Happy reading 🌟
Langkah Arkan dan Kanza terhenti tepat setelah keduanya melangkah masuk ke dalam kamar. Genggaman tangan mereka masih erat, seakan menjadi satu-satunya hal yang menghubungkan keduanya di tengah hening malam itu. Arkan berdiri di sisi Kanza yang menunduk, tatapannya hanya terpusat pada jemari mereka yang saling bertaut. Nafas Kanza terdengar berat-entah karena sisa demam yang belum reda, atau karena beban pikiran yang terus menekan kepalanya.
"Kanza" panggil Arkan lembut, nyaris seperti bisikan. Namun Kanza tetap diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia bahkan tidak berusaha menjawab, hanya terus menatap genggaman tangan mereka, seakan belum sepenuhnya percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.
Menyadari diamnya sang adik, Arkan menoleh. Pandangannya jatuh pada wajah Kanza, lalu bergeser mengikuti arah tatapan adiknya yang masih terpaku pada jemari mereka. Senyum hangat perlahan terbit di wajah Arkan, paham bahwa sejak tadi Kanza belum sekali pun melepaskan pandangannya dari genggaman itu.
"Mau sampai kapan Kanza ngeliatin genggaman kita terus? Bukannya Kanza harus tidur lagi, ya?" ucap Arkan dengan nada menggoda. Kanza sontak mendongak, menatapnya, lalu perlahan melepaskan genggaman itu. Meski begitu, ada rasa enggan yang samar di wajahnya-seolah ia masih ingin mempertahankan sentuhan itu lebih lama.
Arkan tetap tersenyum. Ia lalu meraih pergelangan tangan Kanza, menariknya dengan gerakan lembut, namun Kanza belum juga melangkah. Ia tetap berdiri di tempat, diam tak bersuara.
"Kanza kenapa diem aja? Ayo sini ikut Arkan" ajak Arkan dengan suara tenang.
"Mau kemana?" tanya Kanza, enggan beranjak sebelum tahu tujuan mereka.
Arkan hanya memberi isyarat dengan jari di depan bibirnya, memintanya untuk mengecilkan suara. "sttt... jangan keras-keras, Kanza. Takutnya daddy kebangun. Kasian, seharian ini daddy udah capek" bisik Arkan.
Kanza spontan menoleh ke arah sofa. Di sana, Atalaric masih terlelap, wajahnya terlihat damai dalam tidur. Baru saat itu Kanza sadar, ia sama sekali lupa bahwa pria itu ada di ruangan yang sama.
Kanza menatap lekat wajah Atalaric yang tampak damai dalam tidurnya, sementara Arkan kembali menarik lembut pergelangan tangannya. Perlahan, Kanza mulai melangkah, meskipun pandangannya tak pernah lepas dari sosok ayah angkatnya itu. Arkan menuntunnya menuju tepi kasur, lalu menekan kedua bahu Kanza dengan sentuhan hati-hati, memaksanya untuk duduk tanpa paksaan.
Setelah Kanza terduduk, Arkan kembali bersuara. "sekarang Kanza tidur lagi, ya. Jangan terlalu banyak pikiran, jangan inget-inget apa yang udah lewat" ucapnya pelan, suaranya tenang namun tegas. "anggap aja semuanya udah beres, udah nggak ada yang harus Kanza pikirin. Mulai dari sekarang, kita jalanin lagi dari awal. Nggak usah takut, nggak usah ragu. Ada Arkan di sini. Lupain semuanya, okey?"
Kanza menunduk, hatinya masih diliputi keraguan. Sulit baginya untuk benar-benar melepaskan masa lalu dan memulai hidup dari awal. Ada rasa tidak benar yang mengganjal, ketakutan yang membungkus pikirannya rapat-rapat. Pelan, ia menggeleng. Gerakan itu tak luput dari pandangan Arkan.
"Ar, kayaknya ini nggak bener. Gue... masih ngerasa nggak pantes buat mulai kehidupan baru, apalagi dapet kasih sayang. Gue nggak cocok dapetin itu semua. Gue nggak bisa..." lirihnya.
Arkan menggeleng pelan, jelas tak setuju dengan kata-kata Kanza. Ia menunduk sedikit, berusaha menangkap tatapan adiknya. "liat, Kanza" ujarnya sambil menunjuk ke arah sofa. "daddy sampai ketiduran di sini cuma buat jagain Kanza. Daddy nggak tidur di kamarnya dan lebih pilih tidur di sofa-yang Arkan yakin nggak akan nyaman-tapi daddy tetep ngelakuin hal itu cuma mau pastiin Kanza nggak sendirian."
Tatapan Kanza otomatis bergeser ke arah Atalaric lagi. Wajah pria itu terlihat damai, namun terselip kelelahan yang tak sepenuhnya tersembunyi. Meski begitu, ada ketenangan yang tetap memancar.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS || ARKANZA
Fiksi UmumArkan dan Kanza. Dua anak kembar identik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Yang satu penuh kasih, yang satu penuh luka. Tapi satu hal yang tak pernah goyah adalah ikatan batin di antara mereka. Setelah kehilangan kedua orangtua dalam...
