ARKANZA || 20

1.7K 76 4
                                        

~ Happy reading ~

"Kanza, ayo cepet!" Arkan menarik tangan sang
kembaran dari mobil, mengajaknya untuk bergegas
masuk ke dalam mansion guna memberitahu kan hasil
ujian matematika Kanza tadi.

Kanza yang ditarik hanya bisa pasrah sembari
berkata, "iya-iya sabar" ujarnya terdengar lembut di
telinga Arkan.

Nyatanya bukan Kanza saja yang ditarik oleh
Arkan, melainkan Navarro juga. Arkan sengaja ikut
menarik Navarro karena ia tidak ingin kakaknya itu sampai
ketinggalan berita yang menggembirakan ini.

"Ayo kak Varo juga cepetan jalannya"

"Ini sebenernya ada apa si dek? kenapa kamu
keliatan antusias banget dari tadi? kakak jadi makin
gak sabar nih dengernya" celetuk Navarro, setia mengikuti
langkah sang adik yang terus membawanya ke dalam.

"Sabar ya, sebentar lagi kak Varo juga bakal
tau ko" Arkan melepaskan genggamannya dari
Navarro serta Kanza tepat setelah ketiga nya berhenti
di ruang tengah—dimana Atalaric, Zavier dan Galen berada
saat ini.

Awalnya ayah enam anak itu tengah duduk
bersantai di ruang tengah sembari menikmati
secangkir kopi hangat dan Zavier duduk di sofa single
membaca koran. Sedangkan Galen sibuk mengotak-atik
laptopnya dengan wajah cukup serius.

Tapi, karena melihat kehadiran ketiga orang
itu atensi mereka semuanya pun jadi teralihkan. Mereka
tidak lagi fokus pada kegiatan mereka masing-masing.

"Putra-putra daddy sudah kembali? wah,
tunggu sebentar, sepertinya ada yang tidak biasa
dari wajah Arkan dan Kanza. Kalian berdua nampak
berseri-seri seperti baru memenangkan undian. Ada apa
ini? coba duduk di samping daddy dan ceritakan apa yang
sudah membuat kedua putra daddy ini sangat bahagia" ujar
Atalaric lembut, menyuruh si kembar duduk disebelahnya.

"Ayo Kanza kita duduk" bisik Arkan yang
diangguki Kanza meski anggukan itu terlihat cukup
samar karena entah mengapa anak itu mulai diselimuti
rasa gugup dan sedikit canggung.

Setelah Kanza duduk di sisi kiri Atalaric,
Arkan langsung duduk di sisi kanan sang ayah,
masih dengan raut wajah cerah penuh semangat.

Sejak mereka sampai di mansion, Arkan
terus menahan diri, menunggu waktu yang tepat
agar Kanza bisa memberi tahu kabar baik itu sendiri. Tapi
sekarang, ketika mereka semua berkumpul di ruang tengah,
kesabaran Arkan sudah mencapai batasnya.

Zavier duduk tenang di sofa single, seperti
biasa dengan postur tegak dan ekspresi datarnya
yang sulit ditebak. Navarro berada di lengan sofa yang
sama, menyandarkan tubuh dengan santai sambil melirik adiknya dari sudut mata.

Galen, yang tadinya masih sibuk dengan laptop
di pangkuan, kini menoleh begitu melihat Arkan duduk.
Suasana ruangan pun perlahan berubah—tidak ada yang
bicara, tapi semua pandangan mulai mengarah pada Arkan
dan Kanza, menyadari ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Arkan menoleh cepat ke arah Kanza,
sorot matanya berbinar penuh dorongan.
Ia menggigit bibir bawahnya sebentar, seperti
menahan desakan antusias yang hampir tumpah
dari mulutnya. Tangannya bahkan sempat menepuk pelan
lutut Kanza, seolah menyuruh sang kembaran untuk segera
bicara.

Dari gerakan serta sorot mata Arkan, Kanza
bisa mengartikan kalau anak itu seolah tengah
berkata, "ayo Kanza ngomong, jangan diem. Kanza
harus kasih tau ke yang lain tentang nilai ujian tadi"

TWINS || ARKANZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang