeka air mata yang masih mengalir di pipinya. Begitu ia bangkit, seluruh keluarga dapat melihat kondisi pakaian dan kedua tangannya yang berlumuran darah. Dan jelas—itu bukan darah miliknya. Itu darah Arkan.
Pemandangan tersebut membuat langkah mereka serentak terhenti. Napas seolah membeku di tenggorokan. Tidak ada yang menyangka bahwa kondisi Arkan sedemikian parahnya, hingga begitu banyak darah menodai tubuh Navarro. Namun berbeda dari yang lain, Kanza tidak menyadari hal itu. Perhatian si bungsu terpaku hanya pada satu titik—pintu IGD yang tertutup rapat.
Dengan langkah terhuyung dan mata berkaca-kaca, Kanza mendekati pintu itu. Nafasnya naik turun, dadanya sesak oleh ketakutan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. Ia menatap pintu tersebut seolah dengan itu ia bisa melihat Arkan di baliknya. Perlahan, kedua tangannya terangkat dan menyentuh permukaan pintu yang dingin, sementara jari-jarinya bergetar hebat.
"Arkan…" lirihnya pelan, suaranya pecah di udara. Ia masih tidak percaya bahwa saudara kembarnya kini berada di dalam ruangan itu—bertarung dengan rasa sakit yang bahkan tidak bisa ia bayangkan.
Di saat perasaannya masih sesak dan pikirannya berputar tanpa arah, Kanza berusaha sekuat tenaga menerima kenyataan yang baru saja menghantam dirinya. Namun sebelum ia sempat mengatur napas, telinganya menangkap percakapan lirih dari arah belakang—suara Navarro dan keluarganya yang lain. Suara itu begitu tipis, hampir tenggelam oleh tekanan berat di dadanya, tetapi cukup untuk membuat kepalanya perlahan menoleh, seolah tubuhnya bergerak sendiri meski hatinya belum siap.
"Navarro… darah… mengapa banyak darah di pakaianmu?" tanya Galen pelan. Matanya terpaku pada noda merah gelap yang mengering di pakaian adiknya. "apakah darah itu milik Arkan?" lanjutnya lagi, meski ia sudah tahu jawaban paling pahitnya. Ada nada ragu, tapi itu lebih karena harapan kosong—bukan karena ia benar-benar percaya jawabannya akan berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
