Sarapan pagi di villa itu berlangsung dalam keheningan yang begitu pekat hingga dentingan sendok terasa seperti suara paling nyaring di ruangan. Tidak ada satu pun yang berbicara, meskipun semua memahami bahwa ada banyak hal yang seharusnya dibahas—terutama kejadian semalam ketika Kanza menjatuhkan gelas dan tubuhnya bergetar tanpa alasan yang jelas. Meski demikian, tidak seorang pun memiliki keberanian untuk memulai percakapan, seolah setiap kata yang terlontar dapat memicu sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Zavier akhirnya mengambil alih. Tatapannya berpindah ke arah Kanza, dan setelah menarik napas kecil, ia memanggil dengan suara tenang yang memecah keheningan.
"Kanza."
Panggilan itu membuat pemilik nama menoleh perlahan, alisnya sedikit terangkat. Gerakannya tampak biasa, tetapi mata keluarga lainnya serentak mengarah ke mereka. Sejak tadi, sebagian besar hanya mencuri pandang, memperhatikan dari balik hening. Kini perhatian mereka tersatukan pada satu titik.
Di antara mereka, Arkan adalah yang paling bereaksi. Ia, yang baru hendak menyuapkan makanan, mendadak berhenti. Sendoknya menggantung di udara, seakan waktu terhenti pada dirinya seorang. Ketidaknyamanan tampak begitu jelas di wajahnya sampai siapapun dapat membaca bahwa nama Kanza menjadi pemicu yang tidak ia harapkan.
"Kenapa, bang?" tanya Kanza, merespons panggilan itu dengan tenang. Suaranya datar, sopan, tetapi sorot matanya tampak sayu—bekas dari peristiwa semalam yang belum sepenuhnya hilang.
Zavier menatap adiknya itu dengan kelembutan khas seorang kakak sulung yang memikul banyak kekhawatiran. "soal semalam… apakah kau—"
Ucapan itu terputus oleh dentingan nyaring. Arkan meletakkan sendoknya ke piring sedikit terlalu keras, membuat suara logam tersebut memotong percakapan dengan kasar. Semua kepala otomatis menoleh—termasuk Zavier, jelas terhenti bukan hanya karena suaranya, tetapi karena makna di balik tindakan itu.
Arkan menoleh ke Kanza dan memaksakan senyum tipis. "Kanza udah selesai belum makan nya? Kalau udah, ayo kita ke kamar. Kita kan belum beres-beres buat nanti siang."
Nada suaranya terdengar ringan, tetapi tangan yang tiba-tiba menyentuh tangan Kanza menyampaikan hal lain—sebuah sinyal yang begitu jelas bagi kaka-kakaknya: Arkan tidak ingin pembahasan itu dilanjutkan. Bukan hanya mengalihkan, tetapi benar-benar menghentikan.
Kanza yang menerima sentuhan itu hanya dapat terdiam sesaat. Ia menatap tangan Arkan di atas tangannya, bingung dengan urgensi yang tidak ia pahami. Ia mencoba membaca ekspresi kembarannya, tetapi Arkan tidak memberinya kesempatan untuk bertanya. Pada akhirnya, Kanza mengangguk kecil—lebih karena mengikuti alur, bukan karena ia memahami alasan Arkan.
Arkan berdiri lebih cepat daripada biasanya. Ia menggenggam pergelangan tangan Kanza, memberikan tarikan lembut yang tegas. Setelah menatap Kanza sekilas, ia mengarahkan pandangannya kepada seluruh keluarga.
"Daddy, kak, Arkan sama Kanza ke kamar duluan." ucapnya singkat, sopan, tetapi penuh maksud.
Tanpa menunggu balasan, ia segera pergi sambil menarik Kanza agar tidak tertinggal. Kanza menurut, meski di wajahnya jelas ada kebingungan yang tertahan.
Begitu langkah pasangan kembar itu benar-benar hilang dari pandangan, suasana di meja makan berubah. Keheningan itu bukan lagi kosong—melainkan berat oleh sesuatu yang tidak diucapkan.
Galen mengerutkan dahi. "mengapa Arkan terlihat seperti tidak ingin kita membahas kejadian semalam pada Kanza?"
Zavier, yang sejak awal menyadari ada yang tidak wajar dari reaksi Arkan, hanya menggeleng kecil. "entahlah, kakak juga tidak tahu. Yang jelas, kakak semakin merasa tidak ada yang beres."
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiction GénéraleArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
