ARKANZA || 55

698 63 7
                                        

Haii, aku update!
maaf yaaa udah nunggu lama :)
selamat membaca semuanya ♡♡

•••

"Apakah kau yakin, nak?" tanya sang dokter memastikan, menatap Kanza dengan sorot mata teduh yang sarat kehati-hatian. Pertanyaan itu dijawab Kanza dengan sebuah anggukan singkat, tanpa ragu sedikit pun. Wajahnya tetap tak menunjukkan perubahan berarti—tenang, nyaris tanpa ekspresi. Namun siapa pun yang menatap lebih saksama dapat melihat sesuatu yang retak di balik ketenangan itu. Pada sorot matanya terpantul kelelahan yang dalam, seolah anak itu sedang memikul beban yang jauh lebih berat daripada yang mampu ditanggung seusianya. Kondisi fisik dan mentalnya jelas tidak sedang baik-baik saja, meskipun ia berusaha menampilkannya seolah demikian.

Menerima anggukan tersebut, sang dokter sempat mengalihkan pandangannya sejenak ke arah anggota keluarga Moonstone yang lain. Lirikan itu singkat, nyaris tak kentara, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang dan mengangguk pelan, seakan meneguhkan keputusannya sendiri.

"Baik, jika kau sudah siap, ikut saya ke ruang pengambilan darah." ucapannya terdengar tenang, lalu ia mulai melangkah lebih dahulu.

Kanza hendak mengikuti langkah dokter itu ketika sebuah tangan tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Sentuhan tersebut membuat langkah Kanza terhenti, dan ia menoleh perlahan. Atalaric berdiri di sana, wajahnya memperlihatkan kegamangan yang tak berhasil ia sembunyikan.

"Kanza, apakah tidak sebaiknya kita menunggu—"

Kalimat itu terputus begitu saja, dipotong oleh suara Kanza yang terdengar datar namun tajam. "tunggu apa? Tunggu ajal ngejemput Arkan?"

Tatapan Kanza tertuju lurus pada Atalaric, dingin dan tak bergelombang. Seketika Atalaric menggeleng cepat, seolah berusaha menepis makna dari kalimat yang barusan ia dengar.

"Tidak, nak. Mengapa kau mengatakan hal buruk seperti itu? Daddy hanya—"

Namun Atalaric tak sempat menyelesaikan ucapannya. Dengan gerakan singkat, Kanza melepaskan genggaman tangan itu dari pergelangan tangannya. Tidak ada kemarahan yang ditunjukkan, tidak pula penjelasan yang diberikan. Setelah terbebas, Kanza kembali melangkah mengikuti sang dokter tanpa menoleh lagi, seolah percakapan itu tak pernah terjadi.

Atalaric tertinggal di tempatnya, tubuhnya kaku seakan membatu. Pandangannya terpaku pada punggung Kanza yang kian menjauh, sementara matanya perlahan berkaca-kaca. Ada sesuatu yang mencengkeram dadanya, rasa sesak yang datang tiba-tiba dan sulit dijelaskan. Ia tak menyangka kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut anak yang selama ini ia khawatirkan keadaannya.

Padahal niat Atalaric bukanlah untuk menghalangi, apalagi meremehkan keadaan Arkan. Kekhawatirannya semata tertuju pada Kanza—pada kondisi anak itu yang tampak rapuh meski berusaha berdiri tegak. Ia hanya ingin memastikan bahwa Kanza tidak memaksakan diri lebih dari yang seharusnya. Namun balasan yang ia terima terdengar seolah-olah kepeduliannya dipahami sebagai ketidakpedulian terhadap Arkan, dan pemikiran itu menyisakan luka yang tak terucap.

Melihat Atalaric yang masih terdiam di tempatnya, Zavier melangkah mendekat. Ia menyentuh salah satu pundak ayahnya dengan hati-hati, seakan memberi ruang sebelum akhirnya berbicara. "tidak perlu bersedih, daddy. Apa yang baru saja diucapkan oleh Kanza tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Kanza berkata seperti tadi karena Kanza terlalu khawatir saja pada Arkan dan dia juga tidak benar-benar ingin melukai perasaan daddy. Percayalah."

Ucapan itu terdengar lembut namun mantap. Atalaric menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk singkat. Ia tahu, di balik sikap dingin Kanza, ada ketakutan dan kepedulian yang sama besarnya—dan pada saat yang sama, ia juga menyadari bahwa perasaannya sendiri tidak sepenuhnya keliru. Keduanya hanya berdiri di sisi yang berbeda dari kegelisahan yang sama.

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang