ARKANZA || 30

1.4K 71 11
                                        

"Gue gak butuh musuh. Karena isi kepala gue sendiri udah cukup buat bikin gue ragu, ngehancurin gue dari dalam, dan nyeret gue balik ke titik paling gelap."

- Arlano Kanza Moonstone -

.
.
.

Di sebuah kantin sekolah yang cukup ramai dipadati para siswa, tampak Navarro sedang duduk satu meja dengan dua adik kembarnya. Tatapannya tertuju pada keduanya yang sibuk saling bertukar surat, seolah-olah tengah bermain menjadi sahabat pena. Sambil mengamati, dahi Navarro sedikit mengernyit. Ada tanda tanya besar di kepalanya—sejak kapan Kanza mulai membuka diri lagi kepada Arkan?

Bukankah sebelumnya Kanza masih enggan bicara, bahkan sekedar melirik pun sulit? Tapi kini, mereka saling bertukar surat seperti anak-anak yang sedang berlatih komunikasi rahasia. Memang benar, Navarro turut merasa lega karena Kanza tak lagi sekeras sebelumnya. Tapi perubahan ini begitu tiba-tiba, dan bagi Navarro, segala hal yang mendadak selalu menyimpan sesuatu di baliknya.

Rasa ingin tahunya pun akhirnya terucap.

"Dek, kalian lagi ngapain sih? Kok abang liat dari tadi kalian main surat-suratan terus?" Navarro bertanya sambil mencondongkan tubuh ke meja. Nada suaranya terdengar penasaran, bukan menuntut, lebih seperti ingin ikut memahami dunia kecil yang sedang dibangun oleh dua adik kembarnya.

Arkan yang tadinya tengah sibuk menulis di atas selembar kertas, langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah sang kakak, tersenyum tipis, lalu menjawab dengan suara tenang dan polos, "iya, kak... kita lagi main surat-suratan. Soalnya cuma cara ini aja yang bikin Arkan sama Kanza tetap bisa terhubung... walaupun tanpa suara."

Ucapannya sederhana, namun tulus. Seolah tak ingin membebani siapa pun dengan penjelasan panjang, tapi cukup memberi tahu bahwa inilah satu-satunya cara ia bisa tetap dekat dengan Kanza, meski tak lagi melalui suara.

Ia sempat melirik ke arah Kanza—dan mendapati adik kembarnya itu sedang menatapnya. Namun tak butuh waktu lama hingga tatapan itu segera beralih, seperti biasa. Tapi detik singkat itu saja sudah cukup membuat Arkan terkekeh kecil. Ada celah, pikirnya. Sekecil apa pun itu, tetap berarti.

Navarro hanya bisa terdiam sesaat. Ia menyandarkan punggung ke kursinya, lalu mengangguk pelan. Dunia Arkan dan Kanza memang seperti memiliki bahasanya sendiri, penuh isyarat dan lapisan makna yang tak mudah ditebak. Namun melihat keduanya duduk berhadapan dan saling terhubung, walau lewat selembar kertas, cukup membuat Navarro merasa lega.

"Oh gitu..." gumamnya sambil mengangguk-angguk kecil. Lalu, dengan nada yang sedikit lebih lembut, ia tersenyum dan berkata, "tapi, dek... boleh istirahat dulu gak main surat-suratannya? Soalnya ini waktunya makan, sayang kalau makanannya keburu dingin. Nanti kalau udah selesai, kalian bisa lanjut lagi, ya?"

Nada kakaknya tak mengandung amarah atau tekanan. Justru terdengar seperti pengingat hangat dari seseorang yang benar-benar peduli—seolah mengajak keduanya kembali menjejak, agar tidak terlalu larut dalam kebersamaan kecil yang manis itu sampai lupa menyentuh makanan yang mulai mendingin di atas meja.

Arkan langsung mengangguk patuh. Tak ada bantahan, tak juga keluhan. Ia hanya menaruh kembali pulpen yang sempat digenggamnya, lalu mulai merapikan posisinya menghadap makanan. Begitu pula dengan Kanza. Tanpa sepatah kata pun, anak itu mulai menyibukkan diri, seakan memilih diam sebagai cara menunjukkan bahwa ia mendengar. Bahwa ia ikut.

Melihat pemandangan itu, Navarro kembali tersenyum—hangat dan lega. Ada sesuatu yang perlahan mencair, bahkan jika tak ada yang mengakuinya secara langsung.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang